RADAR TULUNGAGUNG – Candi Mirigambar Tulungagung menjadi salah satu peninggalan sejarah yang tak pernah habis dikupas.
Candi yang juga dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Angling Dharma ini menyimpan jejak peradaban kuno, relief cerita Panji, hingga mitos yang masih dipercaya warga sekitar hingga kini.
Terletak di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Candi Mirigambar Tulungagung diperkirakan berasal dari era Kerajaan Majapahit.
Namun, sejumlah temuan arkeologis menunjukkan candi ini kemungkinan dibangun jauh sebelum masa kejayaan Majapahit, bahkan sejak era Kediri dan Singhasari.
Hal tersebut disampaikan Suyoto, juru pelihara Candi Mirigambar, yang telah mengabdi sejak 2010. Ia merupakan generasi keempat penjaga candi yang secara turun-temurun menjaga situs bersejarah tersebut.
Jejak Sejarah dari Prasasti hingga Struktur Bangunan
Menurut Suyoto, berdasarkan kajian akademik terdapat empat penanda tahun Saka yang berkaitan dengan candi ini, yakni 1294, 1310, 1322, dan 1332 Saka.
Temuan ini menguatkan dugaan bahwa Candi Mirigambar berada di masa peralihan kekuasaan Majapahit, tepatnya antara Raja Hayam Wuruk dan Wikramawardhana.
“Pada pemugaran tahun 2021, ditemukan struktur bangunan lama berukuran sekitar 3,5 x 3,5 meter di bawah bangunan sekarang yang berukuran 7 x 7 meter. Ini menandakan Majapahit kemungkinan hanya memugar atau memperbarui bangunan yang sudah ada,” jelasnya.
Selain itu, ditemukan pula prasasti lempeng tembaga yang kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Salah satu lempeng memuat ancaman kutukan bagi siapa saja yang merusak Candi Mirigambar, sebuah ciri khas prasasti penetapan wilayah suci pada masa Hindu-Buddha.
Relief Cerita Panji di Kaki Candi
Baca Juga: Wajib Punya Akun! Ini Cara Registrasi Akun SNPMB Siswa 2026 untuk Daftar SNBP dan SNBT
Keunikan lain Candi Mirigambar Tulungagung terletak pada relief di bagian kaki candi.
Relief tersebut mengisahkan cerita Panji versi Kidung Wasengsari, yang mengangkat kisah Pangeran Wironamtani dari Kerajaan Kahuripan dan Putri Galuh Condrokirono.
Cerita ini menggambarkan perjuangan Panji mempertahankan tunangannya dari raja pesaing. Dari total 11 panel relief, hanya sebagian yang masih bisa dibaca.
Beberapa panel hilang akibat pencurian pada era 1970-an, sementara lainnya rusak dimakan usia.
Fungsi Pemujaan dan Jejak Keagamaan Hindu
Dari ornamen awan pada gapura dan temuan arca, Candi Mirigambar diyakini berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Ditemukannya arca Siwa serta relief burung Garuda—wahana Dewa Wisnu—menegaskan latar keagamaan Hindu pada candi ini.
Di bagian barat candi juga ditemukan bekas petirtaan atau tempat pemandian suci, lengkap dengan saluran air yang dahulu mengalir ke area persawahan dan pemukiman warga.
Mitos Angling Dharma dan Tiga Putri Raksasa
Selain nilai sejarah, Candi Mirigambar Tulungagung juga lekat dengan mitos Angling Dharma.
Masyarakat setempat meyakini candi ini sebagai tempat persinggahan Raja Angling Dharma saat menjalani masa pengembaraan tujuh tahun akibat melanggar sumpah kepada gurunya.
Dalam kisah tersebut, Angling Dharma bertemu tiga putri raksasa pemakan bangkai manusia. Konflik berujung kutukan yang mengubah Angling Dharma menjadi burung blis putih, sosok yang reliefnya diyakini masih bisa ditemukan di candi.
Hingga kini, cerita penampakan harimau, naga, dan sosok putri masih sering terdengar dari pengunjung maupun warga. Meski demikian, Suyoto menegaskan dirinya pribadi belum pernah mengalami kejadian mistis secara langsung.
Ajakan Melestarikan Warisan Leluhur
Di akhir perbincangan, Suyoto mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga peninggalan sejarah ini. Menurutnya, Candi Mirigambar bukan sekadar situs kuno, melainkan bukti peradaban yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Peninggalan zaman lampau ini harus tetap lestari,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula