Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Banjir Besole Tulungagung Terparah dalam 20 Tahun, Warga Turun Bersihkan Lumpur di Jalan

Sandy Sri Yuwana • Sabtu, 31 Januari 2026 | 13:23 WIB
Warga Desa Besole, Tulungagung, bersihkan lumpur di jalan karena luapan air bercampur lumpur akibat hujan deras kemarin (30/1).
Warga Desa Besole, Tulungagung, bersihkan lumpur di jalan karena luapan air bercampur lumpur akibat hujan deras kemarin (30/1).

RADAR TULUNGAGUNG – Banjir yang melanda Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung, pada Jumat (30/1) malam disebut sebagai kejadian terparah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Luapan air bercampur lumpur tak hanya merendam rumah warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas dan membuat warga terjaga sepanjang malam.

Warga menuturkan, hujan deras mulai mengguyur wilayah tersebut sejak sekitar pukul 18.00.

Kondisi memburuk ketika air banjir mulai masuk ke permukiman warga sekitar pukul 21.00.

Air yang datang membawa lumpur pekat sehingga cepat menggenangi rumah-rumah warga.

Akibatnya, banyak warga yang mengaku tidak bisa tidur semalaman karena khawatir air terus naik.

Hal itu diungkapkan Susanti, 53, warga Desa Besole. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah selama dua dekade terakhir.

“Air masuk ke rumah disertai lumpur. Kami tidak bisa tidur semalaman karena terus waspada,” ujarnya, Sabtu (31/1).

Menurutnya, sejak pagi warga langsung bergotong royong membersihkan lumpur, tidak hanya di rumah masing-masing, tetapi juga di jalan raya.

“Kalau jalan masih berlumpur, lumpurnya bisa masuk lagi ke rumah. Selain itu juga berbahaya bagi pengguna jalan,” katanya.

Pantauan Radar Tulungagung di lapangan, pada Sabtu (31/1) pagi, sekira pukul 09.00, di sepanjang jalan memasuki wilayah Desa Besole, Kecamatan Besuki, terlihat ramai warga bergotong-royong membersihkan lingkungan terdampak banjir.

Mereka membawa alat seadanya seperti sapu, selang, dan peralatan lain yang digunakan untuk membersihkan genangan air dan timbunan lumpur rumah-rumah warga.

Tak hanya itu, mereka juga bekerja sama untuk membersihkan jalan raya yang tertutup lumpur dari depan rumah masing-masing.

Tak jarang terlihat anak-anak kecil dan remaja ikut membantu.

Kepala Desa Besole, Kecamatan Besuki, Suratman, membenarkan bahwa banjir kali ini memiliki intensitas yang jauh lebih besar dibanding kejadian sebelumnya.

“Banjir memang ada beberapa kali, tapi yang paling parah ya yang ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, derasnya aliran air berasal dari wilayah Tanggunggunung, Ngerjo, yang mengalir turun menuju Besole dan Ngentrong.

“Kalau khusus Besole saja mungkin tidak terlalu parah. Tapi karena aliran dari Ngerjo turun ke Besole dan Ngentrong, akhirnya dampaknya disini sangat deras,” jelasnya.

Suratman menuturkan, hujan deras terjadi sejak sekitar pukul 19.00 hingga pukul 01.00 dini hari. Selama itu pula ia terus memantau kondisi di lapangan.

“Tadi malam saya tidak tidur. Air sempat menggenang hampir satu meter. Mulai masuk ke permukiman sekitar jam 9 malam dan baru benar-benar reda sekitar jam 3 pagi,” katanya.

Menurutnya, banjir tersebut bukan semata luapan sungai, melainkan aliran air dari gunung yang turun ke sungai, namun kapasitas sungai tidak memadai.

“Sungainya kurang lebar, sementara wilayah Besole cukup luas. Pembuangan air ke hilir hanya satu titik,” jelasnya.

Ia juga menyinggung kondisi hutan yang mulai gundul akibat aktivitas tanam warga di kawasan pegunungan.

“Karena hutannya gundul. Harapannya aliran air bisa lebih terkendali,” pungkasnya. (sri)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#lumpur #banjir #desa besole #hujan deras