Namun, juru kunci setempat, Mbah Ribut, menegaskan bahwa sebagian besar cerita yang berkembang di masyarakat hanyalah rumor yang salah kaprah dan diwariskan turun-temurun tanpa klarifikasi.
Mbah Ribut, yang telah menjadi juru kunci sejak 27 Januari 2000, menyampaikan bahwa dirinya merupakan generasi ketiga penjaga Makam Ngujang.
Selama lebih dari 25 tahun, ia kerap menerima tamu dari berbagai daerah, mulai dari Tulungagung, Blitar, Kediri, hingga luar pulau seperti Kalimantan dan Lampung. Mayoritas dari mereka datang dengan satu tujuan: berharap mendapat kekayaan melalui pesugihan kera Ngujang Tulungagung.
Baca Juga: Pedro Matos Resmi Gabung Persebaya, Siap Jadi Otak Lini Tengah
Asal Mula Julukan Pesugihan Kera
Menurut Mbah Ribut, penyebutan pesugihan kera muncul karena kawasan Makam Ngujang memang dihuni oleh kawanan kera. Namun, keberadaan kera tersebut bukanlah makhluk gaib jelmaan manusia atau hasil ritual tertentu.
“Kera di sini kera biasa, lahir, tua, mati, bahkan ada yang tertabrak kendaraan. Kalau kera gaib, tidak bisa mati,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tidak pernah ada praktik pesugihan instan, tumbal manusia, atau perjanjian gaib seperti yang sering diceritakan. Istilah pesugihan sendiri, kata Mbah Ribut, sering disalahartikan sebagai cara cepat kaya. Padahal, secara makna, pesugihan berarti upaya mencari rezeki, baik melalui usaha, doa, maupun laku spiritual.
Ngalap Berkah, Bukan Jalan Pintas
Mbah Ribut menekankan bahwa Makam Ngujang lebih tepat disebut sebagai tempat ngalap berkah. Orang-orang yang datang biasanya bertawasul, berdoa, dan memohon keberkahan dalam usaha mereka.
“Yang bertani minta panennya lancar, yang berdagang minta jualannya laris, yang jasa minta banyak pelanggan. Itu semua lewat sabar, ikhlas, dan jujur,” ujarnya.
Ia menolak keras anggapan bahwa di lokasi tersebut ada praktik jual beli tuyul atau ritual melihat sumur untuk menentukan tumbal. Cerita-cerita itu, menurutnya, justru muncul dari sugesti dan kisah yang dilebih-lebihkan dari mulut ke mulut.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Siap Hadapi Putaran Kedua Super League 2025-2026 dengan Amunisi Baru
Kerajaan Gaib dan Sosok Penjaga
Dalam tradisi lokal, memang diyakini ada unsur gaib yang menjaga kawasan Makam Ngujang. Mbah Ribut menyebut sosok Eyang Setono Renggo dan Den Ayu Siti Sundari sebagai penjaga spiritual tempat tersebut.
Eyang Setono Renggo diyakini sebagai murid Sunan Kalijaga yang bertutur luhur, sementara Den Ayu Siti Sundari digambarkan sebagai sosok putri yang elok.
Namun, ia menegaskan bahwa keyakinan tersebut bersifat kepercayaan personal. “Saya tidak pernah memaksa orang percaya. Saya hanya menceritakan versi yang saya pahami. Mau percaya atau tidak, itu hak masing-masing,” katanya.
Asal-Usul Desa Ngujang dan Kera
Nama Desa Ngujang sendiri memiliki beberapa versi cerita. Salah satunya berasal dari suara kera “ngu” dan wejangan “jang” yang konon terdengar saat Sunan Kalijaga memberikan ajaran.
Versi lain menyebutkan adanya santri yang naik ke pohon dan disabdai oleh Sunan Kalijaga. Semua versi tersebut, menurut Mbah Ribut, tidak bisa dipastikan kebenarannya secara mutlak.
Yang jelas, kera-kera di Ngujang tidak pernah bermigrasi jauh. Mereka tetap berada di kawasan tersebut karena diyakini “dilindungi”, bukan karena kekuatan pesugihan.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Boyong Skuad Baru Hadapi PSIM Yogyakarta
Pesan untuk Masyarakat
Menutup perbincangan soal pesugihan kera Ngujang Tulungagung, Mbah Ribut mengajak masyarakat agar tidak terjebak pada keinginan kaya instan.
Ia menekankan bahwa kekayaan sejati bukan hanya soal materi, tetapi juga ketenangan batin, kesabaran, dan keikhlasan.
“Lebih baik mencari rezeki dengan cara yang sulit tapi halal, daripada dapat mudah tapi membawa kesulitan di kemudian hari,” pesannya.
Ia berharap masyarakat tidak lagi salah memahami Makam Ngujang sebagai tempat pesugihan, melainkan sebagai ruang refleksi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Baca Juga: Persebaya Cari Striker Lokal, Tavares Akui Sulit Rekrut Pemain
Editor : Fadhilah Salsa Bella