RADAR TULUNGAGUNG – Konsep slow living kini kian diminati, terutama oleh pelancong yang ingin sejenak menjauh dari hiruk pikuk kota besar.
Salah satu daerah yang menawarkan pengalaman tersebut adalah wisata Tulungagung, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dikenal dengan suasana tenang, kuliner khas, serta panorama alam yang memanjakan mata.
Perjalanan menuju wisata Tulungagung dimulai sejak subuh. Menggunakan Kereta Api Komuter Line Penataran dari Stasiun Sumber Pucung menuju Stasiun Tulungagung, perjalanan ditempuh sekitar dua jam lebih seperempat.
Suasana gerbong yang masih lengang menjadi pengalaman tersendiri, menghadirkan ketenangan sejak awal perjalanan.
Setibanya di Stasiun Tulungagung, perjalanan dilanjutkan dengan menyewa sepeda motor. Opsi ini dinilai praktis untuk menjelajah kota secara fleksibel.
Tarif sewa motor yang terjangkau, mulai Rp100 ribu per hari, menjadikan mobilitas selama mengeksplorasi wisata Tulungagung semakin mudah.
Menyapa Pagi dengan Kuliner Legendaris
Destinasi pertama adalah berburu sarapan khas daerah. Pilihan jatuh pada warung nasi pecel legendaris yang dikenal luas oleh warga lokal. Sajian nasi pecel dengan bumbu kacang gurih, dipadukan beragam lauk sederhana, menjadi menu favorit untuk mengawali hari.
Meski tampil apa adanya, warung ini selalu ramai pengunjung, menandakan kekuatan rasa yang konsisten dari waktu ke waktu.
Kuliner menjadi salah satu daya tarik utama wisata Tulungagung. Harga yang ekonomis dan cita rasa khas Jawa Timur menjadikan pengalaman kuliner di kota ini terasa autentik dan bersahaja.
Suasana Kota yang Tenang dan Bersahabat
Usai sarapan, perjalanan menyusuri jalanan kota memberikan kesan mendalam. Ruas jalan yang relatif lengang, minim kemacetan, serta tata kota yang rapi mencerminkan karakter slow living yang melekat kuat.
Berkendara motor di pagi hari menjadi momen terbaik untuk menikmati denyut kehidupan warga Tulungagung.
Rencana mengunjungi Pasar Senggol Bangoan sempat tertunda lantaran pasar tersebut hanya buka di hari tertentu. Namun, perjalanan berlanjut menuju Alun-alun Tulungagung, ruang publik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Alun-alun sebagai Pusat Aktivitas Warga
Alun-alun Tulungagung tampak hidup dengan kehadiran anak-anak, keluarga, hingga pedagang kaki lima. Fasilitas bermain anak, arena skateboard, serta ruang terbuka hijau yang bersih menjadikan kawasan ini ramah untuk semua usia.
Di sekeliling alun-alun berdiri berbagai bangunan penting, seperti pendopo kabupaten, kantor DPRD, perpustakaan daerah, masjid, hingga Mall Pelayanan Publik.
Kehadiran pepohonan rindang dan area yang tertata rapi menghadirkan suasana segar di tengah kota. Tak heran jika alun-alun menjadi salah satu titik favorit dalam wisata Tulungagung.
Menyantap Kuliner Jawa Klasik di Tegal Pule
Menjelang siang, perjalanan berlanjut ke Tegal Pule Jenang Lasimun, sebuah rumah makan berkonsep Jawa klasik yang berlokasi sekitar 15 menit dari pusat kota.
Mengusung sistem prasmanan, pengunjung dapat memilih berbagai menu tradisional seperti sayur lodeh, nasi jagung, botok tawon, hingga kotokan ikan pari.
Tidak hanya menawarkan cita rasa autentik, tempat ini juga menghadirkan suasana tempo dulu melalui ornamen joglo, perabot klasik, serta alunan musik gamelan.
Sensasi bersantap ditemani pemandangan sawah hijau menambah nilai lebih dalam pengalaman wisata Tulungagung.
Menutup Perjalanan di Puncak Jowin
Sebagai penutup, destinasi terakhir adalah Puncak Jowin, sebuah spot wisata alam di perbukitan Tulungagung. Dari ketinggian, pengunjung dapat menikmati panorama kota secara luas.
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari untuk menyaksikan matahari terbit, meski sore hari pun tetap menyuguhkan pemandangan yang menenangkan.
Dengan tiket masuk terjangkau dan akses jalan yang relatif aman, Puncak Jowin menjadi bukti bahwa wisata Tulungagung menyimpan potensi besar, baik dari sisi alam, kuliner, maupun budaya.
Kota ini layak menjadi pilihan bagi mereka yang mendambakan perjalanan santai penuh makna.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula