Kepercayaan itu muncul seiring keberadaan kera-kera yang hidup bebas di sekitar area makam dan dianggap tidak diketahui asal-usulnya.
Keberadaan kera tersebut membuat Makam Ngujang juga dikenal dengan sebutan Kesekan, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti kera.
Dari situlah berkembang keyakinan bahwa tempat ini memiliki keterkaitan dengan dunia gaib, khususnya praktik pesugihan kera Ngujang yang dipercaya melibatkan jin berwujud kera sebagai perantara kekayaan.
Cerita mengenai pesugihan kera Ngujang menyebar luas secara turun-temurun. Tak sedikit orang dari luar daerah datang dengan harapan bisa mengubah nasib ekonomi secara cepat, mengikuti mitos yang berkembang bahwa kekayaan bisa diperoleh tanpa kerja keras melalui ritual tertentu di kawasan makam tersebut.
Makam Ngujang dan Keberadaan Kera
Secara fisik, Makam Ngujang merupakan area pemakaman tua yang berada tidak jauh dari pemukiman warga dan jalur penghubung antarkecamatan.
Lingkungan sekitar yang masih memiliki pepohonan besar membuat kawasan ini menjadi habitat alami bagi kera. Dalam pandangan masyarakat setempat, kera-kera itu sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari identitas Makam Ngujang.
Namun, karena jumlahnya cukup banyak dan sering muncul di area pemakaman, kera tersebut kemudian dikaitkan dengan unsur mistis. Dari sinilah narasi pesugihan berkembang, menjadikan Makam Ngujang sebagai salah satu lokasi yang kerap disebut dalam daftar tempat angker dan mistis di Tulungagung.
Ritual Pesugihan Kera yang Dipercaya Masyarakat
Dalam mitos yang beredar, pelaku pesugihan kera Ngujang datang dengan tujuan meminta bantuan jin kera agar diberi rezeki atau kekayaan berlimpah. Ritual biasanya dilakukan secara diam-diam, pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral, seperti malam hari atau hari pasaran Jawa.
Pelaku disebut harus membawa sesajen sebagai syarat awal. Setelah itu, mereka melakukan meditasi, semedi, atau bertapa di punden Makam Ngujang.
Proses ini dipercaya sebagai bentuk komunikasi awal dengan jin kera yang dianggap sebagai penguasa gaib di lokasi tersebut.
Jika ritual dianggap berhasil, pelaku pesugihan diyakini akan melakukan perjanjian gaib. Dalam perjanjian itu, jin kera disebut bersedia membantu mendatangkan kekayaan, sementara pelaku wajib menaati syarat dan pantangan tertentu.
Setelahnya, mereka hanya perlu menunggu hasil dengan keyakinan bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya.
Konsekuensi dan Larangan dalam Mitos Pesugihan
Mitos juga menyebutkan bahwa pelanggaran terhadap perjanjian akan membawa dampak buruk. Mulai dari kesialan, penyakit, usaha yang bangkrut, hingga ancaman keselamatan jiwa.
Cerita-cerita inilah yang membuat praktik pesugihan terdengar menakutkan sekaligus menggoda bagi sebagian orang yang tengah terdesak kebutuhan ekonomi.
Meski demikian, kisah tersebut lebih banyak bersumber dari cerita lisan dan kepercayaan turun-temurun. Tidak ada bukti konkret atau catatan resmi yang membenarkan adanya praktik perjanjian jin di Makam Ngujang.
Antara Mitos, Budaya, dan Realitas
Bagi sebagian warga Tulungagung, cerita pesugihan kera Ngujang dipandang sebagai bagian dari folklor Jawa yang lahir dari perpaduan antara kondisi alam, simbol hewan, dan tradisi spiritual masyarakat.
Makam Ngujang sendiri tetap ramai dikunjungi, baik untuk ziarah, wisata lokal, maupun sekadar melihat kera yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Tokoh masyarakat setempat kerap mengingatkan agar kisah pesugihan tidak ditelan mentah-mentah. Mereka menilai, keberadaan kera lebih masuk akal dipahami sebagai fenomena alam dan lingkungan, bukan semata-mata pertanda praktik gaib.
Pelajaran di Balik Cerita Pesugihan
Terlepas dari kuatnya mitos yang berkembang, kisah tentang pesugihan kera sejatinya menjadi pengingat bahwa jalan pintas menuju kekayaan selalu diiringi risiko dan ketidakpastian. Kerja keras, usaha nyata, dan doa dinilai tetap menjadi cara paling rasional dan aman untuk memperbaiki taraf hidup.
Makam Ngujang pun akhirnya lebih tepat dipandang sebagai situs budaya dan cerita rakyat, bukan semata-mata tempat berburu kekayaan instan seperti yang selama ini dipercayai sebagian orang.
Editor : Fadhilah Salsa Bella