Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengusaha Lokal Tulungagung Sulap Limbah Plastik Jadi Cuan, Industri Sapu Jabalsari Kini Tumbuh dan Serap Ekonomi Warga

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 29 Januari 2026 | 12:20 WIB

Pengusaha Lokal Tulungagung Sulap Limbah Plastik Jadi Cuan, Industri Sapu Jabalsari Kini Tumbuh dan Serap Ekonomi Warga
Pengusaha Lokal Tulungagung Sulap Limbah Plastik Jadi Cuan, Industri Sapu Jabalsari Kini Tumbuh dan Serap Ekonomi Warga

RADAR TULUNGAGUNG – Kisah pengusaha lokal Tulungagung kembali menarik perhatian publik setelah seorang pelaku usaha berhasil mengubah limbah plastik menjadi peluang ekonomi bernilai tinggi.

Melalui industri pengolahan plastik daur ulang, limbah yang sebelumnya dianggap tak bernilai kini menjadi bahan baku utama industri sapu di wilayah Jabalsari, Kabupaten Tulungagung.

Pengusaha lokal tersebut adalah Zainul Abidin, warga Dusun Gedangan, Kecamatan Karangrejo. Ia menuturkan bahwa usahanya bermula dari kepedulian terhadap persoalan limbah plastik yang kian mengkhawatirkan, sekaligus dorongan untuk mencari sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Perjalanan Zainul menjadi contoh nyata bagaimana pengusaha lokal Tulungagung mampu menciptakan solusi ekonomi sekaligus lingkungan.

Dalam keterangannya, Zainul menjelaskan bahwa sejak awal ia mengolah plastik gelondongan berupa afal atau produk reject, seperti jeriken bekas. Plastik jenis natural tanpa warna dipilih karena dinilai menghasilkan kualitas bahan daur ulang yang lebih baik dan mudah diolah kembali.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Warga Tulungagung, Turmudzi Sukses Bangun Bisnis Kerajinan Mozaik Batu Alam hingga Tembus Pasar Global

Dari Limbah Plastik ke Produk Rumah Tangga

Selama bertahun-tahun, Zainul memfokuskan usahanya pada produksi timba cor dari plastik daur ulang. Produk tersebut sempat menjadi andalan dan memiliki permintaan yang cukup stabil di pasaran.

Namun, perkembangan teknologi industri yang beralih ke penggunaan mesin modern membuat permintaan timba cor perlahan menurun.

Kondisi itu memaksa Zainul untuk berpikir ulang mengenai arah usahanya. Ia menyadari bahwa bertahan pada satu jenis produk bukanlah pilihan aman dalam jangka panjang. Dari sinilah muncul tekad untuk mencari peluang baru yang tetap relevan dengan keahlian dan bahan baku yang dimiliki.

Baca Juga: Perempuan Asal Tulungagung Bangun Pabrik Kosmetik Kelas Dunia dari Desa, Kini Produksi Ribuan Merek

Melihat Peluang di Jabalsari

Langkah penting diambil saat Zainul berkunjung ke wilayah Jabalsari, yang dikenal sebagai sentra pengrajin alat kebersihan, khususnya sapu.

Dari pengamatan tersebut, ia melihat peluang besar yang selama ini belum tergarap maksimal, terutama dalam penyediaan bahan baku lokal.

Sebelumnya, banyak pengrajin sapu harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah dengan harga yang relatif lebih mahal.

Melihat kondisi itu, Zainul memutuskan mengalihkan fokus usahanya ke produksi lakop sapu berbahan plastik daur ulang.

Keputusan tersebut terbukti tepat. Produksi lakop sapu dari limbah plastik tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mempercepat distribusi bahan baku ke pengrajin. Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya produktivitas industri sapu di Jabalsari.

Baca Juga: Pengusaha Muda Tulungagung Tinggalkan Kerja di Alfamart, Modal Rp 1 Juta Kini Transaksi Bisnis Online Tembus Ratusan Order per Hari

Dampak Ekonomi bagi Warga Sekitar

Peralihan usaha yang dilakukan pengusaha lokal Tulungagung ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Ketersediaan bahan baku yang lebih mudah dan terjangkau membuat pengrajin sapu mampu meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing.

Selain itu, aktivitas pengolahan plastik daur ulang turut membantu mengurangi tumpukan limbah plastik yang berpotensi mencemari lingkungan.

Zainul menyebut bahwa usahanya sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang kini menjadi isu nasional.

Latar Belakang Pesantren dan Ketekunan Hidup

Zainul juga membagikan kisah latar belakang hidupnya yang penuh keterbatasan. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo sejak 1987 hingga 1998.

Setelah boyong, ia tidak langsung pulang ke kampung halaman, melainkan mengikuti sang bibi yang memiliki usaha konveksi untuk belajar keterampilan baru.

Tekanan ekonomi keluarga sejak kecil menjadi motivasi terbesarnya untuk mandiri. Ia mengaku kondisi tersebut membentuk mental pantang menyerah hingga akhirnya mampu membangun usaha daur ulang plastik Tulungagung yang kini berjalan stabil.

Kisah Zainul Abidin menjadi bukti bahwa pengusaha lokal Tulungagung mampu bangkit dari keterbatasan dan memberi dampak nyata, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga ekologis bagi wilayahnya.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#daur ulang plastik #ekonomi sirkular #industri sapu Jabalsari #umkm tulungagung #pengusaha lokal tulungagung