RADAR TULUNGAGUNG – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Tulungagung sejak awal 2026 meninggalkan dampak serius di sejumlah wilayah.
Tiga kecamatan tercatat sebagai daerah paling terdampak yakni Kecamatan Besuki, Kalidawir, dan Tanggunggunung.
Bencana yang terjadi didominasi banjir ancar, luapan sungai, hingga tanah longsor.
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Sudarmaji, membenarkan adanya potensi cuaca ekstrem tersebut.
Dia menjelaskan, aktifnya Monsun Afrika menjadi salah satu faktor meningkatnya suplai uap air ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
“Dampaknya, intensitas hujan menjadi lebih sering dan lebih lebat. Selain itu, perubahan cuaca juga berlangsung cepat sehingga berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem,” ujar Sudarmaji, ketika dikonfirmasi pada Senin (2/2).
Mantan Sekretaris DPRD Tulungagung ini menambahkan, di Kecamatan Kalidawir, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan beberapa sungai meluap dan menggenangi jembatan-jembatan sehingga mengganggu aktivitas warga.
Bahkan, pada Jumat (30/1) lalu, bencana tanah longsor juga terjadi di Desa Rejosari.
"Longsoran tersebut mengakibatkan separo badan jalan amblas dan sempat menghambat akses transportasi warga setempat," jelasnya.
Sementara itu, di Kecamatan Tanggunggunung, hujan deras yang disertai angin kencang memicu luapan air di sejumlah titik.
Kondisi tersebut membuat aliran air meluber ke area permukiman dan lahan warga meski tidak sampai menimbulkan kerusakan berat.
Dampak terparah tercatat terjadi di Kecamatan Besuki, khususnya di Desa Besole. Air kiriman dari kawasan pegunungan sekitar masuk ke rumah-rumah warga dan fasilitas umum.
Genangan air bercampur lumpur sempat merendam permukiman, mengganggu aktivitas warga, serta berdampak pada layanan pendidikan dan fasilitas kesehatan di wilayah tersebut.***
Menyikapi kondisi itu, BPBD Tulungagung mengeluarkan imbauan kewaspadaan cuaca ekstrem. Imbauan tersebut berlaku untuk periode 1 hingga 10 Februari 2026 seiring potensi hujan sedang hingga lebat yang diperkirakan masih akan terus terjadi.
Masyarakat harus waspada terhadap kemungkinan hujan lebat disertai angin kencang, angin puting beliung, petir, hingga hujan es.
"Kondisi cuaca tersebut dinilai berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di wilayah rawan," tuturnya.
Dia mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Warga juga diminta menghindari aktivitas di lokasi berisiko saat hujan lebat disertai angin kencang.
“Kami mengimbau masyarakat agar selalu memantau informasi cuaca dari sumber resmi serta segera melapor ke perangkat desa atau BPBD jika terjadi kondisi darurat,” tandasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri