Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menguak Sejarah dan Mitos Candi Penampihan Tulungagung, Candi Tertua Peninggalan Mataram Kuno yang Masih Disakralkan

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 15 Januari 2026 | 20:00 WIB

Mengungkap sejarah dan mitos Candi Penampihan Tulungagung, candi tertua peninggalan Mataram Kuno yang hingga kini masih disakralkan.
Mengungkap sejarah dan mitos Candi Penampihan Tulungagung, candi tertua peninggalan Mataram Kuno yang hingga kini masih disakralkan.

RADAR TULUNGAGUNG – Nama Candi Penampihan Tulungagung kembali menarik perhatian publik. Situs bersejarah yang berada di Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung ini bukan hanya dikenal sebagai candi tertua di daerah tersebut, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah panjang, tradisi spiritual, hingga mitos yang masih dipercaya masyarakat hingga kini.

Berdasarkan penelusuran sejarah, Candi Penampihan Tulungagung diperkirakan dibangun pada tahun 820 Saka atau sekitar abad ke-9 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Hal ini menjadikannya sebagai salah satu peninggalan arkeologis paling awal di wilayah Tulungagung. Keberadaan candi ini sekaligus menegaskan peran penting kawasan tersebut dalam perkembangan peradaban Jawa kuno.

Dibangun Sejak Era Mataram Kuno

Hendrian, juru pelihara Candi Penampihan yang telah mengabdi selama 19 tahun, menjelaskan bahwa candi ini memiliki bentuk unik berupa bangunan berteras atau berundak.

Baca Juga: Cara Cek Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan via Aplikasi GIMO, Mudah, Cepat, dan Bisa Dilakukan Kapan Saja dari HP

Struktur tersebut terdiri dari beberapa teras yang tersusun dari bawah ke atas, menghadap ke arah timur dan barat.

“Candi Penampihan ini peninggalan Mataram Kuno. Setelah itu masih digunakan oleh kerajaan-kerajaan berikutnya, seperti Kediri, Singosari, hingga Majapahit,” ujar Hendrian.

Menurutnya, Candi Penampihan mengalami setidaknya empat periode penggunaan oleh kerajaan yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa situs tersebut memiliki nilai strategis dan spiritual yang berkelanjutan lintas zaman.

Berfungsi sebagai Tempat Pemujaan

Secara fungsi, Candi Penampihan sejak awal dibangun sebagai tempat pemujaan atau peribadatan.

Hal tersebut diperkuat oleh temuan prasasti yang menyebut kawasan ini sebagai sebuah mandala, yang berarti tempat suci.

Baca Juga: Cara Cek Saldo JHT di Aplikasi JMO 2026, Begini Langkah Mudahnya Lewat HP Tanpa ke Kantor BPJS

“Dari prasasti yang ada, disebutkan bahwa ini adalah mandala. Artinya, memang tempat ibadah, bukan bangunan biasa,” jelas Hendrian.

Hingga saat ini, fungsi religius tersebut masih bertahan. Candi Penampihan masih sering dikunjungi oleh peziarah yang melakukan sembahyang atau ritual keagamaan, terutama pada hari-hari tertentu yang dianggap sakral.

Prasasti dan Benda Bersejarah

Sayangnya, sebagian besar prasasti asli Candi Penampihan kini tidak lagi berada di lokasi.

Dari tujuh lempeng prasasti tembaga yang pernah ditemukan, saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Di area candi hanya tersisa satu prasasti batu yang menjadi penanda penting sejarah situs tersebut.

Material bangunan candi sendiri didominasi oleh batu andesit dan batu putih, yang umum digunakan pada masa Mataram Kuno.

Pemilihan material ini juga memperkuat dugaan usia tua Candi Penampihan dibandingkan situs lain di Tulungagung.

Baca Juga: Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan Lewat HP, Panduan Lengkap JMO yang Jarang Diketahui Peserta

Cerita Rakyat dan Asal-usul Nama

Selain sejarah resmi, Candi Penampihan Tulungagung juga lekat dengan cerita rakyat.

Salah satu kisah yang paling dikenal adalah legenda tentang seorang pembesar dari Kerajaan Wengker (Ponorogo) yang melamar Putri Kediri, Dewi Kilisuci.

Lamaran tersebut ditolak, dan sang pembesar kemudian membangun sebuah candi dalam kondisi patah hati.

Bangunan itu disebut Candi Asmarabangun, yang oleh masyarakat setempat diyakini memiliki keterkaitan dengan Candi Penampihan.

Tradisi Ritual Tahunan

Setiap tanggal 1 Suro, masyarakat Desa Geger dan sekitarnya rutin menggelar ritual adat di kompleks Candi Penampihan.

Ritual ini menjadi agenda tahunan sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur dan penghormatan terhadap warisan budaya.

Baca Juga: PPPK Kementerian HAM 2025 Resmi Dibuka, Semua Jurusan Bisa Daftar, Ini Syarat Lengkap, Jadwal Seleksi, dan Cara Upload Dokumen

Rangkaian ritual biasanya dimulai di area candi, kemudian dilanjutkan ke patirtan atau petirtaan yang berada dalam satu kompleks.

Patirtan tersebut diyakini dahulu digunakan untuk membersihkan diri sebelum melakukan ibadah.

Mitos dan Kesakralan yang Masih Diyakini

Candi Penampihan juga dikenal dengan berbagai mitos. Dahulu, pengunjung dilarang menyentuh arca atau bagian tertentu karena dipercaya dapat membawa kesialan.

Meski sebagian arca kini telah hilang, cerita-cerita tentang kesakralan tempat ini masih hidup di tengah masyarakat.

Penampakan makhluk seperti ular besar atau harimau juga sering dikaitkan dengan kawasan ini.

Namun bagi Hendrian, keberadaan mitos justru mempertegas nilai sakral Candi Penampihan sebagai warisan leluhur yang harus dijaga.

Baca Juga: Pendaftaran PPPK Kementerian HAM 2026 Resmi Dibuka, Jangan Salah Upload Dokumen! Ini Panduan Lengkap Daftar di SSCASN BKN agar Lolos Administrasi

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Sebagai generasi ketiga juru pelihara, Hendrian mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan melestarikan Candi Penampihan.

Ia menilai situs ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan sumber pembelajaran tentang spiritualitas, budaya, dan identitas bangsa.

“Ini amanah dari nenek moyang. Nilainya luar biasa, dan harus terus dijaga,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#sejarah tulungagung #Situs Mataram Kuno #Candi Penampihan Tulungagung #Candi tertua Tulungagung #Wisata religi Tulungagung