Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Inspiratif Pengusaha Cobek Batu Tulungagung, Modal Rp400 Berani Sedekah, Kini Produksi Puluhan Cobek Per Hari

Novica Satya Nadianti • Senin, 9 Februari 2026 | 17:03 WIB

Kisah inspiratif pengusaha cobek batu Tulungagung yang sukses bangkit dari keterbatasan modal hingga produksi puluhan cobek setiap hari.
Kisah inspiratif pengusaha cobek batu Tulungagung yang sukses bangkit dari keterbatasan modal hingga produksi puluhan cobek setiap hari.

JAKARTA - Kisah inspiratif pengusaha cobek batu Tulungagung menjadi bukti bahwa kerja keras, dukungan keluarga, dan keyakinan bisa mengubah keterbatasan menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Perjalanan hidup pengusaha cobek batu asal Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung ini pun penuh perjuangan, bahkan pernah hanya memiliki modal Rp400 ribu namun tetap berani bersedekah.

Pengusaha cobek batu tersebut adalah Pak Suroso. Ia mengaku tidak pernah memiliki mimpi khusus menjadi perajin cobek batu. Namun, keadaan hidup memaksanya untuk menekuni usaha tersebut demi mencukupi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.

Pak Suroso menuturkan, ia mulai merintis usaha cobek batu sekitar tahun 2001. Awalnya, ia hanya membantu kakaknya membuat cobek batu sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri. Prosesnya tidak instan, bahkan ia sempat menjadi perantau dan bekerja serabutan demi mengumpulkan pengalaman dan modal usaha.

“Saya dulu ikut kakak membuat cobek, kemudian mencoba membuat sendiri. Pelan-pelan sampai setahun lebih, saya belajar dari nol,” ujarnya.

Perjuangan dari Gali Batu Hingga Keliling Jualan

Pada awal merintis usaha cobek batu, Pak Suroso harus mencari bahan baku langsung ke pegunungan. Ia menggali batu secara manual sebelum diolah menjadi cobek. Proses produksi cobek batu pun cukup panjang, mulai dari memotong, membelah, membentuk, hingga membubut batu hingga menjadi cobek siap jual.

Ia menyebut, satu cobek batu biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, tergantung ukuran. Dalam sehari, satu pekerja mampu memproduksi sekitar 40 hingga 50 cobek berukuran kecil hingga sedang.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya produksi, melainkan pemasaran. Pak Suroso mengaku pernah kesulitan mendapatkan pembeli meski rumahnya dipenuhi stok cobek batu.

Berbekal tekad, ia kemudian berkeliling menggunakan sepeda motor untuk menjual cobek. Ia membawa sekitar 30 cobek batu dan menyusuri pasar-pasar di wilayah Blitar hingga Batu, Malang. Cara tersebut perlahan membuahkan hasil setelah ia meninggalkan kartu nama di beberapa pasar dan akhirnya mendapat pesanan.

Dukungan Istri Jadi Titik Balik Usaha

Perjalanan usaha cobek batu Pak Suroso juga tidak lepas dari dukungan sang istri. Saat modal usaha habis dan kondisi ekonomi sulit, istrinya memutuskan bekerja di luar negeri selama tiga tahun demi membantu permodalan usaha keluarga.

Dukungan tersebut menjadi titik balik bagi perkembangan usaha cobek batu yang dijalankan Pak Suroso. Setelah kembali memiliki modal, produksi cobek batu meningkat dan pemasaran semakin luas.

Selain usaha cobek batu, Pak Suroso juga mengembangkan usaha sampingan berupa budidaya ikan seperti gurame, lele, dan patin, serta bertani di sawah untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.

Kisah Sedekah Saat Usaha Terpuruk

Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan usaha cobek batu Pak Suroso adalah ketika ia tetap bersedekah meski kondisi keuangan sangat terbatas.

Ia mengingat pernah harus membayar gaji karyawan sebesar Rp9 juta, sementara uang yang dimiliki hanya Rp400 ribu. Atas saran sang istri, ia tetap menyisihkan sebagian uang tersebut untuk disedekahkan kepada anak yatim.

“Waktu itu saya ambil Rp200 ribu untuk anak yatim. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu pesanan cobek batu datang berlipat ganda,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Pak Suroso mengaku rutin bersedekah setiap malam Jumat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus keyakinan bahwa sedekah membawa keberkahan usaha.

Harapan Mengembangkan Usaha Cobek Batu

Kini, usaha cobek batu Pak Suroso telah melibatkan sekitar 10 pekerja. Harga cobek batu yang diproduksi bervariasi, mulai dari sekitar Rp7.500 untuk ukuran kecil hingga Rp90 ribu untuk diameter besar.

Meski usahanya berkembang, Pak Suroso masih menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku batu. Ia berharap usaha cobek batu miliknya dapat terus berkembang hingga menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk luar daerah bahkan mancanegara.

Ia juga berharap kisahnya bisa menjadi motivasi bagi pelaku usaha kecil agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan ekonomi.

“Intinya harus saling percaya dalam keluarga dan terus berusaha. Jangan lupa bersedekah dan jaga kesehatan,” pungkasnya.

Editor : Novica Satya Nadianti
#Cobek Batu Tulungagung #kisah inspiratif UMKM