RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Masjid Tawangsari Tulungagung menjadi salah satu bukti penting perjalanan dakwah Islam di wilayah Jawa Timur.
Masjid yang terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Tulungagung dan memiliki peran strategis dalam penyebaran ajaran Islam sejak abad ke-17 Masehi.
Masjid Tawangsari kembali menjadi perhatian publik setelah diangkat dalam sebuah video YouTube bertema wisata religi spesial Ramadan.
Melalui tayangan tersebut, penonton diajak menyusuri jejak sejarah Masjid Jami Tawangsari sekaligus memahami peran tokoh sentral di balik berdirinya masjid bersejarah tersebut.
Masjid Tertua dan Saksi Awal Islam di Tulungagung
Sejarah Masjid Tawangsari Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari sosok Kyai Haji Abu Manshur.
Berdasarkan penuturan para penerus masjid, bangunan ini didirikan sekitar abad ke-17 dan menjadi pusat pengajaran agama Islam bagi masyarakat setempat.
Lokasi masjid berada tak jauh dari aliran Sungai Rowo, kawasan yang pada masa lalu masih berupa wilayah sunyi dan belum banyak penduduk.
Dari sinilah Islam berkembang secara perlahan melalui pendekatan dakwah kultural dan pendidikan keagamaan.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga pusat pembinaan mental dan spiritual masyarakat Tawangsari pada masa awal penyebaran Islam di Tulungagung.
Sosok Kyai Abu Manshur dan Latar Belakangnya
Kyai Haji Abu Manshur memiliki nama kecil Raden Qosim. Ia dikenal sebagai putra Amangkurat IV dari Kesultanan Mataram.
Alih-alih kembali ke lingkungan keraton, Raden Qosim memilih menempuh jalan dakwah dengan menetap di wilayah Tawangsari.
Sebelumnya, Raden Qosim menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo.
Di pesantren tersebut, ia kemudian dinikahkan dengan putri Kyai Ageng Basyariyah yang bernama Siti Fatimah, yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Nyai Tawangsari.
Setelah pernikahan tersebut, Raden Qosim menetap di Tawangsari dan mulai dikenal dengan gelar Kyai Abu Manshur. Dari sinilah dakwah Islam mulai berkembang secara sistematis di wilayah Tulungagung.
Peran Penting dalam Penguatan Nilai Islam
Menurut Siti Fatimah, keturunan keenam Kyai Abu Manshur sekaligus penerus Masjid Jami Tawangsari, pada sekitar tahun 1750 M, Kyai Abu Manshur mendapat mandat langsung dari Mangkubumi untuk memperkuat mental dan akidah masyarakat di wilayah Tawangsari.
Mandat tersebut memberikan otonomi penuh kepada Kyai Abu Manshur untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Islam kepada masyarakat setempat.
Pengajaran dilakukan melalui masjid dan pendopo yang dibangun sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial.
Peran inilah yang menjadikan Masjid Tawangsari Tulungagung bukan hanya simbol religi, tetapi juga pusat peradaban Islam di daerah tersebut pada masanya.
Destinasi Wisata Religi di Tulungagung
Hingga kini, Masjid Jami Tawangsari masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu destinasi wisata religi di Tulungagung.
Keberadaannya sering dikunjungi peziarah maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Islam di daerah ini.
Wisata religi di Tulungagung sendiri memiliki potensi besar karena menyimpan banyak situs bersejarah yang berkaitan dengan penyebaran Islam.
Masjid Tawangsari menjadi salah satu ikon penting yang merepresentasikan perjalanan panjang dakwah Islam di wilayah selatan Jawa Timur.
Melalui pengenalan sejarah Masjid Tawangsari Tulungagung, masyarakat diharapkan tidak hanya berwisata, tetapi juga memahami nilai perjuangan para ulama dalam menyebarkan Islam dengan cara damai dan berkelanjutan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula