Jejak paling awal dalam sejarah Tulungagung ditemukan di Goa Songgento, dekat aliran sungai dan air terjun. Di tempat itu, manusia prasejarah dari masa Plistosen hidup berburu dan meramu.
Lukisan cap tangan di dinding gua menjadi pesan bisu yang menegaskan bahwa peradaban pernah tumbuh jauh sebelum nama Tulungagung dikenal.
Memasuki era neolitikum, sejarah Tulungagung berkembang dengan hadirnya budaya batu besar di lereng Gunung Wilis. Manusia mulai bercocok tanam, membangun permukiman sederhana, dan menganut kepercayaan animisme. Alam dipandang sakral, pohon besar dan batu unik dipercaya memiliki roh penjaga.
Pengaruh Hindu-Buddha dan Penemuan Manusia Wajak
Perubahan besar terjadi pada awal Masehi ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Jawa Timur. Tulungagung, yang memiliki tanah subur dan akses air melimpah, menjadi bagian penting perkembangan budaya ini. Pusat permukiman dan peribadatan tumbuh di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Wajak.
Nama Tulungagung semakin dikenal dunia setelah penemuan fosil Manusia Wajak pada 1889. Temuan ini menjadi mata rantai penting dalam studi evolusi manusia Nusantara dan menempatkan Tulungagung dalam peta sejarah dunia.
Era Kerajaan Besar hingga Majapahit
Pada masa Medang Mataram Kuno hingga Kerajaan Kadiri, wilayah Tulungagung masuk dalam struktur pemerintahan kerajaan besar Jawa.
Bukti kejayaan masa itu masih dapat dilihat dari peninggalan arkeologis, salah satunya Candi Gayatri di Boyolango.
Candi tersebut dibangun pada masa Majapahit untuk menghormati Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya. Arsitekturnya mencerminkan puncak peradaban Hindu-Buddha dan menegaskan peran Tulungagung sebagai wilayah penting kerajaan.
Era Majapahit membawa Tulungagung pada masa keemasan. Sebagai daerah agraris, wilayah ini menjadi lumbung padi, jalur perdagangan, sekaligus pusat seni. Relief candi yang halus menunjukkan keahlian pemahat lokal yang diakui hingga kini.
Islamisasi dan Pemerintahan Mataram
Runtuhnya Majapahit membuka jalan masuknya Islam. Proses islamisasi di Tulungagung berlangsung damai melalui pedagang dan ulama. Pesantren tradisional mulai berdiri, menjadi pusat pendidikan dan dakwah.
Saat Kesultanan Mataram Islam berkuasa, Tulungagung dikelola sebagai wilayah kadipaten. Struktur pemerintahan tradisional mulai terbentuk dengan pengangkatan bupati sebagai penguasa lokal di bawah Sultan.
Perjanjian Giyanti 1755 memecah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Tulungagung masuk wilayah Surakarta, meski para bupati memiliki otonomi luas dalam menjalankan pemerintahan.
Kolonialisme hingga Perjuangan Kemerdekaan
Masuknya Belanda membawa perubahan drastis dalam sejarah Tulungagung. Infrastruktur dibangun untuk kepentingan kolonial, sementara rakyat dipaksa bekerja dalam sistem tanam paksa. Penderitaan rakyat memicu perlawanan kultural dan spiritual.
Abad ke-20 melahirkan kaum terpelajar. Organisasi pergerakan nasional tumbuh, hingga masa pendudukan Jepang yang penuh penderitaan melalui kerja paksa romusha. Namun dari masa gelap itu, semangat kemerdekaan menguat.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Tulungagung menjadi bagian Republik Indonesia. Perang mempertahankan kemerdekaan berlangsung sengit, dengan rakyat mendukung pejuang melalui logistik dan informasi.
Tulungagung Modern dan Tantangan Zaman
Era Orde Baru membawa stabilitas dan pembangunan, termasuk berkembangnya industri marmer yang menjadi ciri khas Tulungagung. Reformasi 1998 membuka era demokrasi dan otonomi daerah.
Kini, Tulungagung menghadapi tantangan globalisasi. Pertanian, industri marmer, seni wayang kulit, hingga budaya lokal harus beradaptasi dengan zaman digital. Namun tradisi tetap hidup berdampingan dengan modernitas.
Sejarah Tulungagung bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kisah hidup tentang ketahanan, adaptasi, dan semangat pitulungan agung yang terus mengalir seperti Sungai Ngrowo, menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan.
Editor : Fadhilah Salsa Bella