Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Nama Tulungagung: Dari Sumber Air Besar, Kabupaten Ngrowo, hingga Jadi Kota Ramai Seperti Sekarang

Dinar Ananda Putri • Rabu, 28 Januari 2026 | 23:45 WIB
Asal usul nama Tulungagung terungkap dari sejarah sumber air besar, Kabupaten Ngrowo, hingga legenda alun-alun dan Ringin Kurung
Asal usul nama Tulungagung terungkap dari sejarah sumber air besar, Kabupaten Ngrowo, hingga legenda alun-alun dan Ringin Kurung

RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul nama Tulungagung tidak muncul secara tiba-tiba. Nama daerah di selatan Jawa Timur ini lahir dari proses sejarah panjang yang melibatkan kondisi alam, perluasan wilayah, hingga kisah spiritual yang melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Dari wilayah rawa yang sulit dihuni, Tulungagung berkembang menjadi kota yang ramai dan subur seperti sekarang.

Dalam riwayat lama, asal usul nama Tulungagung berkaitan erat dengan keberadaan sumber air besar yang berada di sekitar pusat kota. Wilayah yang kini menjadi alun-alun Tulungagung dulunya merupakan titik penting berupa lingkaran pemukiman yang mencakup Desa Kauman dan Kampung Dalem. Di lokasi inilah sejarah Tulungagung mulai terukir.

Secara etimologis, asal usul nama Tulungagung berasal dari dua kata, yakni “Tulung” dan “Agung”. Tulung dalam bahasa Sanskerta berarti sumber air, sedangkan dalam bahasa Jawa juga dimaknai sebagai pertolongan. Sementara itu, Agung berarti besar. Gabungan keduanya melahirkan makna “sumber air besar” sekaligus “pertolongan besar”, dua unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Tulungagung.

Dari Rawa-Rawa ke Kabupaten Ngrowo

Sebelum dikenal sebagai Tulungagung, wilayah ini lebih dahulu disebut Kabupaten Ngrowo. Nama tersebut sesuai dengan kondisi geografisnya yang didominasi rawa-rawa luas. Aktivitas masyarakat pada masa itu sangat bergantung pada jalur air. Sungai Ngrowo menjadi urat nadi kehidupan sekaligus jalur transportasi utama.

Tak mengherankan jika lokasi-lokasi yang sering disebut dalam sejarah dan cerita rakyat berada tak jauh dari sungai. Beberapa di antaranya adalah Gledug, Pacet, Ketandan, hingga kawasan pemukiman tua lainnya. Wilayah Ngrowo kala itu berada di bawah kekuasaan para tumenggung yang mendapat perlindungan dari Kerajaan Mataram.

Di kawasan rawa tersebut terdapat banyak sumber air. Salah satu yang terbesar atau dianggap “agung” berada tepat di lokasi alun-alun Tulungagung saat ini. Keberadaan sumber air besar inilah yang kemudian melahirkan penamaan Tulungagung sebagai identitas wilayah.

Perluasan Wilayah dan Pertolongan Besar

Seiring perubahan status dari temanggungan menjadi kabupaten pada abad ke-19, wilayah Ngrowo membutuhkan perluasan. Rawa saja tidak cukup untuk menopang kemakmuran masyarakat. Oleh karena itu, bantuan wilayah dari kabupaten sekitar menjadi sangat penting.

Kabupaten Blitar menyumbangkan wilayah daratan, Ponorogo memberikan daerah pegunungan, Trenggalek menyumbang kawasan barat, dan Pacitan menyerahkan wilayah pesisir selatan. Bantuan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan wilayah Tulungagung modern dan dipandang sebagai “pertolongan besar” bagi Kabupaten Ngrowo.

Pergantian Nama Resmi Menjadi Tulungagung

Hingga bupati ke-11, wilayah ini masih dikenal dengan nama Kabupaten Ngrowo. Baru pada tahun 1901, nama tersebut resmi diganti menjadi Tulungagung. Saat itu, jabatan bupati dipegang oleh Raden Prawiro Widjojo yang memimpin sejak 1896 hingga 1901.

Meski sudah berganti nama, Tulungagung sempat dijuluki sebagai kota banjir. Hal ini disebabkan oleh melimpahnya sumber air dan kondisi rawa yang belum sepenuhnya tertangani. Namun, justru dari persoalan inilah lahir upaya besar untuk menata wilayah.

Legenda Penyumbatan Sumber Air dan Ringin Kurung

Pembangunan pusat pemerintahan dan alun-alun Tulungagung juga diwarnai kisah spiritual. Setelah gagal membangun alun-alun di Kalangbret dan Ringinpitu akibat perbedaan pendapat para tumenggung, petunjuk dari Keraton Mataram akhirnya diperoleh.

Petunjuk tersebut mengarah pada lokasi di utara Ngrowo yang memiliki sumber air besar. Untuk melaksanakan penyumbatan sumber air, Kyai Kosim alias Kyai Abu Mansyur dari Desa Tawangsari dimintai pertolongan. Prosesnya melibatkan ritual, pengorbanan kerbau bule, serta penanaman pohon beringin yang berasal dari Mataram.

Setelah sumber air berhasil dialihkan ke Sungai Ngrowo, rawa-rawa perlahan mengering dan berubah menjadi tanah subur. Pohon beringin yang tumbuh di tengah alun-alun kemudian dikenal dengan nama Ringin Kurung. Meski tumbang akibat angin besar pada 1947, peristiwa ini menjadi simbol keberhasilan “pertolongan besar” yang membentuk Tulungagung hingga seperti sekarang.

 

Editor : Dinar Ananda Putri
#Ringin Kurung #Sungai Ngrowo #asal usul nama Tulungagung #sejarah tulungagung #Kabupaten Ngrowo