Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Update Dugaan Keracunan MBG di SMKN 3 Boyolangu, 75 Siswa Tidak Masuk Sekolah, Dinkes Lakukan Observasi

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 21 Januari 2026 | 18:56 WIB

 

Observasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung kepada siswa SMKN 3 Boyolangu, Rabu (21/1)
Observasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung kepada siswa SMKN 3 Boyolangu, Rabu (21/1)

RADAR TULUNGAGUNG – Satgas MBG Tulungagung bersama dinas kesehatan (dinkes) melakukan observasi lanjutan di lingkungan SMKN 3 Boyolangu, Rabu (21/1), menyusul dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi pada Senin (19/1) lalu.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan siswa dan guru, sekaligus menelusuri penyebab kejadian tersebut melalui survei epidemiologi (SE) dan pemeriksaan laboratorium kepada 2.000 siswa SMKN 3 Boyolangu.

Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro menjelaskan, pada hari ini telah dilakukan observasi lanjutan oleh dinkes selaku anggota Satgas MBG Tulungagung.

Kemudian, dia membenarkan bahwa telah dilakukan penutupan sementara kepada SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, sebagai langkah untuk tim satgas melakukan evaluasi atas dugaan gangguan pencernaan yang terjadi di SMKN 3 Boyolangu kemarin.

"Yang melakukan observasi dinkes selaku anggota satgas, dan dari korwil BGN juga telah melakukan penutupan sementara terhadap SPPG terkait, sambil tim satgas melakukan evaluasi," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnyan sebanyak 123 siswa SMKN 3 Boyolangu mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan dari SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan pada Senin (19/1).

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, menjelaskan bahwa setiap kejadian gangguan kesehatan massal akan ditindaklanjuti dengan prosedur standar berupa survei epidemiologi dan pengiriman sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium.

“Di saat ada kejadian seperti ini, otomatis ditindaklanjuti dengan survei epidemiologi dan pengiriman sampel makanan yang dikonsumsi kemarin,” jelas dr Aris.

Observasi menyasar seluruh pihak yang mengonsumsi MBG, baik siswa maupun guru. Survei epidemiologi tersebut merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) yang wajib dilakukan dalam setiap kasus dugaan keracunan makanan.

“Ini sudah SOP, memang harus dikerjakan setiap ada kejadian. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium supaya hasilnya sesuai keilmuan,” tambahnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pada hari Rabu (21/1), kondisi sebagian besar siswa yang masuk sekolah dinilai cukup baik. Namun tercatat sekitar 75 siswa tidak masuk sekolah dengan keterangan izin.

“Dari 75 yang tidak masuk, kita belum bisa memilah mana yang sakit karena keterbatasan data. Tapi siswa yang masuk hari ini, secara umum kondisinya bagus,” ungkap dr Aris.

Meski demikian, petugas masih menemukan satu siswa dengan keluhan sakit perut dan mulas. Siswa tersebut langsung diarahkan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pendampingan dan observasi medis.

“Kalau dalam observasi kondisinya membaik, bisa pulang. Tapi kalau belum membaik, bisa dilanjutkan dengan rawat inap,” jelasnya.

Keluhan yang muncul masih serupa dengan hari sebelumnya yakni mulas, diare, lemas, dan mual.

Menurut dr Aris, gejala gangguan saluran cerna akibat makanan dapat muncul lebih dari 24 jam setelah konsumsi, tergantung jenis kuman atau bakteri penyebabnya. “Bisa muncul lebih dari 24 jam, tergantung jenis kuman atau bakteri yang menyertainya,” terangnya.

Dinkes mengimbau pihak sekolah dan wali murid untuk tetap waspada, setidaknya selama tiga hari ke depan, karena keluhan bisa muncul secara terlambat. “Paling tidak kita waspadai sampai tiga hari ke depan, karena keluhan bisa delay atau tidak langsung muncul,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, dinkes telah berkoordinasi dengan 32 puskesmas serta rumah sakit di wilayah Tulungagung agar siap menangani jika ditemukan kasus lanjutan. “Kalau ada temuan gangguan kesehatan dari siswa SMKN 3 Boyolangu, segera dilaporkan ke kami,” pungkas dr Aris.

Editor : Sandy Sri Yuwana
#keracunan #tulungagung #MBG 2026