Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Tulungagung Terungkap Lengkap: Dari Jejak Manusia Purba, Kerajaan Besar Nusantara, Hingga Jadi Kabupaten Maju Jawa Timur

Natasha Eka Safrina • Kamis, 29 Januari 2026 | 07:16 WIB

Sejarah Tulungagung lengkap dari manusia purba, kerajaan besar Nusantara, masa kolonial, hingga berkembang jadi kabupaten maju Jawa Timur.
Sejarah Tulungagung lengkap dari manusia purba, kerajaan besar Nusantara, masa kolonial, hingga berkembang jadi kabupaten maju Jawa Timur.

JAKARTA – Sejarah Tulungagung menyimpan perjalanan panjang yang membentang sejak masa prasejarah hingga era modern. Wilayah yang kini dikenal sebagai salah satu kabupaten maju di Jawa Timur ini telah menjadi saksi perkembangan peradaban manusia selama ribuan tahun. Berbagai temuan arkeologis membuktikan bahwa Tulungagung bukan wilayah pinggiran, melainkan bagian penting dari sejarah Nusantara.

Jejak Prasejarah dan Budaya Megalitikum

Sejarah Tulungagung bermula pada masa prasejarah, ketika manusia purba hidup secara nomaden dan menggantungkan hidup pada alam. Bukti keberadaan mereka ditemukan di sejumlah gua di Pegunungan Selatan, seperti Gua Songgentong, Song Terus, dan Song Banyu Urip. Artefak berupa alat batu, alat serpih, serta sisa tulang hewan menunjukkan aktivitas berburu dan meramu. Selain itu, peninggalan megalitikum berupa menhir, dolmen, dan sarkofagus di wilayah Campur Darat dan Kalidawir menandakan berkembangnya sistem kepercayaan terhadap roh leluhur.

Pengaruh Kerajaan Hindu-Buddha Awal

Memasuki abad ke-8 Masehi, Tulungagung mulai masuk dalam pengaruh Kerajaan Kanjuruhan. Meski pusat kerajaan berada di Malang, pengaruh budaya Hindu Siwa menjangkau Lembah Sungai Brantas bagian selatan. Sistem pertanian, irigasi awal, serta struktur sosial mulai terbentuk dan menjadi fondasi peradaban berikutnya dalam sejarah Tulungagung.

Pada abad ke-10, wilayah ini berada di bawah pengaruh Kerajaan Medang atau Mataram Kuno di bawah pemerintahan Mpu Sindok. Tulungagung berperan strategis sebagai penghubung antara wilayah agraris pedalaman dan jalur menuju pesisir selatan. Bukti penting periode ini adalah Prasasti Lawadan di Boyolangu bertahun 921 Masehi yang menegaskan status sima atau tanah perdikan, menandakan peran religius dan administratif wilayah tersebut.

Baca Juga: Kisah Suwantek, Perajin Panci dan Dandang Tradisional Tulungagung yang Bertahan sejak 2006

Masa Kejayaan Kediri hingga Majapahit

Era Kerajaan Kediri menjadikan Tulungagung sebagai salah satu lumbung pangan utama. Tanah subur dan sistem irigasi mendukung pertanian padi dan palawija, sekaligus memperkuat posisi ekonomi kerajaan. Pengaruh agama Hindu Siwa juga kian kuat dengan ditemukannya arca-arca dan lingga-yoni di berbagai desa.

Ketika Singhasari berkuasa, wilayah Tulungagung semakin terintegrasi dalam sistem pemerintahan yang terpusat. Sinkretisme Hindu-Buddha berkembang pesat, tercermin dari peninggalan arca Siwa-Buddha. Puncaknya terjadi pada masa Majapahit, saat Tulungagung menjadi daerah penyangga ekonomi dan spiritual. Arca Gayatri di Boyolangu, yang diyakini sebagai perwujudan Sri Rajapatni, menegaskan kedudukan sakral Tulungagung dalam sejarah Majapahit.

Islamisasi dan Kerajaan Islam Jawa

Sejarah Tulungagung memasuki babak baru pada abad ke-15 dengan masuknya Islam secara damai. Dakwah dilakukan melalui perdagangan, perkawinan, dan pendekatan budaya. Tradisi lokal berbaur dengan ajaran Islam, melahirkan praktik keagamaan khas Jawa. Pada masa Demak, Pajang, hingga Mataram Islam, Tulungagung diatur dalam struktur pemerintahan Islam dengan peran penting ulama dan pesantren sebagai pusat pendidikan dan sosial.

Baca Juga: Cerita Etek Sayur Keliling Tulungagung, Berangkat Jam 3 Pagi demi Dapur Tetap Ngebul

Masa Kolonial hingga Kemerdekaan

Pada era kolonial Belanda, Tulungagung dikenal dengan nama Ngowo dan menjadi bagian dari Karesidenan Kediri. Sistem tanam paksa, pembangunan irigasi, dan infrastruktur jalan membentuk wajah ekonomi modern meski dibarengi penderitaan rakyat. Tahun 1901, nama Tulungagung resmi digunakan sebagai identitas kabupaten.

Periode perjuangan kemerdekaan menempatkan Tulungagung sebagai basis gerilya penting. Medan perbukitan dan dukungan rakyat menjadikan wilayah ini benteng perlawanan terhadap agresi Belanda. Pasca pengakuan kedaulatan, Tulungagung berkembang menjadi kabupaten otonom dengan pembangunan sektor pendidikan, pertanian, dan pemerintahan.

Tulungagung di Era Modern

Kini, Tulungagung dikenal sebagai daerah agraris, pusat industri marmer, serta penghasil batik khas yang terus berkembang. Perpaduan kemajuan ekonomi dan pelestarian budaya menjadikan sejarah Tulungagung tetap hidup dalam identitas masyarakatnya hingga hari ini.

Baca Juga: Cek Bansos KTP 2026: NIK Tidak Terdaftar? Ini Penyebab Lengkap, Solusi Resmi, dan Cara Cek Bansos Kemensos

Editor : Natasha Eka Safrina
#Arca Gayatri #sejarah tulungagung #tulungagung jawa timur #prasasti lawadan #kerajaan majapahit