Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Meski PMK Merebak di Tulungagung, Sapi Perah di Sendang dan Pagerwojo Dilaporkan Aman, LSD Jadi Ancaman Utama

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 6 Februari 2026 | 09:22 WIB
Sapi perah di kawasan Sendang dan Pagerwojo dipastikan aman dari PMK.
Sapi perah di kawasan Sendang dan Pagerwojo dipastikan aman dari PMK.

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah merebaknya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah wilayah Kabupaten Tulungagung, kondisi berbeda justru terjadi pada populasi sapi perah.

Hingga saat ini, sapi perah di wilayah Kecamatan Sendang dan Pagerwojo Tulungagung dilaporkan nihil kasus PMK.

Dokter hewan yang menangani sapi perah di KUD Sendang dan Pagerwojo, drh Dhesy Kartikasari, menjelaskan bahwa kasus PMK pada sapi perah untuk saat ini nihil.

Bahkan, sebagian besar laporan penyakit yang muncul belakangan ini bukan mengarah ke PMK.

“Kalau di daerah Sendang dan Pagerwojo, saya menangani sapi perah. Kasus PMK itu ada, tapi untuk sapi perah di KUD Sendang dan Pagerwojo tidak ditemukan kasus. Justru yang sekarang sedang banyak itu kasus LSD,” katanya, Kamis (5/2).

Sekadar diketahui, kasus lumpy skin disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol terjadi pada hewan ternak seperti sapi atau yang sering disebut dengan istilah "lato-lato".

Gejala utamanya meliputi benjolan pada kulit, demam tinggi, dan penurunan nafsu makan, dengan penularan melalui serangga.

Dia menyebut, PMK yang ditemukan di lapangan mayoritas menyerang sapi lokal atau disebutnya sapi Jawa, khususnya sapi potong, bukan sapi perah.

“Kalau PMK biasanya ada di sapi-sapi Jawa, sapi pedaging. Di sapi perah hampir enggak ada,” jelasnya.

Menurut Dhesy, sempat ada sapi perah yang menunjukkan gejala awal menyerupai PMK, seperti demam dan tidak nafsu makan.

Namun setelah dipantau selama tiga hingga empat hari, kondisi sapi kembali normal tanpa berkembang ke gejala khas PMK.

“Kemarin sempat mengarah ke PMK, tapi ternyata bukan. Setelah tiga atau empat hari bisa makan lagi, tidak ada luka di mulut atau kaki. Jadi tidak kami diagnosis sebagai PMK,” terangnya.

Dia menambahkan, keterbatasan alat uji atau test kit memang menjadi tantangan untuk memastikan jenis virus secara pasti.

Namun secara klinis, gejala yang muncul tidak mengarah pada PMK.

Dhesy juga mengungkapkan bahwa sapi perah relatif lebih terlindungi karena rutin mendapatkan vaksinasi berkala.

“Sapi perah itu aktif vaksinasi tiap enam bulan sekali. Jadi meskipun kena, biasanya hanya panas sebentar dan tidak sampai parah,” ujarnya.

Sementara itu, upaya kewaspadaan terhadap PMK tetap dilakukan.

“Kalau sapi perah, diagnosisnya lebih banyak ke LSD. PMK ada, tapi sedikit, dan itu mayoritas terjadi di sapi Jawa,” pungkasnya. (sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#sapi perah #Lato-lato #ternak #pmk #LSD