TULUNGAGUNG – Sejarah Reco Pentung Tulungagung menjadi salah satu kisah paling monumental dalam perjalanan ekonomi rakyat di Jawa Timur. Berawal dari seorang anak buruh lapangan, Sumiran Karsodiwiryo, merek rokok kretek Reco Pentung pernah menjelma menjadi raksasa industri lokal yang menyerap ribuan tenaga kerja dan mengubah wajah Tulungagung menjadi kota industri.
Sumiran Karsodiwiryo lahir pada 9 September 1921 di sebuah desa kecil di Tulungagung. Ia merupakan putra sulung dari pasangan Kars Guno dan Tukinem, keluarga sederhana yang hidup dari pekerjaan kasar. Sejak usia enam tahun, Sumiran sudah terbiasa membantu ayahnya menggali tanah, menimba air, hingga bekerja di bawah terik matahari. Kehidupan keras itu membentuk karakter pantang menyerah yang kelak menjadi fondasi kesuksesannya.
Pendidikan formal Sumiran terbilang sederhana. Ia hanya mengenyam Sekolah Rakyat (SR) angkatan pertama pada 1933 dan angkatan kedua pada 1935. Namun, pelajaran hidup justru ia dapatkan dari pengalaman bekerja sejak kecil. Ia mulai berdagang kecil-kecilan, menjajakan pisang goreng, kacang, hingga serabi ke kampung-kampung demi membantu ekonomi keluarga.
Baca Juga: Pantai Coro Tulungagung, Surga Tersembunyi dengan Pasir Putih dan Laut Biru
Lahirnya Reco Pentung dari Dapur Rumah
Momentum penting dalam sejarah Reco Pentung Tulungagung terjadi pada Mei 1946. Pasca pendudukan Belanda, Sumiran memulai usaha pembuatan rokok kretek kelobot secara rumahan. Bersama istrinya, Supatmi, ia meracik tembakau dan melinting rokok secara manual tanpa mesin. Produk awalnya diberi nama Cap Ikan Dorang dan dijajakan sendiri dari pasar ke pasar.
Nama Reco Pentung mulai dikenal luas setelah peristiwa tahun 1948, ketika Belanda kembali menduduki Tulungagung dan merobohkan Patung Reco Pentung, ikon kota yang berada di perbatasan wilayah. Alih-alih patah semangat, Sumiran justru menjadikan nama Reco Pentung sebagai simbol perlawanan dan kebangkitan. Merek rokok Reco Pentung pun resmi diluncurkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ikon yang diruntuhkan penjajah.
Produksi awal hanya melibatkan 5 hingga 20 pekerja. Namun, cita rasa kretek yang kuat dan khas membuat Reco Pentung cepat diterima pasar. Dalam beberapa tahun, jumlah karyawan melonjak hingga ribuan orang. Pabrik rokok Reco Pentung menjadi denyut nadi ekonomi Tulungagung dan memberi penghidupan bagi banyak keluarga.
Jatuh Bangun Industri Kretek Lokal
Memasuki era 1960-an, usaha Reco Pentung kembali diuji. Situasi politik nasional pasca peristiwa G30S PKI membuat industri rokok terpukul. Produksi menurun drastis, ribuan pekerja terpaksa dirumahkan, dan hanya puluhan karyawan yang tersisa. Namun, Sumiran tidak menyerah.
Ia berinovasi dengan meluncurkan sigaret kretek putih bermerek Gaya Baru pada awal 1970-an. Puncaknya terjadi pada 1982 ketika merek Reco Pentung dihidupkan kembali dengan kualitas lebih tinggi. Kebangkitan ini membawa Reco Pentung mencapai masa keemasan. Pada 1991, jumlah karyawan mencapai sekitar 4.500 orang, menjadikannya salah satu pabrik rokok terbesar di Jawa Timur bagian selatan.
Produk Reco Pentung berkembang ke berbagai varian, seperti rokok filter Minah, Reco Pentung Wasiat, dan Reco Pentung Jaya, bersaing dengan merek nasional dari Kudus seperti Gudang Garam dan Djarum. Sumiran juga aktif secara sosial dan organisasi, pernah menjabat Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) serta berperan dalam pengembangan wisata Pantai Popoh melalui PT Sutera Bina Samudra.
Akhir Sebuah Era dan Warisan Sejarah
Memasuki 1990-an, industri rokok nasional mulai didominasi perusahaan besar bermodal kuat dan teknologi modern. Reco Pentung yang masih mengandalkan sistem semi-manual kian terdesak. Kenaikan cukai dan biaya produksi mempercepat kemunduran. Sekitar 1995, pabrik Reco Pentung resmi berhenti beroperasi.
Meski demikian, sejarah Reco Pentung Tulungagung tidak berhenti begitu saja. Sumiran telah menyiapkan putranya, Ismanu Sumiran, sebagai penerus. Ismanu mencoba mempertahankan karakter lokal perusahaan dengan pendekatan manajerial yang lebih modern, meski pada akhirnya arus globalisasi sulit dibendung.
Di balik kejayaannya, muncul pula mitos yang mengaitkan kesuksesan Reco Pentung dengan Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Namun keluarga menegaskan bahwa Sumiran adalah seorang muslim taat dan pencinta budaya Jawa, bukan pelaku pesugihan. Bagi warga Tulungagung, Reco Pentung tetap menjadi simbol perjuangan rakyat—kisah tentang kerja keras, ketekunan, dan keberanian membangun dari nol.
Editor : Natasha Eka Safrina