Mitos pesugihan kera Ngujang menyebutkan bahwa para pencari kekayaan datang ke makam tersebut untuk meminta bantuan makhluk halus berwujud jin kera.
Ritualnya dipercaya melibatkan sesajen, meditasi, hingga perjanjian gaib yang harus ditaati demi mendapatkan rezeki berlimpah. Cerita ini menyebar luas dari mulut ke mulut, bahkan menarik perhatian orang-orang dari luar daerah.
Kepercayaan tersebut membuat Makam Ngujang juga dikenal dengan sebutan “Kesekan”, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti kera.
Bagi sebagian orang, kemunculan kera yang jumlahnya cukup banyak dan tidak jelas asal-usulnya dianggap sebagai tanda kuat adanya unsur mistis di kawasan tersebut.
Asal-usul Makam Ngujang dan Keberadaan Kera
Secara geografis, Makam Ngujang berada tidak jauh dari jalur utama Tulungagung–Kediri. Lokasinya berdampingan dengan area pemakaman umum dan kawasan hijau yang sejak lama menjadi habitat alami kera. Masyarakat sekitar meyakini bahwa kera-kera tersebut sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan menetap di kawasan itu secara turun-temurun.
Namun, hingga kini tidak ada catatan resmi yang menyebutkan bahwa kera di Makam Ngujang merupakan jelmaan manusia atau makhluk gaib. Secara logika, keberadaan kera dapat dikaitkan dengan faktor lingkungan yang masih mendukung kehidupan satwa liar, seperti pepohonan dan minimnya gangguan habitat pada masa lalu.
Mitos Ritual Pesugihan yang Beredar
Dalam cerita yang berkembang, pelaku pesugihan disebut harus datang pada malam-malam tertentu. Mereka membawa sesajen, melakukan tirakat atau bertapa di punden makam, lalu memohon bantuan jin kera agar diberi kekayaan tanpa harus bekerja keras. Setelah ritual selesai, pelaku diyakini hanya perlu menunggu hasil, asalkan patuh pada perjanjian gaib yang telah disepakati.
Perjanjian tersebut konon berisi larangan dan kewajiban tertentu. Jika dilanggar, pelaku pesugihan dipercaya akan mendapat kesialan, penyakit, atau bahkan kehilangan nyawa.
Narasi inilah yang membuat kisah pesugihan kera Ngujang terdengar menyeramkan sekaligus menggoda bagi mereka yang tengah terdesak masalah ekonomi.
Baca Juga: THR 2026 Cair Kapan? Ini Jadwal Lengkap Pencairan, Besaran THR Pekerja, hingga Sanksi Perusahaan
Antara Kepercayaan dan Fakta
Meski mitos pesugihan terus beredar, sebagian masyarakat Tulungagung menilai cerita tersebut lebih banyak dipengaruhi sugesti dan cerita turun-temurun.
Tidak sedikit warga yang datang ke Makam Ngujang semata-mata untuk ziarah atau sekadar melihat kera, tanpa tujuan ritual mistis.
Sejumlah tokoh masyarakat juga menegaskan bahwa tidak pernah ada bukti konkret mengenai praktik perjanjian jin di lokasi tersebut. Kepercayaan terhadap pesugihan kera dinilai sebagai bagian dari folklore Jawa yang kerap dilekatkan pada tempat-tempat yang dianggap angker atau tidak biasa.
Daya Tarik Mistis dan Wisata
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos pesugihan, Makam Ngujang tetap menjadi lokasi yang menarik perhatian. Selain nilai sejarah dan spiritual, keberadaan kera menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Banyak orang datang karena rasa penasaran setelah mendengar cerita mistis yang beredar luas di media sosial dan cerita lisan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah mitos mampu membentuk citra suatu tempat. Makam Ngujang bukan hanya dikenal sebagai situs pemakaman, tetapi juga sebagai simbol cerita mistis tentang kekayaan instan yang hidup dalam budaya masyarakat Jawa.
Baca Juga: Pedro Matos Resmi Gabung Persebaya, Siap Jadi Otak Lini Tengah
Pesan Bijak Menyikapi Mitos Pesugihan
Cerita tentang pesugihan kera Ngujang sejatinya dapat dijadikan bahan refleksi. Alih-alih mempercayai jalan pintas untuk kaya, banyak tokoh masyarakat mengajak publik untuk memandang kisah tersebut sebagai pelajaran budaya. Kerja keras, doa, dan usaha nyata tetap menjadi cara yang paling rasional untuk memperbaiki taraf hidup.
Mitos boleh hidup sebagai bagian dari tradisi, namun menyikapinya dengan nalar dan kebijaksanaan dinilai jauh lebih penting agar tidak terjebak dalam cerita yang belum tentu benar.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Siap Hadapi Putaran Kedua Super League 2025-2026 dengan Amunisi Baru
Editor : Fadhilah Salsa Bella