Dalam tayangan kanal YouTube Lorong Zaman, misteri Kuburan Ngujang diungkap langsung oleh juru kunci setempat yang telah mengabdikan diri selama 24 tahun.
Ia menegaskan bahwa banyak cerita yang beredar selama ini telah mengalami distorsi dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Sejak awal, juru kunci menekankan bahwa Kuburan Ngujang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Desa Ngujang itu sendiri. Nama “Ngujang” diyakini berasal dari kata jang atau pawejangan, tempat memberi nasihat.
Ada pula yang mengaitkannya dengan suara aneh yang terdengar saat Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di wilayah tersebut.
Asal-Usul Desa dan Makam Ngujang
Menurut penuturan juru kunci, Desa Ngujang telah ada jauh sebelum makam-makam yang kini dikenal masyarakat. Wilayah tersebut terdiri dari beberapa dusun seperti Gambiran, Guci, Soling, dan Gobang.
Makam yang ada sekarang sebagian merupakan makam desa, sebagian lain adalah makam warga dari desa sekitar yang “numpang” dimakamkan di area tersebut.
Jika ditarik secara historis, keberadaan Kuburan Ngujang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Era kemunculannya dikaitkan dengan masa peralihan dari Majapahit ke Kesultanan Demak, sekitar abad ke-14, sezaman dengan dakwah Sunan Kalijaga.
Namun, juru kunci menegaskan bahwa tidak semua yang disebut “makam” di lokasi tersebut benar-benar berisi jasad. Beberapa titik lebih tepat disebut sebagai punden atau tempat yang disakralkan oleh masyarakat sejak lama.
Benarkah Kera di Kuburan Ngujang Jelmaan Manusia?
Salah satu daya tarik utama Kuburan Ngujang adalah keberadaan ratusan kera. Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa kera-kera tersebut merupakan jelmaan santri yang dikutuk oleh Sunan Kalijaga. Versi lain menyebutkan mereka adalah manusia yang gagal dalam ritual pesugihan.
Fakta di lapangan, menurut juru kunci, tidak demikian. Ia menegaskan bahwa kera di Kuburan Ngujang adalah kera biasa, bukan makhluk gaib. Keberadaan mereka sudah ada sejak lama karena kawasan tersebut memang merupakan habitat alami kera.
“Kera di sini sifatnya berkelompok dan berpindah-pindah. Kadang banyak terlihat, kadang tidak. Itu bukan berarti menghilang secara gaib,” ujarnya. Ia juga menepis klaim bahwa kera tersebut adalah hasil dari ritual pesugihan yang gagal.
Stigma Pesugihan yang Melekat
Nama Kuburan Ngujang terlanjur identik dengan pesugihan karena motif sebagian pengunjung yang datang. Banyak orang berharap menjadi kaya tanpa usaha, sehingga cerita berkembang liar. Padahal, menurut juru kunci, tidak ada ajaran atau praktik pesugihan di lokasi tersebut.
Yang ada hanyalah tradisi ngalap berkah melalui doa dan tawasul. Itupun, hasilnya bukan kekayaan instan, melainkan keberkahan rezeki yang datang melalui usaha, kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan.
“Kalau orang Jawa bilang, sabar, ikhlas, dan sungguh-sungguh itu yang paling berat,” katanya. Nilai-nilai itulah yang justru menjadi pesan utama yang diwariskan secara turun-temurun.
Meluruskan Hoaks dan Cerita Menyesatkan
Juru kunci juga membantah berbagai informasi palsu yang beredar, mulai dari keberadaan sumur keramat, makam tokoh yang diklaim sebagai putri Sunan Kalijaga, hingga narasi mistis yang dilebih-lebihkan. Semua itu disebutnya sebagai ulah pihak tidak bertanggung jawab demi sensasi.
Selama puluhan tahun menjadi juru kunci Kuburan Ngujang, ia mengaku memang mengalami banyak peristiwa mistis. Namun, semua itu dipandang sebagai hal wajar dan tidak untuk ditakuti atau dikomersialkan.
“Yang ditekankan selalu sama: sabar, ikhlas, dan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Di balik aura mistisnya, Kuburan Ngujang sejatinya adalah situs sejarah dan budaya. Bukan tempat mencari jalan pintas menuju kekayaan, melainkan ruang refleksi yang sarat pesan moral dan spiritual bagi siapa pun yang datang dengan niat yang benar.
Editor : Fadhilah Salsa Bella