Legenda Nyai Lidah Hitam: Jejak Perempuan Sakti dalam Islam Jawa Tulungagung
Dara Shauqy Hadiwijaya• Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:15 WIB
Jejak spiritual Nyai Lidah Hitam dalam sejarah Islam Jawa Tulungagung.
TULUNGAGUNG - Di balik riuhnya kehidupan modern Tulungagung, tersimpan kisah spiritual yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, yakni Legenda Nyai Lidah Hitam Tulungagung. Sosoknya bukan sekadar figur mistis, tetapi simbol kekuatan perempuan, keteguhan iman, dan peran penting wanita dalam penyebaran Islam Jawa di Nusantara.
Sosok Nyai Lidah Hitam dalam Ingatan Lokal
Nyai Lidah Hitam dikenal sebagai istri seorang ulama penyebar Islam di wilayah Tulungagung. Dalam tradisi lisan masyarakat, ia digambarkan bukan hanya sebagai pendamping dakwah, tetapi juga figur spiritual yang memiliki karisma dan kesaktian luar biasa. Kehadirannya menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam sejarah Islam Nusantara, tidak hanya sebagai pendukung, tetapi juga sebagai agen perubahan budaya dan religius.
Nama “Lidah Hitam” sendiri bukan sekadar julukan seram, melainkan penanda kekuatan spiritual yang dianggap lahir dari laku tirakat, kedalaman ilmu, dan kedekatannya dengan Tuhan. Dalam perspektif budaya Jawa, figur semacam ini sering disejajarkan dengan wali perempuan yang memiliki peran sosial sekaligus spiritual.
Kisah Menggoreng Batu: Simbol Ujian Iman dan Wibawa Spiritual
Salah satu cerita paling terkenal tentang Nyai Lidah Hitam adalah ketika ia diuji oleh seorang tamu yang meragukan kesaktiannya. Dalam kisah tersebut, ia dikisahkan mampu menggoreng batu di atas kain kembennya tanpa terbakar. Bagi masyarakat Jawa, adegan ini bukan sekadar pamer kesaktian, tetapi simbol bahwa kekuatan spiritual sejati lahir dari kemantapan batin, bukan kesombongan.
Tamu yang menyaksikan peristiwa itu dikatakan ketakutan dan pergi, bukan karena teror, tetapi karena tersadarkan bahwa ada dimensi spiritual yang tak bisa dijelaskan hanya dengan logika duniawi. Kisah ini kemudian diwariskan sebagai pelajaran tentang rendah hati, iman, dan penghormatan pada ilmu.
Dalam konteks sejarah, peran Nyai Lidah Hitam dapat dibaca sebagai representasi perempuan dalam jaringan dakwah Islam Jawa. Ia tidak berdakwah dengan ceramah formal, tetapi melalui keteladanan, laku spiritual, dan pengaruh kultural.
Keberadaannya menunjukkan bahwa proses Islamisasi di Jawa bukan hanya digerakkan oleh ulama laki-laki, tetapi juga melibatkan figur perempuan yang berpengaruh, dihormati, dan memiliki legitimasi spiritual di mata masyarakat.
Makam Tawangsari sebagai Pusat Ziarah Religi
Hingga kini, makam Nyai Lidah Hitam yang berada di belakang Masjid Tawangsari Tulungagung menjadi destinasi ziarah religi. Peziarah datang bukan untuk mencari pesugihan, melainkan untuk ngalap berkah, berdoa, dan mengenang warisan spiritualnya.
Situs ini kini menjadi bagian penting dari peta budaya Tulungagung, menghubungkan antara sejarah Islam, tradisi lokal, dan spiritualitas Jawa. Keberadaannya juga memperkaya wisata religi Tulungagung yang semakin dikenal.
Legenda Nyai Lidah Hitam bukan sekadar cerita lama, melainkan narasi yang terus membentuk identitas kultural Tulungagung. Kisahnya mengajarkan bahwa perempuan memiliki kekuatan, martabat, dan peran sentral dalam sejarah bangsa.
Dalam perspektif modern, ia bisa dibaca sebagai simbol pemberdayaan perempuan dalam ruang spiritual dan kebudayaan Jawa Timur, menjadikannya relevan lintas generasi.