JAKARTA – Babad Tulungagung menjadi salah satu warisan intelektual Nusantara yang menyimpan kisah sejarah, legenda, dan nilai budaya yang mendalam. Di balik cerita rakyat yang berkembang turun-temurun, babad ini dipercaya berkaitan erat dengan peristiwa penting yang mengantarkan Perwira Mada naik pangkat hingga kelak dikenal sebagai Patih Gajah Mada, tokoh besar Kerajaan Majapahit.
Dalam kisah Babad Tulungagung, muncul sosok sentral bernama Roro Kembang Sore, seorang perempuan cantik yang nasib hidupnya dipenuhi tragedi, pengkhianatan, dan luka batin. Cerita ini tidak berdiri sebagai dongeng semata, melainkan dipercaya memiliki rujukan sejarah, meski beberapa bagian mengalami pengayaan naratif demi menjaga harmoni kisah.
Sosok Roro Kembang Sore dan Resi Winandi
Babad Tulungagung mengisahkan bahwa Roro Kembang Sore sejatinya adalah Resi Winandi, seorang pendeta wanita yang bertapa di Gunung Cilik. Sosok resi tersebut merupakan samaran dari perempuan bangsawan yang menyimpan duka mendalam akibat pengkhianatan dan kehilangan orang-orang terkasih.
Ibunda Roro Kembang Sore, Roro Mursodo, datang menjenguk putrinya yang telah lama terpisah. Pertemuan itu dipenuhi tangis dan kepedihan, sebab keluarga mereka telah porak-poranda. Suami Roro Mursodo, Pangeran Berdalem, telah wafat, begitu pula Roro Inggit, adik kandungnya. Luka batin itulah yang membentuk kepribadian Roro Kembang Sore menjadi sosok yang tegar namun menyimpan dendam dan kesedihan mendalam.
Baca Juga: Pesona Jalur Lintas Selatan Tulungagung–Trenggalek yang Viral di Media Sosial
Cinta Terlarang dengan Pangeran Lembu Peteng
Tragedi Babad Tulungagung mencapai puncaknya ketika Roro Kembang Sore bertemu Pangeran Lembu Peteng, seorang bangsawan Majapahit yang gagah perkasa. Pertemuan mereka di taman kabupaten menjadi awal kisah cinta pertama bagi Kembang Sore. Keduanya jatuh cinta tanpa menyadari bahwa hubungan tersebut akan membawa malapetaka besar.
Pangeran Lembu Peteng sejatinya tengah menjalankan tugas mencari Kyai Besari dan Adipati Kalang. Namun pesona Roro Kembang Sore membuatnya lupa akan kewajiban. Hubungan asmara ini ternyata diketahui oleh Pangeran Kalang, paman Kembang Sore, yang kemudian melaporkannya kepada Pangeran Berdalem.
Pengkhianatan dan Pembunuhan
Murka Pangeran Berdalem memuncak ketika mengetahui putrinya menjalin hubungan dengan Lembu Peteng, yang tak lain adalah teman seperguruannya di masa lalu. Konflik bersenjata pun tak terelakkan. Dalam pengejaran, Pangeran Lembu Peteng akhirnya dibunuh oleh Kyai Besari dan Pangeran Berdalem. Jenazahnya dibuang ke sungai, disaksikan langsung oleh Roro Kembang Sore.
Peristiwa ini menjadi titik balik hidup Kembang Sore. Ia menolak kembali bersama ayahnya dan memilih melarikan diri. Trauma dan duka mendalam mendorongnya mengembara hingga tiba di Desa Dadapan, tempat ia menumpang di rumah seorang janda bernama Mbok Rondo Dadapan.
Gunung Budeg dan Kutukan Kata
Di Desa Dadapan, Roro Kembang Sore berhadapan dengan Joko Bodo, anak Mbok Rondo, yang terpikat pada kecantikannya. Lamaran Joko Bodo berkali-kali ditolak hingga akhirnya ia diminta bertapa. Ketika Mbok Rondo mengumpat anaknya yang hanya diam seperti batu, petir menyambar dan Joko Bodo benar-benar berubah menjadi batu. Dari peristiwa inilah muncul legenda Gunung Budeg.
Jalan Takdir menuju Gajah Mada
Dalam lanjutan Babad Tulungagung, Resi Winandi mengatur siasat untuk menumbangkan Adipati Kalang. Identitas aslinya sebagai Roro Kembang Sore terungkap, membuat Adipati Kalang ketakutan dan melarikan diri. Ia kemudian diburu oleh pasukan Perwira Mada.
Peristiwa penumpasan Adipati Kalang inilah yang diyakini menjadi salah satu faktor penting diangkatnya Perwira Mada menjadi Patih Gajah Mada. Adipati Kalang tewas secara tragis, sementara Roro Kembang Sore memilih mengakhiri hidupnya dalam pertapaan hingga wafat.
Babad Tulungagung bukan sekadar kisah cinta dan dendam, tetapi juga potret bagaimana tragedi personal dapat berkelindan dengan lahirnya tokoh besar dalam sejarah Majapahit. Kisah ini menjadi pengingat bahwa sejarah Nusantara dibangun dari perpaduan antara fakta, legenda, dan nilai moral yang terus hidup hingga kini.
Editor : Natasha Eka Safrina