RADAR TULUNGAGUNG – Nama Kuburan Ngujang Tulungagung sudah lama dikenal luas sebagai salah satu lokasi paling misterius di Jawa Timur. Tempat ini kerap dikaitkan dengan pesugihan, ritual kekayaan instan, hingga mitos ratusan kera yang diyakini sebagai jelmaan manusia.
Namun di balik stigma angker tersebut, tersimpan fakta sejarah dan budaya yang jarang diketahui publik.
Melalui penuturan langsung juru kunci, berbagai cerita yang selama ini berkembang soal Kuburan Ngujang Tulungagung ternyata banyak yang keliru.
Lokasi ini sejatinya bukan sekadar kuburan biasa, melainkan bagian dari sejarah panjang Desa Ngujang yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Asal-usul Nama Desa Ngujang
Ribut, juru kunci Kuburan Ngujang, menjelaskan bahwa istilah “Ngujang” tidak serta-merta merujuk pada makam atau kuburan.
Nama tersebut berasal dari cerita desa yang telah diwariskan turun-temurun.
“Ada beberapa versi. Salah satunya dikaitkan dengan Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di wilayah ini,” ujarnya.
Dalam salah satu cerita, terdengar suara “nguk-ngak” atau suara kera yang kemudian diabadikan menjadi nama desa.
Versi lain menyebutkan adanya sabda Sunan Kalijaga kepada santri yang dianggap menyimpang, yang kemudian menjadi legenda asal-usul keberadaan kera di kawasan tersebut.
Kera di Ngujang Bukan Makhluk Gaib
Salah satu daya tarik utama Kuburan Ngujang Tulungagung adalah keberadaan ratusan kera yang hidup bebas di area tersebut.
Selama ini, kera-kera itu sering dikaitkan dengan mitos jelmaan santri atau manusia yang terkena kutukan.
Namun Ribut menegaskan, kera di Ngujang adalah hewan biasa. “Ini kera alami, bukan kera gaib. Mereka hidup berkelompok dan berpindah-pindah tempat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa terkadang pengunjung tidak melihat kera karena hewan tersebut berpencar ke wilayah lain.
Baca Juga: KUR BRI 2026 Belum Dibuka? Ini Bocoran Syarat Terbaru Tanpa Jaminan Rp100 Juta & Cara Daftarnya
Hal inilah yang kemudian memunculkan cerita seolah-olah kera tersebut bisa menghilang secara misterius.
Bukan Tempat Pesugihan
Stigma paling kuat yang melekat pada Kuburan Ngujang adalah sebagai tempat pesugihan. Ribut secara tegas membantah anggapan tersebut.
Menurutnya, tidak ada ajaran atau ritual yang menjanjikan kekayaan instan di tempat itu.
“Orang datang ke sini kebanyakan ingin kaya. Padahal tidak ada pesugihan,” tegasnya.
Yang ada, kata Ribut, hanyalah tawasul dan doa. Keberkahan rezeki yang didapat pengunjung berasal dari sikap sabar, ikhlas, dan sungguh-sungguh, bukan dari praktik menyimpang.
Makam, Punden, dan Kesalahan Informasi
Fakta lain yang jarang diketahui, kawasan yang disebut Kuburan Ngujang sebenarnya terdiri dari beberapa bagian.
Baca Juga: Alhamdulillah! Bansos Rp600.000 hingga PIP dan Beras Mulai Cair Januari 2026, Ini Daftar Lengkapnya
Ada makam umum yang relatif baru, dan ada pula punden yang telah disakralkan sejak lama.
Punden tersebut diyakini sudah ada jauh sebelum makam-makam modern dibangun.
Namun Ribut menyesalkan banyaknya informasi keliru yang beredar, seperti cerita tentang sumur keramat, makam tokoh palsu, hingga klaim bahwa lokasi ini berkaitan langsung dengan putri Sunan Kalijaga.
“Itu tidak benar. Banyak tulisan dan cerita dibuat orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Sejarah Panjang Sejak Ratusan Tahun Lalu
Jika ditarik ke konteks sejarah, keberadaan Desa Ngujang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14, masa peralihan dari Majapahit ke Demak.
Artinya, kawasan ini telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah dan budaya Jawa.
Keterkaitan dengan tokoh-tokoh spiritual dan tradisi lisan membuat Ngujang menjadi tempat yang sarat nilai simbolik, bukan sekadar lokasi mistis.
Baca Juga: Bansos Tahap 4 Masih Dicairkan 2026? Ini Penjelasan Terbaru PKH dan BPNT, Tahap 1 Belum Ada Hilal
Pengalaman Mistis Juru Kunci
Sebagai juru kunci selama 24 tahun, Ribut mengaku sering mengalami peristiwa di luar nalar. Namun ia menegaskan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar di tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi.
“Yang ditekankan selalu sabar, ikhlas, dan sungguh-sungguh,” katanya.
Ia juga menegaskan tidak pernah meminta imbalan apa pun dari pengunjung.
Jika ada yang memberi sumbangan dengan ikhlas, barulah diterima.
Edukasi, Bukan Sensasi
Ribut berharap masyarakat tidak lagi melihat Kuburan Ngujang Tulungagung hanya dari sisi sensasional.
Menurutnya, tempat ini lebih tepat dipahami sebagai ruang edukasi sejarah, budaya, dan spiritualitas Jawa.
“Jangan hanya tahu judulnya saja, tapi pahami isinya,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula