Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Masjid Al Mimbar Tulungagung, Masjid Tertua Saksi Awal Penyebaran Islam yang Berdiri Sejak Abad ke-18

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 15 Januari 2026 | 22:20 WIB

Masjid Al Mimbar Tulungagung, masjid tertua saksi awal penyebaran Islam sejak abad ke-18, masih aktif dan sarat nilai sejarah.
Masjid Al Mimbar Tulungagung, masjid tertua saksi awal penyebaran Islam sejak abad ke-18, masih aktif dan sarat nilai sejarah.

RADAR TULUNGAGUNG – Keberadaan Masjid Al Mimbar Tulungagung menjadi salah satu bukti kuat masuk dan berkembangnya agama Islam di wilayah selatan Jawa Timur.

Masjid yang berada di Dusun Tsiqalan, Desa Majan, berdekatan dengan Desa Winong ini dikenal sebagai bangunan ibadah Islam tertua di Kabupaten Tulungagung dan hingga kini masih aktif digunakan masyarakat.

Sejak pertama kali memasuki kawasan Masjid Al Mimbar Tulungagung, pengunjung akan disambut gapura bernuansa kerajaan yang terbuat dari bata merah.

Gapura tersebut dihiasi kaligrafi Islam bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad, memperlihatkan perpaduan nilai religius dan budaya lokal yang kental sejak masa awal pendiriannya.

Keunikan arsitektur dan nilai sejarah menjadikan Masjid Al Mimbar Tulungagung bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang dakwah Islam di daerah tersebut.

Baca Juga: Dibalik Layar Video Klip Ramadan, Valen Beri Kejutan untuk Mila di Masjid Istiqlal, Chemistry Dangdut Akademi 7 Bikin Baper

Dibangun Kyai Haji Raden Hassan Mimbar

Masjid Al Mimbar didirikan oleh Kyai Haji Raden Hassan Mimbar, seorang ulama sekaligus tokoh penyebar Islam di Tulungagung.

Berdasarkan penuturan keturunan ketujuh beliau, Raden Muhammad Ali Shodiq, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1007 Hijriah atau sekitar 1720 Masehi.

“Masjid ini dibangun sebagai pusat syiar Islam. Saat itu Kyai Haji Raden Hassan Mimbar memilih wilayah Majan karena letaknya strategis dan berada di pusat perkembangan masyarakat Tulungagung,” jelasnya.

Sejak awal berdiri, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Islam, hingga musyawarah masyarakat setempat.

Arsitektur Limas dan Nuansa Mataram

Daya tarik utama Masjid Al Mimbar terletak pada bentuk bangunannya. Masjid ini memiliki atap limas khas arsitektur tradisional Jawa, dengan sebuah menara yang berdiri di sisi selatan bangunan utama.

Gapura masjid juga disebut melambangkan pengaruh Kesultanan Mataram Islam, yang pada masa itu memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Perpaduan unsur Islam dan budaya Jawa terlihat jelas, mencerminkan pendekatan dakwah yang ramah dan kontekstual.

Baca Juga: KUR BRI 2026 Resmi Dibuka Awal Januari! Bunga Tetap 6%, Bisa Pinjam Hingga 7 Kali Tanpa Berjenjang

Makam Leluhur di Kompleks Masjid

Di sisi barat Masjid Al Mimbar Tulungagung terdapat kompleks makam para leluhur dan tokoh agama terdahulu.

Salah satu yang paling dihormati adalah makam Kyai Haji Raden Hassan Mimbar sendiri.

Keberadaan makam ini menambah nilai historis masjid, sekaligus menjadikannya tujuan ziarah religi bagi masyarakat Tulungagung maupun daerah sekitar.

Pusat Kegiatan Keislaman dan Sosial

Sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang, Masjid Al Mimbar tidak pernah lepas dari aktivitas keagamaan.

Masjid ini rutin digunakan untuk salat berjamaah, pengajian, serta kajian keislaman yang melibatkan masyarakat sekitar.

Selain itu, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Nilai kebersamaan dan gotong royong masih terjaga kuat di lingkungan Masjid Al Mimbar.

Baca Juga: KUR BRI 2025 Masih Bisa Diajukan di Akhir Tahun? Cek Syarat, Jaminan, dan Simulasi Angsuran Rp50 Juta

Tradisi Tahlilan yang Masih Lestari

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah tahlilan rutin yang dilaksanakan setiap malam Jumat setelah salat Isya.

Tradisi ini menjadi warisan budaya religius yang terus dijaga oleh masyarakat sekitar masjid.

“Tahlilan ini sudah ada sejak dulu dan masih terus berjalan sampai sekarang,” ungkap Raden Muhammad Ali Shodiq.

Tradisi tersebut tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Baca Juga: KUR BRI 2026 Belum Dibuka? Ini Bocoran Syarat Terbaru Tanpa Jaminan Rp100 Juta & Cara Daftarnya

Peninggalan Bersejarah yang Masih Terawat

Beberapa peninggalan asli Masjid Al Mimbar masih dapat ditemukan hingga saat ini.

Di antaranya adalah menara bedug dan mimbar khotbah dengan desain klasik yang mencerminkan sejarah awal peradaban Islam di Tulungagung.

Meski telah mengalami perawatan dan penyesuaian zaman, keaslian bentuk dan nilai sejarah masjid tetap dijaga dengan baik.

Tak Pernah Sepi Pengunjung

Sebagai masjid tertua di Tulungagung, Masjid Al Mimbar tidak pernah sepi dari pengunjung.

Baca Juga: Alhamdulillah! Bansos Rp600.000 hingga PIP dan Beras Mulai Cair Januari 2026, Ini Daftar Lengkapnya

Selain jamaah setempat, banyak peziarah dan wisatawan religi yang datang untuk melihat langsung jejak awal penyebaran Islam di daerah ini.

Keberadaan Masjid Al Mimbar Tulungagung menjadi pengingat bahwa dakwah Islam di Nusantara berkembang melalui pendekatan budaya, keteladanan, dan kebijaksanaan para ulama terdahulu.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#Masjid Al Mimbar Tulungagung #Masjid tertua Tulungagung #Dakwah Islam Jawa #Sejarah Islam Tulungagung #Wisata religi Tulungagung