TULUNGAGUNG - Tulungagung memiliki sejarah panjang dalam proses Islamisasi di wilayah Jawa Timur bagian selatan. Salah satu titik paling penting dalam perjalanan tersebut adalah Desa Tawangsari, sebuah kawasan di sebelah utara pusat kota Tulungagung yang sejak abad ke-18 dikenal sebagai pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Peran strategis desa ini tidak dapat dilepaskan dari sosok Kiai Abu Mansur, ulama sekaligus tokoh sentral dalam perkembangan peradaban Islam di Tulungagung.
Tawangsari sebagai Desa Perdikan
Pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, Desa Tawangsari ditetapkan sebagai desa perdikan, yakni wilayah yang dibebaskan dari kewajiban pajak. Status istimewa ini diberikan sebagai bentuk balas jasa kepada Kiai Abu Mansur, yang turut membantu Mangkubumi dalam perjuangannya meraih tahta Mataram.
Penetapan desa perdikan ini didasarkan pada kekancingan atau piagam resmi kerajaan. Tujuan utamanya bukan semata-mata administratif, melainkan untuk menjadikan Tawangsari sebagai pusat pendidikan Islam di wilayah Mancanegara Wetan, kawasan timur kekuasaan Mataram.
Masjid Jami Tawangsari, Saksi Bisu Islamisasi
Proses Islamisasi di Tawangsari ditandai dengan berdirinya Masjid Jami Tawangsari, salah satu masjid tertua di Kabupaten Tulungagung. Masjid ini dibangun sekitar abad ke-18 Masehi oleh Kiai Abu Mansur dan memiliki ciri khas arsitektur tradisional Jawa-Islam.
Bangunan masjid beratap tumpang dengan serambi yang memanjang dan lebar, mencerminkan fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan pendidikan. Di sekitar kawasan masjid terdapat berbagai peninggalan sejarah, mulai dari gapura, kompleks makam di sisi barat masjid, hingga petilasan Kiai Abu Mansur dan para sesepuh yang berperan dalam penyebaran Islam.
Dari Padepokan hingga Pesantren
Masjid Jami Tawangsari menjadi pusat lahirnya sistem pendidikan Islam tradisional yang dikenal sebagai padepokan. Pada masa awal, masjid berfungsi sebagai ruang khusus bagi para pencari ilmu untuk berguru dan memperdalam ajaran agama Islam, termasuk ilmu keagamaan dan kanuragan.
Seiring perkembangan zaman, sistem padepokan ini berevolusi. Ibarat tunas yang tumbuh menjadi tanaman utuh, padepokan berkembang menjadi pondok pesantren dan madrasah dengan sistem pendidikan yang lebih terstruktur, tanpa kehilangan jati diri sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter santri.
Madrasah dan Pondok Pesantren Tawangsari
Dalam perkembangannya, pendidikan Islam di Tawangsari terbagi ke dalam dua jalur utama. Madrasah menerapkan sistem pembelajaran bertingkat dengan kurikulum terstruktur dan evaluasi di setiap akhir semester. Sementara itu, pondok pesantren Al-Mansur tetap mempertahankan sistem tradisional, terbuka bagi siapa pun yang ingin memperdalam ilmu agama secara menyeluruh.
Pada masa lalu, para santri yang datang ke Tawangsari tidak dipungut biaya. Mereka mengabdi, membantu kegiatan padepokan, sekaligus menimba ilmu. Pola pendidikan berbasis pengabdian ini menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter dan spiritualitas santri.
Warisan Peradaban Islam yang Terus Hidup
Peran Desa Tawangsari dalam perkembangan Islam di Tulungagung tidak berhenti pada masa Kiai Abu Mansur saja. Kepemimpinan dan nilai-nilai yang beliau tanamkan terus diwariskan oleh generasi penerusnya. Tawangsari tumbuh layaknya benih yang menjelma menjadi pohon rindang, dengan pengaruh yang menyebar ke berbagai wilayah di Tulungagung.
Sebagai desa perdikan yang sejak awal didedikasikan untuk pendidikan Islam, Tawangsari hingga kini tetap konsisten menjadi pusat pembelajaran, dakwah, dan pengembangan nilai-nilai keislaman. Semangat tersebut terus hidup, tertanam dari generasi ke generasi, menjadikan Tawangsari sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah Islam di Tulungagung.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya