RADAR TULUNGAGUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung bergerak cepat menindaklanjuti dugaan kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 3 Boyolangu. Tim surveilans langsung diterjunkan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengambilan sampel makanan guna memastikan sumber gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, menjelaskan bahwa menerima laporan adanya gangguan saluran cerna pada Selasa (20/1) sekitar pukul 11.00. “Kami mendapatkan informasi ada kasus gangguan saluran cerna dari konsumsi MBG yang diproduksi salah satu SPPG di Tulungagung. Dari laporan itu, kami langsung menindaklanjuti dengan menurunkan tim,” ujar dr Aris.
Tim yang diterjunkan terdiri dari petugas surveilans epidemiologi yang melakukan penyelidikan, baik di sekolah maupun di dapur penyedia MBG. Selain itu, dinkes juga memantau proses penyediaan, distribusi, serta mengambil sampel makanan yang diproduksi dan didistribusikan sehari sebelumnya. “Kami masih dalam proses pengumpulan data agar bisa mendapatkan hasil yang optimal, dari mana potensi permasalahan itu muncul,” jelasnya.
Hingga saat ini, laporan keluhan gangguan kesehatan masih terfokus pada SMKN 3 Boyolangu. Yaitu sebanyak 123 siswa. Jumlah tersebut tercatat di Dinkes Tulungagung. Namun, belum ada laporan serupa dari sekolah lain. Gejala yang dialami siswa mayoritas berupa diare tanpa disertai muntah atau mual. “Keluhannya lebih ke diare. Tidak ada yang mengeluhkan muntah,” kata dr Aris.
Sebagai langkah antisipasi, dinkes telah mengoptimalkan layanan kesehatan di seluruh 32 puskesmas di Tulungagung.
Kepala puskesmas diminta siaga setidaknya selama tiga hari ke depan untuk menangani kemungkinan keluhan lanjutan. “Kami sudah koordinasi dengan guru kelas agar menyampaikan ke wali murid, kalau ada keluhan sampai 2 hingga 3 hari ke depan, silakan datang ke puskesmas,” ungkapnya.
Dinkes juga mengimbau agar siswa yang mengalami keluhan diarahkan ke fasilitas kesehatan milik pemerintah agar data kasus bisa terpantau dengan baik.
Terkait pemeriksaan makanan, dr Aris menjelaskan bahwa sampel yang diperiksa merupakan sampel makanan yang didistribusikan ke SMKN 3 Boyolangu kemarin.
Dia menyebut setiap dapur MBG memiliki kewajiban menyimpan sampel makanan sesuai SOP. “Setiap kali ada proses masak, pasti ada sampel yang disimpan. Itu SOP-nya, disimpan di pendingin selama beberapa hari,” jelasnya.
Sampel makanan tersebut telah dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan (BPLK) Surabaya untuk dilakukan uji laboratorium. “Sampel dibawa ke BPLK Surabaya. Untuk estimasi hasilnya, kita belum bisa memastikan karena prosesnya bisa cukup panjang,” tambahnya.
Dia juga menjelaskan bahwa keluhan biasanya muncul sekitar 12 jam setelah konsumsi makanan. Karena itu, banyak siswa kemungkinan melakukan pengobatan mandiri pada malam hari sebelum melapor ke sekolah atau fasilitas kesehatan. “Keluhan muncul setelah 12 jam. Bisa jadi tengah malam mereka sudah melakukan pengobatan mandiri. Pagi harinya baru terpantau,” katanya.
Hingga kini (20/1), belum ada laporan terkait bertambahnya pasien yang mengalami gangguan pencernaan, dan belum ada laporan resmi terkait siswa yang dirawat inap di rumah sakit, “Sampai sekarang belum ada informasi soal rawat inap,” pungkas dr Aris.
Editor : Sandy Sri Yuwana