RADAR TULUNGAGUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung langsung mengambil langkah cepat menyikapi munculnya dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sembilan siswa SMK Sore Tulungagung, Kamis (22/1).
Seluruh korban kini menjalani observasi intensif di Puskesmas Beji, Tulungagung dengan pengawasan tenaga medis.
Begitu menerima laporan sekitar pukul 13.00 WIB, Dinkes Tulungagung segera menerjunkan tim surveilans epidemiologi untuk melakukan penelusuran awal.
Baca Juga: Sembilan Siswa SMK Sore Tulungagung Diduga Keracunan Menu MBG, Jalani Perawatan di Puskesmas Beji
Langkah pertama yang dilakukan yakni mengamankan sampel makanan baik dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Moyoketen 1 maupun sisa menu yang dikonsumsi siswa di sekolah.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kontaminasi patogen maupun zat kimia berbahaya pada menu MBG, khususnya dori katsu yang berbahan dasar ikan.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Saat ini masih proses uji laboratorium,” tegasnya.
Namun demikian, dari hasil penelusuran awal, Dinkes menemukan kendala logistik dalam pendistribusian MBG pada hari kejadian.
Kapasitas dapur SPPG Moyoketen 1 dinilai tidak sebanding dengan jumlah sasaran. Dari total sekitar 2.900 siswa, kemampuan produksi dapur hanya berkisar 2.600-an porsi.
Kondisi tersebut menyebabkan pergeseran jadwal distribusi, dari semula pukul 09.00 WIB menjadi sekitar pukul 10.00 WIB.
Pergeseran ini memunculkan kekhawatiran terhadap holding time, yakni durasi penyimpanan makanan sebelum dikonsumsi siswa.
“Ini menjadi salah satu faktor risiko, terutama untuk menu berbahan ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu dan waktu,” jelas Aris.
Selain itu, Dinkes juga tidak menutup kemungkinan adanya faktor eksternal. Sebab, akibat keterlambatan distribusi MBG, sejumlah siswa dilaporkan sempat mengonsumsi jajanan di luar sekolah sebelum makan menu MBG.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Dinkes Tulungagung menetapkan status siaga di seluruh puskesmas selama 3×24 jam ke depan.
Kebijakan ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala susulan, mengingat beberapa bakteri atau toksin memiliki masa inkubasi tertentu.
Dari total 2.627 siswa SMK Sore Tulungagung penerima MBG, hingga kini baru sembilan siswa yang menunjukkan gejala klinis berupa mual, pusing, hingga diare. ****
Editor : Dharaka R. Perdana