TULUNGAGUNG - Legenda Desa Ngujang Tulungagung telah lama hidup di ingatan masyarakat sebagai kisah mistis yang menyatu dengan realitas alam. Di kawasan makam yang dikelilingi pepohonan rindang, ratusan monyet abu-abu berkeliaran bebas dan menjadi ciri khas tempat yang dikenal luas sebagai Wisata Kethekan. Bagi sebagian orang, monyet-monyet ini bukan sekadar satwa liar, melainkan penjaga gaib yang menyimpan pesan spiritual turun-temurun.
Asal-usul Nama Ngujang dan Kisah Sunan Kalijaga
Nama “Ngujang” memiliki beberapa versi asal-usul. Sebagian warga mengaitkannya dengan suara kera “nguk-ngak” yang menggema di kawasan makam, sementara versi lain menuturkan bahwa nama tersebut berhubungan dengan sabda Sunan Kalijaga kepada santri yang menyimpang dari ajaran agama. Dalam cerita rakyat setempat, ada santri yang lebih memilih memanjat pohon daripada mengaji, sehingga dikisahkan mendapat “kutukan” spiritual yang kemudian dipersonifikasikan sebagai kera penjaga makam.
Monyet Keramat dan Mitos Pesugihan
Makam Ngujang sering dikaitkan dengan praktik pesugihan, di mana sebagian orang percaya ada perjanjian gaib dengan penjaga makam yang berwujud kera. Mitos ini diperkuat oleh cerita peringatan, seperti kisah seseorang yang mencelakai monyet lalu mengalami musibah, atau keluarga yang “mengambil” anak kera kemudian mengalami gangguan spiritual hingga kera tersebut dikembalikan. Narasi ini berfungsi sebagai pelajaran moral agar manusia hidup lebih menghormati alam dan makhluk hidup di sekitarnya.
Baca Juga: Tulungagung: Sejarah dan Kekuatan di Balik Julukan Kota Marmer
Penjelasan Juru Kunci: Bukan Gaib, Tapi Dilindungi
Menurut juru kunci makam, Bapak Ribut, monyet-monyet di Desa Ngujang adalah satwa liar biasa yang hidup alami di habitatnya. Mereka bukan makhluk gaib, tetapi secara kultural dianggap “penjaga makam” karena telah turun-temurun hidup berdampingan dengan area ziarah. Ia menegaskan bahwa selama pengunjung bersikap sopan dan tidak mengganggu, monyet-monyet tersebut tidak akan menyerang atau merusak.
Simbol Kearifan Lokal dan Harmoni Alam
Keberadaan monyet Ngujang mencerminkan kearifan lokal Tulungagung, di mana masyarakat menjaga keseimbangan antara spiritualitas, budaya, dan kelestarian alam. Pengunjung sering memberi makan kera dengan kacang atau roti, menciptakan interaksi unik antara manusia dan satwa liar. Di sisi lain, makam Ngujang tetap menjadi tempat ziarah bagi peziarah yang mencari ketenangan batin.
Baca Juga: Sejarah Tulungagung: Asal-Usul Nama, Hari Jadi, hingga Warisan Budaya Lokal
Wisata Kethekan sebagai Daya Tarik Budaya
Selain nilai mistisnya, kawasan ini berkembang sebagai Wisata Kethekan yang menarik wisatawan lokal maupun luar daerah. Pengalaman melihat ratusan kera jinak di lingkungan makam membuat Desa Ngujang memiliki identitas wisata yang berbeda dari destinasi religi lainnya di Tulungagung.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya