T
Dalam berbagai manuskrip dan tradisi lisan yang masih bertahan hingga kini, Mbah Kyai Abu Mansyur disebut sebagai putra kedelapan Prabu Amangkurat IV, Raja Mataram Islam yang berkuasa di Kartasura. Meski berasal dari darah biru, jalan hidupnya justru lebih banyak diabdikan untuk dakwah, pendidikan pesantren, dan pengabdian sosial di wilayah timur Mataram.
Putra Raja yang Memilih Jalan Dakwah
Mbah Kyai Abu Mansyur dikenal sebagai tokoh sufi. Gelar “Abu Mansyur” bukan sekadar nama, melainkan penanda keilmuannya dalam tasawuf. Ia disebut pernah menimba ilmu ke Jazirah Arab, termasuk Makkah dan wilayah Turki, sebelum kembali ke Jawa dan menetap di kawasan Tegalsari serta Tawangsari.
Pada masa itu, Kerajaan Mataram dilanda pergolakan besar, termasuk peristiwa Geger Pecinan. Banyak putra raja memilih meninggalkan pusat kekuasaan. Mbah Kyai Abu Mansyur termasuk di antaranya, namun dengan misi utama: mendakwahkan Islam dan menata masyarakat di wilayah pinggiran Mataram yang kala itu masih berupa rawa-rawa dan daerah terpencil.
Peran Vital dalam Lahirnya Tulungagung
Peran Mbah Kyai Abu Mansyur dalam sejarah Tulungagung sangat konkret. Arsip keraton mencatat adanya dua kekancingan atau surat keputusan dari Pakubuwono II dan Hamengkubuwono I yang memberikan kewenangan kepadanya atas wilayah Macan, Winong, dan Tawangsari. Ini menjadi dasar legitimasi perannya dalam membangun kawasan tersebut.
Wilayah yang kini menjadi pusat Kota Tulungagung dulunya adalah rawa besar dengan sumber air melimpah. Melalui prosesi spiritual dan rekayasa tata air, Mbah Kyai Abu Mansyur menata aliran sungai dari pusat sumber menuju Kalijenus, lalu dialirkan ke Sungai Ngrowo. Proses pengeringan rawa inilah yang kemudian melahirkan kawasan permukiman dan pusat pemerintahan baru.
Nama Tulungagung sendiri dipercaya berasal dari kata “telung sumber agung”, merujuk pada besarnya sumber air di kawasan tersebut.
Penentuan lokasi pendopo kabupaten, masjid, hingga penjara lama—yang kini menjadi kantor DPRD—semua tidak lepas dari arahan dan peran Mbah Kyai Abu Mansyur.
Simbol Spiritual dan Tata Kota
Penataan kota yang dilakukan Mbah Kyai Abu Mansyur sarat dengan simbol spiritual. Masjid, pendopo, gapura, hingga pepohonan ditata dengan filosofi Jawa-Islam yang kuat.
Pohon tanjung di depan masjid, misalnya, melambangkan keikhlasan beribadah tanpa mengharap pujian. Tata letak bangunan yang tidak lurus juga menyimpan pesan moral tentang dominasi kebaikan atas keburukan.
Di kawasan Sarean Sentono, terdapat prasasti yang secara eksplisit menyebut nama Tulungagung. Hal ini memperkuat bukti historis bahwa kelahiran kabupaten ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Mbah Kyai Abu Mansyur dan lingkar keluarganya, termasuk Putri Alap-alap yang juga dikenal memiliki pengaruh besar secara spiritual dan sosial.
Warisan yang Masih Hidup
Hingga kini, warisan Mbah Kyai Abu Mansyur masih terasa kuat. Tradisi ratib, tahlil khas Tegalsari, ziarah, hingga pencak silat dan seni tari masih dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Bahkan, struktur pesantren, masjid, dan pendopo di Tawangsari disebut sebagai refleksi dari kedalaman pemahaman beliau terhadap syariat dan tasawuf.
Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai lokasi makam aslinya—ada yang menyebut di Makkah, ada pula yang meyakini di Tulungagung—sosok Mbah Kyai Abu Mansyur tetap dikenang sebagai ulama, negarawan, dan perintis peradaban.
Lebih dari sekadar tokoh sejarah, ia menjadi simbol bagaimana kekuasaan, spiritualitas, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan seiring demi kemaslahatan bersama.
Editor : Fadhilah Salsa Bella