Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Roro Kembang Sore: Cinta, Pertapaan, dan Jejak Majapahit di Tulungagung

Dara Shauqy Hadiwijaya • Jumat, 16 Januari 2026 | 19:20 WIB

Legenda Roro Kembang Sore menghubungkan kisah cinta Majapahit, asal-usul nama tempat, dan situs ziarah Gunung Bolo Tulungagung.
Legenda Roro Kembang Sore menghubungkan kisah cinta Majapahit, asal-usul nama tempat, dan situs ziarah Gunung Bolo Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Legenda Roro Kembang Sore menjadi salah satu cerita rakyat paling kuat dalam memori kolektif Tulungagung. Kisahnya tidak hanya berbicara tentang cinta tragis, tetapi juga menandai hubungan erat wilayah ini dengan jejak politik dan budaya Kerajaan Majapahit, serta menjelaskan asal-usul sejumlah nama tempat yang masih dikenali hingga kini.

 

Siapa Roro Kembang Sore?

Putri Bedalem yang Memilih Jalan Pertapaan

Roro Kembang Sore dikenal sebagai putri bangsawan dari Kadipaten Bedalem (yang kini berada dalam wilayah administratif Tulungagung). Dalam tradisi lisan Jawa, ia digambarkan berparas cantik, berwatak halus, namun teguh memilih jalan spiritual sebagai pertapa hingga akhir hayat, tanpa menikah.

Keterkaitan dengan Majapahit

Dalam narasi populer, Roro Kembang Sore menjalin hubungan cinta dengan Pangeran Lembu Peteng, putra Raja Brawijaya V dari Majapahit. Hubungan ini dipandang terlarang dan memicu ketegangan politik di antara elite Kadipaten Bedalem dan garis keturunan Majapahit.

 

Cinta, Konflik, dan Asal-Usul Nama Tempat

Perang dan Kematian Lembu Peteng

Konflik antara pihak Bedalem dan pengikut Lembu Peteng berujung peperangan. Dalam versi legenda yang beredar luas, Lembu Peteng tewas dan jasadnya dihanyutkan ke sungai—peristiwa yang dipercaya melatarbelakangi penamaan Sungai Lembu Peteng.

Kisah Joko Budeg dan Tapa Bisu

Tokoh lain yang melekat dalam cerita ini adalah Joko Budeg, jejaka yang jatuh cinta kepada Roro Kembang Sore. Ia diminta menjalani tapa bisu sebagai syarat pernikahan. Namun karena dianggap gagal memenuhi laku spiritual tersebut, ia dikisahkan berubah menjadi batu—yang kemudian dikenal sebagai Gunung Budeg.

Pertapaan Roro di Gunung Cilik

Setelah rangkaian tragedi itu, Roro Kembang Sore memilih menyepi dan bertapa di kawasan pegunungan. Dalam tradisi lokal, ia dipandang sebagai figur resi perempuan yang memiliki laku spiritual tinggi.

 

Baca Juga: Benarkah Rekrutmen Guru PPPK Dihentikan Mulai 2026? Ini Fakta Resmi di Balik Rumor yang Bikin Honorer Resah

 

Makam Gunung Bolo: Antara Ziarah, Mitos, dan Warisan Budaya

Lokasi dan Makna

Makam Roro Kembang Sore berada di puncak Gunung Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung. Situs ini menjadi penanda penting bagi pemetaan sejarah legenda lokal sekaligus pengingat relasi Tulungagung dengan masa Majapahit.

Ruang Ziarah dan Interpretasi Tradisi

Sebagian peziarah datang dengan niat spiritual biasa—berdoa dan menabur bunga—sementara yang lain mengaitkannya dengan mitos pesugihan. Praktik ini menunjukkan bagaimana legenda bertransformasi menjadi ruang kepercayaan yang berlapis: religius, kultural, sekaligus mistis.

Upaya Pelestarian

Makam Gunung Bolo kini dipandang sebagai warisan budaya Tulungagung. Meski pengelolaan situs masih menghadapi keterbatasan fasilitas, masyarakat setempat berupaya menjaga keberlanjutan nilai sejarah dan tradisi yang menyertainya.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#roro kembang sore #tulungagung #sejarah tulungagung #sejarah #joko budeg