RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Desa Ringin Pitu Tulungagung menyimpan jejak panjang kejayaan Majapahit yang hingga kini masih terawat di tengah kehidupan masyarakat desa.
Terletak di wilayah Kabupaten Tulungagung, desa yang kini tampak tenang ini ternyata pernah menjadi kawasan istimewa pada abad ke-15, sebagaimana tercatat dalam prasasti resmi Kerajaan Majapahit.
Tak banyak yang mengetahui, Desa Ringin Pitu dahulu bernama Perdikan Weringin Pitu Rajasa Kusumapura, sebuah wilayah berstatus khusus yang ditetapkan langsung oleh Raja Majapahit Prabu Brawijaya.
Status ini menjadikan Ringin Pitu sebagai daerah perdikan, yakni wilayah bebas pajak yang diperuntukkan bagi kepentingan keagamaan.
Sejarah Desa Ringin Pitu Tulungagung ini kembali diangkat melalui sebuah video dokumenter YouTube yang mengulas jejak Majapahit, prasasti kuno, hingga tradisi budaya yang masih hidup hingga sekarang.
Baca Juga: Sekolah Kedinasan 2026 Bertambah, Poltek PIN Resmi Dibuka: Lulusan SMA Punya Peluang Jadi CPNS
Prasasti Waringin Pitu dan Penetapan Hari Jadi Desa
Dalam kajian sejarah, Desa Ringin Pitu memiliki dasar bukti yang kuat. Prasasti Waringin Pitu yang dikeluarkan pada tahun 1447 Masehi menjadi penanda penting eksistensi desa ini pada masa Majapahit.
Prasasti tersebut terdiri dari 14 lempeng tembaga, meski satu di antaranya mengalami kerusakan.
Dari seluruh lempeng prasasti, lempeng ke-11 dan ke-9 secara khusus menyebut wilayah Weringin Pitu sebagai daerah perdikan golongan agama.
Prasasti ini kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta dan telah mengalami empat kali pembacaan oleh para ahli, dengan kesimpulan yang konsisten.
Tanggal 22 November 1447 kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Desa Ringin Pitu, setelah para arkeolog dan sejarawan memastikan kesesuaian wilayah yang tertulis dalam prasasti dengan batas geografis desa saat ini.
Situs Arkeologi dan Bukti Majapahit
Selain prasasti, bukti fisik peninggalan Majapahit juga ditemukan di wilayah Ringin Pitu. Salah satunya adalah Situs Mbah Krapyak, yang berupa arca Siwa lengkap dengan ornamen khas Majapahit.
Dari gaya pahatan dan simbol-simbolnya, arca tersebut dipastikan berasal dari era Majapahit.
Selain arca, ditemukan pula patirtan atau tempat penyucian air, lesung batu, hingga batu barudak yang memperkuat dugaan bahwa kawasan ini dulunya menjadi pusat aktivitas keagamaan.
Keberadaan situs-situs ini telah diteliti oleh arkeolog dan sejarawan, termasuk Dr. Dwi, yang menelusuri keterkaitan antara temuan lapangan dan isi prasasti Waringin Pitu.
Antara Sejarah dan Cerita Rakyat
Dalam perjalanan waktu, Desa Ringin Pitu juga dilingkupi oleh cerita rakyat atau dongeng yang hidup di tengah masyarakat.
Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Mbah Bicak atau Kiai Wicak, yang diyakini sebagai penggawa Majapahit pembabat hutan di wilayah selatan.
Tokoh ini dikaitkan dengan pusaka Tombak Kiai Korowelang, yang hingga kini menjadi ikon budaya desa.
Meski kisah Mbah Bicak lebih banyak bersumber dari tradisi tutur dan babad, makamnya tetap dirawat dan diziarahi masyarakat hingga sekarang.
Pemerintah desa menegaskan pentingnya membedakan antara bukti sejarah dan cerita rakyat, agar nilai budaya tetap terjaga tanpa mengaburkan fakta sejarah.
Menuju Desa Budaya dan Wisata Religi
Dengan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki, Desa Ringin Pitu kini tengah memantapkan langkah menuju Desa Budaya.
Sejak 2023, desa ini rutin menggelar kirab budaya dan kirab pusaka Tombak Kiai Korowelang sebagai agenda tahunan.
Selain itu, situs-situs peninggalan Majapahit seperti arca Siwa dan patirtan mulai ditata dan dirawat untuk dikembangkan sebagai wisata religi dan sejarah.
Harapannya, pengakuan sebagai desa budaya dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sejarah Desa Ringin Pitu Tulungagung tidak hanya menjadi kebanggaan warga setempat, tetapi juga menjadi bagian penting dari mozaik sejarah Majapahit yang masih hidup hingga hari ini.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula