Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tema HPN 2026 dan Tantangan AI, PWI Tulungagung Tekankan Pers Tak Boleh Kehilangan Jati Diri

Dharaka R. Perdana • Senin, 9 Februari 2026 | 12:52 WIB
Di tengah derasnya arus medsos dan kecerdasan buatan (AI), pers dituntut tetap menjaga kredibilitas dengan menyampaikan fakta yang utuh dan berimbang kepada masyarakat.
Di tengah derasnya arus medsos dan kecerdasan buatan (AI), pers dituntut tetap menjaga kredibilitas dengan menyampaikan fakta yang utuh dan berimbang kepada masyarakat.

RADAR TULUNGAGUNG – Tema Hari Pers Nasional (HPN) 2026 “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” dinilai sangat relevan dengan tantangan dunia jurnalistik saat ini.

Di tengah derasnya arus media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pers dituntut tetap menjaga kredibilitas dengan menyampaikan fakta yang utuh dan berimbang kepada masyarakat.

Sekaligus menjaga ekosistem ekonomi tetap terjaga.

Ketua PWI Tulungagung, Wiwieko Dharmaidiningrum, menegaskan bahwa pers tidak boleh kehilangan jati dirinya meski dihadapkan pada perkembangan teknologi yang kian pesat.

Menurut dia, media sosial dan AI adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari, bahkan memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi kreatif dan produksi konten.

“Media sosial dan kecerdasan buatan itu fakta yang harus diterima. Keduanya bisa menjadi peluang, termasuk dalam mendorong ekonomi kreatif. Tapi pers tetap harus berdiri pada nilai-nilai dasar jurnalistik,” ujarnya.

Dia mengibaratkan kecerdasan buatan seperti dua sisi mata pisau.

Di satu sisi bisa menjadi alat bantu yang sangat efektif, sedangkan di sisi lain berpotensi menggerus karakter dan independensi wartawan jika digunakan secara berlebihan.

“AI seharusnya menjadi instrumen pembantu kerja wartawan, bukan sebaliknya. Wartawan tidak boleh menggantungkan diri sepenuhnya pada kecerdasan buatan,” tegasnya.

Eko, sapaan akrabnya, menilai penggunaan AI yang tidak bijak dapat mengaburkan ciri khas penulis karena bahasa yang dihasilkan cenderung umum dan seragam.

Hal ini menjadi perhatian serius, terutama bagi wartawan muda yang baru terjun ke dunia jurnalistik.

“Kalau wartawan senior, mungkin tidak terlalu khawatir karena sudah punya jam terbang dan gaya menulis sendiri. Justru yang kami risaukan wartawan muda. Kalau sejak awal sudah bergantung pada AI, mereka tidak terlatih menemukan ciri khas dan kekuatan tulisannya,” katanya.

Selain tantangan teknologi, pers juga dihadapkan pada perubahan pola konsumsi pembaca.

Mayoritas audiens saat ini berasal dari generasi Z yang memiliki karakter cepat, visual, dan dinamis.

“Kondisi ini menuntut insan pers untuk terus menyesuaikan diri. Berkarya sekreatif mungkin tanpa meninggalkan akurasi dan etika jurnalistik,” pungkas Wiwieko.

Menurutnya, pers yang sehat bukan hanya soal keberlanjutan bisnis media, melainkan juga tentang menjaga kepercayaan publik.

Dari pers yang kredibel itulah, ekonomi berdaulat dan bangsa yang kuat bisa dibangun. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#pwi #Pers #jurnalistik #HPN 2026 #hari pers nasional