Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Tulungagung dari Zaman Manusia Purba hingga Era Digital, Jejak Panjang Peradaban di Tanah Pitulungan Agung

Fadhilah Salsa Bella • Kamis, 22 Januari 2026 | 21:05 WIB

Sejarah Tulungagung dari manusia purba, kerajaan besar, penjajahan, hingga era modern yang membentuk identitas daerah ini.
Sejarah Tulungagung dari manusia purba, kerajaan besar, penjajahan, hingga era modern yang membentuk identitas daerah ini.
RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Tulungagung terbentang sangat panjang, jauh sebelum wilayah ini dikenal sebagai kabupaten di Jawa Timur. Kabut pagi yang dulu menyelimuti dataran subur di kaki Gunung Wilis menjadi saksi awal kehidupan manusia purba yang menjejakkan kaki di kawasan ini ribuan tahun silam.

Jejak paling awal dalam sejarah Tulungagung ditemukan di Goa Songgento, dekat aliran sungai dan air terjun. Di tempat itu, manusia prasejarah dari masa Plistosen hidup berburu dan meramu.

Lukisan cap tangan di dinding gua menjadi pesan bisu yang menegaskan bahwa peradaban pernah tumbuh jauh sebelum nama Tulungagung dikenal.

Memasuki era neolitikum, sejarah Tulungagung berkembang dengan hadirnya budaya batu besar di lereng Gunung Wilis. Manusia mulai bercocok tanam, membangun permukiman sederhana, dan menganut kepercayaan animisme. Alam dipandang sakral, pohon besar dan batu unik dipercaya memiliki roh penjaga.

Baca Juga: Menyusuri JJLS dari Jembatan Pandan Simo ke Pantai Parangtritis, Jalur Ikonik Baru Yogya yang Picu Wisata dan Ekonomi Warga

Pengaruh Hindu-Buddha dan Penemuan Manusia Wajak

Perubahan besar terjadi pada awal Masehi ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Jawa Timur. Tulungagung, yang memiliki tanah subur dan akses air melimpah, menjadi bagian penting perkembangan budaya ini. Pusat permukiman dan peribadatan tumbuh di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Wajak.

Nama Tulungagung semakin dikenal dunia setelah penemuan fosil Manusia Wajak pada 1889. Temuan ini menjadi mata rantai penting dalam studi evolusi manusia Nusantara dan menempatkan Tulungagung dalam peta sejarah dunia.

Era Kerajaan Besar hingga Majapahit

Pada masa Medang Mataram Kuno hingga Kerajaan Kadiri, wilayah Tulungagung masuk dalam struktur pemerintahan kerajaan besar Jawa.

Bukti kejayaan masa itu masih dapat dilihat dari peninggalan arkeologis, salah satunya Candi Gayatri di Boyolango.

Candi tersebut dibangun pada masa Majapahit untuk menghormati Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya. Arsitekturnya mencerminkan puncak peradaban Hindu-Buddha dan menegaskan peran Tulungagung sebagai wilayah penting kerajaan.

Era Majapahit membawa Tulungagung pada masa keemasan. Sebagai daerah agraris, wilayah ini menjadi lumbung padi, jalur perdagangan, sekaligus pusat seni. Relief candi yang halus menunjukkan keahlian pemahat lokal yang diakui hingga kini.

Baca Juga: Pantai Sine Tulungagung Dijuluki Balinya Tulungagung: Pasir Putih, Tebing Alami, Fasilitas Lengkap hingga Ritual Budaya

Islamisasi dan Pemerintahan Mataram

Runtuhnya Majapahit membuka jalan masuknya Islam. Proses islamisasi di Tulungagung berlangsung damai melalui pedagang dan ulama. Pesantren tradisional mulai berdiri, menjadi pusat pendidikan dan dakwah.

Saat Kesultanan Mataram Islam berkuasa, Tulungagung dikelola sebagai wilayah kadipaten. Struktur pemerintahan tradisional mulai terbentuk dengan pengangkatan bupati sebagai penguasa lokal di bawah Sultan.

Perjanjian Giyanti 1755 memecah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Tulungagung masuk wilayah Surakarta, meski para bupati memiliki otonomi luas dalam menjalankan pemerintahan.

Kolonialisme hingga Perjuangan Kemerdekaan

Masuknya Belanda membawa perubahan drastis dalam sejarah Tulungagung. Infrastruktur dibangun untuk kepentingan kolonial, sementara rakyat dipaksa bekerja dalam sistem tanam paksa. Penderitaan rakyat memicu perlawanan kultural dan spiritual.

Abad ke-20 melahirkan kaum terpelajar. Organisasi pergerakan nasional tumbuh, hingga masa pendudukan Jepang yang penuh penderitaan melalui kerja paksa romusha. Namun dari masa gelap itu, semangat kemerdekaan menguat.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Tulungagung menjadi bagian Republik Indonesia. Perang mempertahankan kemerdekaan berlangsung sengit, dengan rakyat mendukung pejuang melalui logistik dan informasi.

Baca Juga: Pantai Sepanjang Gunung Kidul Makin Terbuka dan Viral, Jalan Baru Mulus hingga Dijuluki Pantai Kuta Tempo Dulu

Tulungagung Modern dan Tantangan Zaman

Era Orde Baru membawa stabilitas dan pembangunan, termasuk berkembangnya industri marmer yang menjadi ciri khas Tulungagung. Reformasi 1998 membuka era demokrasi dan otonomi daerah.

Kini, Tulungagung menghadapi tantangan globalisasi. Pertanian, industri marmer, seni wayang kulit, hingga budaya lokal harus beradaptasi dengan zaman digital. Namun tradisi tetap hidup berdampingan dengan modernitas.

Sejarah Tulungagung bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kisah hidup tentang ketahanan, adaptasi, dan semangat pitulungan agung yang terus mengalir seperti Sungai Ngrowo, menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan.

Baca Juga: Pantai Lumbung Tulungagung Berubah Total: Akses Kini Mulus Bak Pantai Pacar, Tiket Masuk Terbaru dan Peringatan Bahaya Ombak

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#sejarah tulungagung #tulungagung jawa timur #Candi Gayatri #kerajaan majapahit #Manusia Wajak