RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Candi Sanggrahan Tulungagung menyimpan kisah panjang peradaban Majapahit yang berpadu dengan tradisi, ritual keagamaan, hingga cerita mistis yang masih hidup di tengah masyarakat.
Candi yang terletak di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, ini menjadi salah satu situs cagar budaya penting di Tulungagung.
Tak banyak yang mengetahui, Candi Sanggrahan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, tepatnya pada era pemerintahan Raja Hayam Wuruk sekitar tahun 1359–1389 Masehi.
Keberadaan candi ini menjadi bukti kuat bahwa wilayah Tulungagung pernah menjadi jalur penting aktivitas religius kerajaan besar di Nusantara.
Sejarah Candi Sanggrahan Tulungagung kembali menarik perhatian setelah diangkat dalam sebuah video dokumenter YouTube yang mengulas fungsi candi, proses pemugaran, hingga berbagai cerita rakyat yang berkembang di sekitarnya.
Struktur dan Ciri Khas Candi Sanggrahan
Candi Sanggrahan secara umum terdiri dari satu bangunan induk dan dua bangunan perwara. Bangunan induk memiliki ukuran panjang sekitar 13,5 meter, lebar 9,5 meter, dan tinggi 5,86 meter.
Candi ini dibangun menggunakan batu andesit dengan isian bata merah, berdiri di atas batur bata merah setinggi sekitar dua meter.
Menariknya, pada tubuh candi masih terdapat panel-panel kosong yang menunjukkan bahwa proses pengerjaan relief diduga tidak sepenuhnya selesai.
Relief yang sudah ada hanya menampilkan motif binatang berupa singa dan kelinci, berbeda dengan candi-candi Majapahit lain yang kaya ornamen.
Pusat Pemujaan Agama Buddha di Masa Majapahit
Berdasarkan kajian arkeologi, Candi Sanggrahan merupakan candi bercorak agama Buddha. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lima arca Buddha dengan posisi mudra yang berbeda-beda.
Arca-arca tersebut menghadap ke arah utara, selatan, dan barat.
Baca Juga: Sekolah Kedinasan 2026 Bertambah, Poltek PIN Resmi Dibuka: Lulusan SMA Punya Peluang Jadi CPNS
Demi alasan keamanan, seluruh arca Buddha kini disimpan di Museum Daerah. Fungsi utama candi ini diyakini sebagai tempat pemujaan sebelum Raja Hayam Wuruk melanjutkan perjalanan ziarah ke Candi Boyolangu, tempat neneknya, Gayatri Rajapatni, dipuja.
Nama Sanggrahan sendiri diduga berasal dari kata “pesanggrahan” yang berarti tempat singgah atau pemujaan, sesuai dengan fungsi candi pada masa itu.
Pemugaran dan Penetapan Cagar Budaya
Sejarah Candi Sanggrahan Tulungagung juga mencatat proses pemugaran panjang yang dilakukan sejak tahun 2014 hingga 2022. Pemugaran meliputi perbaikan struktur candi induk, tangga, serta penataan kawasan sekitar.
Kini, Candi Sanggrahan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Tulungagung. Selain bangunan candi, ditemukan pula berbagai artefak seperti meja batu, batu lapik, terakota, serta fragmen berbentuk kepala naga yang disimpan di area situs.
Antara Sejarah dan Cerita Mistis
Selain nilai sejarah, Candi Sanggrahan juga lekat dengan cerita rakyat dan pengalaman mistis. Warga sekitar meyakini bahwa kawasan ini dahulu digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah bangsawan Majapahit, meski hal tersebut tidak didukung bukti sejarah tertulis.
Sejumlah juru pelihara candi juga mengaku pernah mengalami kejadian tak biasa, seperti melihat sosok orang tua berjalan sambil tersenyum yang kemudian menghilang dalam hitungan detik.
Cerita-cerita tersebut berkembang sebagai bagian dari folklor lokal yang diwariskan turun-temurun.
Meski demikian, pengelola menegaskan tidak ada ritual khusus atau larangan bersifat mistis, kecuali imbauan agar pengunjung menjaga sikap, tidak berkata kasar, tidak memanjat bangunan candi, serta tidak menggunakan atribut pencak silat saat pengambilan foto atau video.
Potensi Wisata Religi dan Edukasi Sejarah
Hingga kini, Candi Sanggrahan masih aktif digunakan umat Buddha untuk melaksanakan upacara Waisak setiap tahunnya. Selain itu, masyarakat sekitar juga kerap melakukan tradisi sesaji dalam konteks budaya lokal.
Dengan kekayaan sejarah dan nilai religius yang dimiliki, Candi Sanggrahan berpotensi besar dikembangkan sebagai wisata religi dan edukasi sejarah di Tulungagung. Pengelola berharap generasi muda semakin peduli terhadap pelestarian cagar budaya agar warisan Majapahit ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula