TULUNGAGUNG - Tulungagung telah lama dikenal sebagai Kota Marmer, sebuah julukan yang lahir dari kekayaan alam, jejak sejarah kolonial, serta berkembangnya industri pengolahan marmer rakyat yang kini menembus pasar internasional. Reputasi ini tidak datang tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui perjalanan panjang lebih dari satu abad.
Jejak Sejarah Marmer sejak Era Kolonial
Eksplorasi Awal di Campurdarat
Penambangan marmer pertama kali tercatat pada era kolonial Belanda sekitar 1920-an, terutama di kawasan perbukitan selatan Tulungagung seperti Campurdarat. Saat itu, marmer dieksploitasi untuk kebutuhan bangunan kolonial dan ornamen arsitektur.
Dari Batu Nisan ke Industri Kreatif
Pada awalnya, marmer lokal lebih banyak digunakan untuk batu nisan dan material bangunan. Namun, masyarakat setempat kemudian mengembangkan keterampilan mengolahnya menjadi kerajinan marmer bernilai seni tinggi, mulai dari patung, guci, hingga elemen dekoratif rumah.
Sentra Produksi Marmer Tulungagung
Besole, Besuki, dan Campurdarat sebagai Pusat Industri
Desa Besole (Kecamatan Besuki) dan wilayah Campurdarat berkembang menjadi sentra utama industri marmer. Keahlian mengukir dan memoles batu diwariskan turun-temurun, membentuk ekosistem pengrajin yang kuat dan berdaya saing.
Kualitas yang Diakui
Marmer Tulungagung dikenal memiliki tekstur halus, warna natural yang elegan, serta detail pengerjaan tinggi. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari lantai marmer, wastafel, patung, relief, guci, hingga pernak-pernik artistik.
Kekayaan Alam sebagai Modal Utama
Deposit Batu Gamping Melimpah
Pegunungan selatan Tulungagung kaya akan batu gamping—bahan dasar pembentukan marmer berkualitas. Kondisi geologis inilah yang menjadikan wilayah ini unggul dibanding daerah lain.
Industri Rakyat yang Menggerakkan Ekonomi
Industri marmer bukan hanya sektor tambang, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif lokal: dari penambang, pengrajin, pemoles, hingga eksportir.
Marmer Tulungagung di Pasar Dunia
Orientasi Ekspor
Kualitas marmer Tulungagung membuatnya diminati di berbagai negara. Produk lokal telah menembus pasar internasional, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok marmer unggulan.
Identitas Daerah yang Mendunia
Kombinasi antara sumber daya alam, keahlian pengrajin, dan jaringan perdagangan membuat julukan Tulungagung Kota Marmer bukan sekadar label, melainkan identitas ekonomi-budaya yang nyata.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya