TULUNGAGUNG - Legenda Roro Kembang Sore menjadi salah satu cerita rakyat paling kuat dalam memori kolektif Tulungagung. Kisahnya tidak hanya berbicara tentang cinta tragis, tetapi juga menandai hubungan erat wilayah ini dengan jejak politik dan budaya Kerajaan Majapahit, serta menjelaskan asal-usul sejumlah nama tempat yang masih dikenali hingga kini.
Siapa Roro Kembang Sore?
Putri Bedalem yang Memilih Jalan Pertapaan
Roro Kembang Sore dikenal sebagai putri bangsawan dari Kadipaten Bedalem (yang kini berada dalam wilayah administratif Tulungagung). Dalam tradisi lisan Jawa, ia digambarkan berparas cantik, berwatak halus, namun teguh memilih jalan spiritual sebagai pertapa hingga akhir hayat, tanpa menikah.
Keterkaitan dengan Majapahit
Dalam narasi populer, Roro Kembang Sore menjalin hubungan cinta dengan Pangeran Lembu Peteng, putra Raja Brawijaya V dari Majapahit. Hubungan ini dipandang terlarang dan memicu ketegangan politik di antara elite Kadipaten Bedalem dan garis keturunan Majapahit.
Cinta, Konflik, dan Asal-Usul Nama Tempat
Perang dan Kematian Lembu Peteng
Konflik antara pihak Bedalem dan pengikut Lembu Peteng berujung peperangan. Dalam versi legenda yang beredar luas, Lembu Peteng tewas dan jasadnya dihanyutkan ke sungai—peristiwa yang dipercaya melatarbelakangi penamaan Sungai Lembu Peteng.
Kisah Joko Budeg dan Tapa Bisu
Tokoh lain yang melekat dalam cerita ini adalah Joko Budeg, jejaka yang jatuh cinta kepada Roro Kembang Sore. Ia diminta menjalani tapa bisu sebagai syarat pernikahan. Namun karena dianggap gagal memenuhi laku spiritual tersebut, ia dikisahkan berubah menjadi batu—yang kemudian dikenal sebagai Gunung Budeg.
Pertapaan Roro di Gunung Cilik
Setelah rangkaian tragedi itu, Roro Kembang Sore memilih menyepi dan bertapa di kawasan pegunungan. Dalam tradisi lokal, ia dipandang sebagai figur resi perempuan yang memiliki laku spiritual tinggi.
Makam Gunung Bolo: Antara Ziarah, Mitos, dan Warisan Budaya
Lokasi dan Makna
Makam Roro Kembang Sore berada di puncak Gunung Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung. Situs ini menjadi penanda penting bagi pemetaan sejarah legenda lokal sekaligus pengingat relasi Tulungagung dengan masa Majapahit.
Ruang Ziarah dan Interpretasi Tradisi
Sebagian peziarah datang dengan niat spiritual biasa—berdoa dan menabur bunga—sementara yang lain mengaitkannya dengan mitos pesugihan. Praktik ini menunjukkan bagaimana legenda bertransformasi menjadi ruang kepercayaan yang berlapis: religius, kultural, sekaligus mistis.
Upaya Pelestarian
Makam Gunung Bolo kini dipandang sebagai warisan budaya Tulungagung. Meski pengelolaan situs masih menghadapi keterbatasan fasilitas, masyarakat setempat berupaya menjaga keberlanjutan nilai sejarah dan tradisi yang menyertainya.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya