RADAR TULUNGAGUNG – Kawasan wisata alam Telaga Buret, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung kembali dibayangi persoalan klasik sampah kiriman.
Kali ini, seorang warga asal Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung tertangkap basah diduga membuang sampah sembarangan di depan kawasan Telaga Buret.
Aksi tersebut terekam video dan viral di media sosial, bahkan jadi perbincangan warganet.
Baca Juga: Telaga Buret Tulungagung, Permata Alam dan Geologi yang Menyimpan Fakta Unik
Peristiwa itu terjadi pada Minggu dini hari. Pelaku dipergoki langsung oleh anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Sidodadi yang belakangan intens melakukan pemantauan di sekitar Telaga Buret.
Langkah penjagaan ini dilakukan menyusul maraknya pembuangan sampah liar yang nyaris terjadi setiap hari.
Ketua LMDH Wono Sidodadi, Karsi Nerro Sutamrin, membenarkan kejadian tersebut.
Baca Juga: Ritual Ulur-Ulur di Telaga Buret Kembali digelar pada tahun 2025 ini
Dia menyebut, pihaknya sudah lama merasa jengah karena kawasan Telaga Buret kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah oleh warga tak bertanggung jawab, terutama pada malam hingga dini hari.
“Kami sudah beberapa hari ini menyanggong di lokasi. Hampir tiap hari selalu ada sampah baru. Ini bukan sekali dua kali, tapi sudah berulang,” kata Karsi saat dikonfirmasi Radar Tulungagung.
Menurut Karsi, sampah kiriman tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga merusak citra Telaga Buret sebagai kawasan wisata alam dan tempat yang disakralkan warga setempat.
Baca Juga: Mitos Telaga Buret, Larangan Penebangan Pohon Hingga Penampakan Ikan Tanpa Daging
Padahal, warga dan LMDH secara swadaya rutin melakukan kerja bakti membersihkan area telaga.
“Setiap hari kami bersihkan. Rasanya capek sekali kalau sudah dibersihkan, besoknya kotor lagi. Telaga Buret ini dijaga bersama, tapi masih saja ada yang tidak peduli,” tegasnya.
Video penangkapan warga yang diduga membuang sampah itu kemudian beredar luas di media sosial.
Reaksi warganet pun beragam, mayoritas menyayangkan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, terlebih di kawasan konservasi dan wisata.
Karsi berharap kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama.
Dia juga meminta peran aktif pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta aparat terkait untuk memberikan tindakan tegas agar ada efek jera.
“Kalau tidak ada sanksi dan pengawasan bersama, sampah kiriman ini tidak akan pernah selesai. Harapan kami, Telaga Buret bisa tetap bersih, lestari, dan nyaman dikunjungi,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana