Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Candi Dadi Tulungagung: Tipu Muslihat Putri, Kutukan Jomblo, dan Jejak Ritual Majapahit

Dara Shauqy Hadiwijaya • Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:30 WIB

Candi Dadi di puncak Gunung Walikukun, warisan Majapahit di Tulungagung.
Candi Dadi di puncak Gunung Walikukun, warisan Majapahit di Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Legenda Candi Dadi Tulungagung menyimpan cerita rakyat yang kuat, unik, dan penuh simbol, sekaligus menyatu dengan fakta sejarah peninggalan Majapahit. Terletak di puncak Gunung Walikukun, situs ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang memori budaya yang menghubungkan mitos lokal dengan arkeologi Nusantara.

Kisah yang Mirip Roro Jonggrang, tetapi Berbeda Akhirnya

Cerita rakyat di sekitar Candi Dadi mengisahkan seorang putri cantik yang dilamar oleh seorang pemuda sakti. Sang putri mengajukan syarat mustahil, yaitu membangun candi dalam satu malam. Menjelang fajar, ketika pembangunan hampir selesai, ia menggunakan tipu muslihat dengan membuat ayam berkokok lebih awal agar sang pemuda mengira pagi telah tiba. Akibatnya, pekerjaan dihentikan dan candi dibiarkan belum rampung. Meski memiliki pola cerita mirip legenda Roro Jonggrang di Prambanan, versi Tulungagung ini berbeda pada tokoh, dialog, serta makna simboliknya yang lebih menekankan kelicikan, kemarahan, dan konsekuensi spiritual.

Asal-usul Nama “Dadi” dan Keajaiban Candi

Nama “Dadi” dalam bahasa Jawa berarti “jadi” atau “terwujud”. Menurut tradisi lisan, sang pelamar yang merasa ditipu berteriak “Dadi!” sehingga bangunan yang belum sempurna itu tiba-tiba berdiri kokoh secara ajaib. Narasi ini menjelaskan mengapa Candi Dadi tampak tidak simetris dibanding candi-candi Majapahit lain, tetapi tetap monumental dan sakral.

 

Baca Juga: Tulungagung: Sejarah dan Kekuatan di Balik Julukan Kota Marmer

 

Mitos Kutukan Jomblo yang Melekat hingga Kini

Masyarakat setempat percaya bahwa pasangan kekasih yang berkunjung ke Candi Dadi berisiko kandas dalam hubungan, sehingga situs ini kerap dijuluki memiliki “kutukan jomblo”. Meski bersifat mitos, cerita ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pendaki muda yang penasaran menguji kepercayaan lokal.

Fungsi Sejarah Candi Dadi sebagai Situs Ritual Majapahit

Secara arkeologis, Candi Dadi diperkirakan berasal dari akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15, masa puncak Kerajaan Majapahit. Struktur bangunannya menunjukkan fungsi ritual, kemungkinan sebagai tempat pemujaan atau kremasi simbolik, diperkuat dengan adanya lubang sumur sedalam sekitar 3,5 meter di bagian tengah candi. Beberapa sumber sejarah lokal juga menyebut kawasan Gunung Walikukun pernah menjadi tempat perlindungan rakyat Majapahit setelah wafatnya Prabu Hayam Wuruk, meski hal ini lebih bersifat tradisi lisan daripada bukti tertulis langsung.

 

Baca Juga: Sejarah Jaranan Sentherewe Tulungagung: Dari Inovasi Seniman hingga Ikon Budaya Daerah

 

Akses Pendakian ke Candi Dadi

Candi Dadi dapat dicapai melalui jalur pendakian dari Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Rutenya relatif ramah bagi pendaki pemula, namun tetap membutuhkan stamina karena berada di area pegunungan. Selain wisata sejarah, lokasi ini menawarkan panorama alam khas dataran tinggi Tulungagung.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#tulungagung #sejarah tulungagung #sejarah #candi dadi