TULUNGAGUNG - Legenda Sungai Lembu Peteng menjadi salah satu kisah paling kuat dalam khazanah sejarah dan budaya Tulungagung. Cerita ini berakar pada masa Kerajaan Majapahit dan menempatkan sosok Pangeran Lembu Peteng sebagai figur kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan. Hingga kini, sungai tersebut tidak hanya dipahami sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai saksi bisu peristiwa tragis yang membentuk memori kolektif masyarakat Tulungagung.
Latar Belakang Perguruan Kyai Pacet
Pada masa Majapahit, wilayah yang kini menjadi Tulungagung dikenal sebagai kawasan spiritual dan kanuragan. Di sini berdiri perguruan yang dipimpin oleh Kyai Pacet, seorang guru sakti yang dihormati. Di antara murid-muridnya terdapat tiga tokoh penting yaitu Pangeran Lembu Peteng, Pangeran Kalang, dan Pangeran Bedalem. Ketiganya memiliki kedudukan politik dan pengaruh yang berbeda, tetapi terikat dalam jaringan kekuasaan serta nilai-nilai ksatria Jawa.
Cinta Terlarang dan Konflik Berdarah
Inti tragedi bermula ketika Pangeran Lembu Peteng menjalin hubungan cinta dengan Roro Kembangsore, putri bangsawan dari Kadipaten Betak yang berada di wilayah Tulungagung sekarang. Hubungan ini dianggap melanggar tatanan adat dan politik, terutama oleh Pangeran Bedalem yang memiliki kepentingan atas posisi Roro Kembangsore. Ketegangan pun meningkat hingga pecah peperangan antara kubu Pangeran Bedalem dan Pangeran Lembu Peteng. Dalam konflik tersebut, Lembu Peteng gugur saat berupaya mempertahankan kehormatan dan melindungi gurunya, Kyai Pacet.
Asal-Usul Nama Sungai Lembu Peteng
Setelah tewas, jasad Pangeran Lembu Peteng dihanyutkan ke sungai yang mengalir ke arah selatan. Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan nama Sungai Lembu Peteng, yang hingga kini menjadi penanda geografis sekaligus simbol historis di Tulungagung. Dalam tradisi lisan maupun naskah Babad Tulungagung, kisah ini diceritakan berulang sebagai pengingat akan nilai kesetiaan, pengorbanan, dan akibat konflik cinta di lingkaran elite Majapahit.
Keterkaitan dengan Roro Kembangsore dan Joko Budeg
Legenda Sungai Lembu Peteng tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kisah Roro Kembangsore dan Joko Budeg. Setelah tragedi perang, Roro Kembangsore memilih hidup sebagai pertapa dan makamnya kini dipercaya berada di Gunung Cilik atau Gunung Bolo di wilayah Kauman, Tulungagung. Sementara itu, Joko Budeg yang juga mencintainya diceritakan gagal memenuhi laku tapa bisu dan akhirnya dikutuk menjadi batu, yang kemudian dikaitkan dengan toponimi lokal.
Baca Juga: Tulungagung: Sejarah dan Kekuatan di Balik Julukan Kota Marmer
Antara Sejarah, Mitos, dan Memori Kolonial
Selain dimaknai sebagai legenda Majapahit, Sungai Lembu Peteng juga menyimpan kisah kelam di masa kolonial Belanda. Dalam beberapa narasi lokal, sungai ini disebut pernah menjadi lokasi pembuangan jenazah korban kekerasan kolonial, yang turut melahirkan cerita-cerita mistis di sekitarnya. Namun di balik aura angker tersebut, sungai ini tetap dipandang sebagai warisan budaya yang penting dalam memahami sejarah Tulungagung.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya