Keberadaan kera misterius Jembatan Ngujang Tulungagung dipercaya bukan sekadar hewan liar. Warga sekitar meyakini kera-kera tersebut memiliki keterkaitan dengan dunia gaib, mulai dari penjelmaan prajurit Majapahit yang dikutuk, hingga makhluk penjaga Sungai Brantas agar jembatan tetap kokoh dan tidak runtuh.
Cerita tentang kera misterius Jembatan Ngujang Tulungagung terus hidup secara turun-temurun. Terutama di kalangan pengendara malam, kisah ini kerap dibagikan sebagai pengalaman nyata yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Jembatan Ngujang dan Kawanan Kera yang Tak Biasa
Jembatan Ngujang merupakan salah satu akses penting di Kabupaten Tulungagung. Namun, sejak puluhan tahun lalu, jembatan ini identik dengan kawanan kera yang sering terlihat duduk di pagar pembatas atau berjalan di sekitar jalanan, terutama pada waktu tertentu.
Yang membuat warga heran, kemunculan kera tersebut sering kali terjadi tanpa sebab yang jelas. Mereka tidak datang bergerombol dari hutan atau kebun, melainkan seolah muncul begitu saja. Bahkan, warga mengamati jumlah kera itu seakan selalu sama dari waktu ke waktu.
Mitos Prajurit Majapahit yang Menjelma Kera
Salah satu mitos paling populer menyebutkan bahwa kera-kera di Jembatan Ngujang merupakan penjelmaan prajurit Majapahit. Konon, prajurit tersebut mendapat kutukan akibat pelanggaran sumpah atau kegagalan menjalankan tugas penting di masa lalu.
Kutukan itu dipercaya membuat mereka tidak bisa kembali ke wujud manusia dan harus menjaga kawasan Sungai Brantas dalam bentuk kera.
Keyakinan ini diperkuat oleh cerita bahwa jumlah kera tidak pernah berkurang. Jika ada yang mati tertabrak kendaraan atau sakit, akan selalu ada kera lain yang menggantikannya.
Penunggu Gaib Sungai Brantas
Versi lain menyebut kera-kera tersebut adalah makhluk gaib penjaga Sungai Brantas. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, sungai besar kerap diyakini memiliki penunggu atau penguasa alam gaib. Kera-kera di Jembatan Ngujang dianggap sebagai manifestasi penjaga tersebut.
Fungsinya diyakini untuk menjaga keseimbangan alam dan memastikan jembatan tetap aman. Itulah sebabnya, warga setempat cenderung tidak mengganggu atau menyakiti kera-kera tersebut. Bahkan, sebagian orang memilih menurunkan kecepatan kendaraan sebagai bentuk penghormatan.
Pengalaman Mistis Pengendara Malam
Cerita paling membuat bulu kuduk berdiri datang dari para pengendara yang melintas pada malam hari. Banyak yang mengaku melihat kera duduk berjajar di pagar jembatan, menatap tajam ke arah kendaraan yang lewat.
Tatapan itu sering digambarkan tidak seperti tatapan hewan biasa. Beberapa pengendara merasa seolah sedang diperhatikan atau “ditunggu” oleh sesuatu. Namun, tidak ada yang benar-benar tahu apa maksud dari kemunculan tersebut dan siapa yang sebenarnya mereka tunggu.
Tak jarang pula pengendara mengaku tiba-tiba merinding, mesin kendaraan terasa berat, atau suasana mendadak sunyi saat melintas di lokasi tersebut.
Antara Mitos dan Fenomena Alam
Meski sarat cerita mistis, sebagian kalangan menilai keberadaan kera di Jembatan Ngujang bisa dijelaskan secara logis. Sungai Brantas dan kawasan sekitarnya dulunya merupakan habitat alami satwa liar. Perubahan lingkungan membuat kera beradaptasi dan menjadikan jembatan sebagai wilayah teritorial.
Namun, keunikan pola kemunculan dan jumlah kera yang dianggap “selalu sama” membuat mitos tetap bertahan kuat. Bagi masyarakat setempat, cerita mistis bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Cerita yang Tak Pernah Usai
Hingga kini, misteri kera misterius Jembatan Ngujang Tulungagung belum pernah benar-benar terjawab. Apakah mereka sekadar satwa liar dengan perilaku unik, atau benar-benar penjaga gaib Sungai Brantas, semuanya kembali pada kepercayaan masing-masing.
Yang pasti, kisah ini telah menjadikan Jembatan Ngujang lebih dari sekadar infrastruktur. Ia berubah menjadi simbol misteri, tempat di mana logika dan kepercayaan bertemu, serta cerita yang terus hidup di tengah masyarakat Tulungagung.
Editor : Fadhilah Salsa Bella