RADAR TULUNGAGUNG – Anak muda juga harus turut melestarikan warisan budaya lokal. Hal ini yang dilakukan 170 mahasiswa Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) yang mementaskan tarian khas Tulungagung, reog kendang.
Keplakan kendang berpadu gerak serempak memenuhi area pementasan di UBhi Tulungagung. Sebanyak 170 mahasiswa menari reog kendang dengan penuh energi dan kesungguhan. Bukan sekadar tampil, mereka sedang merayakan proses belajar sekaligus merawat warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Pementasan bertajuk “Harmoni Budaya Lokal, Semarakkan Semangat Global” ini merupakan ujian akhir semester yang dikemas dalam bentuk pementasan dan pameran karya seni mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tentang budaya lokal. Dilaksanakan pada Selasa (13/1) di area kampus UBhi Tulungagung, Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, penampilan melibatkan mahasiswa semester satu dan tiga yang menampilkan hasil pembelajaran seni rupa, kerajinan tangan, serta seni lokal khas daerah.
Namun, lebih dari sekadar ujian akademik, pementasan ini menjadi ruang aktualisasi nyata. Para mahasiswa tak hanya belajar di kelas, tetapi mengalami langsung proses estetik dengan merasakan, memahami, lalu menampilkan seni sebagai bagian dari identitas budaya.
Dosen Seni Budaya UBhi Tulungagung, Ammy Aulia Renata Anny menjelaskan, pementasan ini dirancang untuk memberi pengalaman yang utuh bagi mahasiswa sebagai calon pendidik. “Ini adalah ujian akhir semester. Semester satu untuk mata kuliah seni rupa dan kerajinan tangan, sementara semester tiga untuk mata kuliah reog kendang atau seni lokal khas daerah. Tujuannya memberi pengalaman estetik, tidak hanya teori di kelas,” ujarnya.
Menurut dia, pemahaman budaya lokal menjadi bekal penting bagi calon guru sekolah dasar. Pembelajaran saat ini didorong berbasis budaya dan seni lokal agar pendidikan tidak tercerabut dari akar daerahnya. “Harapannya, mereka kelak bisa ikut melestarikan dan meregenerasikan budaya ini kepada murid-muridnya di sekolah,” tambahnya.
Pemilihan reog kendang bukan tanpa alasan. Kesenian khas Tulungagung ini memiliki dua unsur utama sekaligus yaitu musikal dan gerak. Kombinasi tersebut dinilai sangat bermanfaat, terutama dalam pendidikan anak. “Reog kendang melatih kemampuan ritmis sekaligus motorik halus dan kasar. Ini sangat baik untuk anak-anak,” jelasnya.
Selain itu, reog kendang merupakan seni yang ikonik dan khas Tulungagung. Berbeda dengan kesenian lain yang juga berkembang di daerah lain, reog kendang memiliki identitas lokal yang kuat.
Bahkan, Tulungagung rutin menggelar festival reog kendang tingkat pelajar, khususnya jenjang sekolah dasar dan menengah pertama. “Dengan pembelajaran ini, lulusan PGSD diharapkan siap menjawab tantangan ketika nanti mengajar. Mereka tidak asing dengan seni lokal, bahkan mampu mengimplementasikannya,” katanya.
Di tengah berkembangnya variasi reog kendang modern, pembelajaran ini juga berupaya mengembalikan mahasiswa pada pakem dasar. Penari tidak hanya bergerak, tetapi juga memahami dan memainkan unsur musikalnya. “Bentuk asli reog kendang itu ada dua unsur yang harus dikuasai, ritmis dan gerak. Kami ingin mahasiswa mengenal dasarnya terlebih dahulu sebelum mengembangkan,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi proses belajar yang berkesan. Bryan Dwiki, 20, mahasiswa semester 3 asal Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, mengaku baru pertama kali mendalami reog kendang secara serius. “Ini pengalaman baru. Lebih dari dua bulan belajar di mata kuliah seni tari reog kendang. Tujuannya jelas, melestarikan budaya, apalagi nanti kalau sudah jadi guru,” katanya.
Sementara Rizky Andrian, 20, asal Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, mengungkap tantangan yang ia hadapi selama latihan. Khususnya pola lantai dan menghafal gerakan. "Tapi setelah bisa, rasanya plong. Apalagi setiap gerakan ternyata punya makna,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Muqorobbin Sakti dari Desa Gesikan, Kecamatan Pakel. Dia menyebut pementasan ini bukan hanya soal tari, melainkan juga pembentukan mental. “Seru. Melatih mental tampil di depan umum. Saya bangga dengan kreativitas budaya lokal Tulungagung,” katanya.
Ketika ratusan mahasiswa menari dalam satu irama, reog kendang tidak hanya dipentaskan, tetapi juga diwariskan. Dari ruang kampus, budaya lokal menemukan regenerasinya. Bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk terus dihidupkan, diajarkan, dan diimplementasikan dalam dunia pendidikan.
Editor : Sandy Sri Yuwana