RADAR TULUNGAGUNG – Perkembangan teknologi digital membawa tantangan besar bagi dunia pers, terutama dalam menjangkau generasi muda.
Pada momentum peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, kalangan akademisi menilai media massa dituntut semakin adaptif menghadapi perubahan pola konsumsi informasi anak muda yang kini cenderung visual dan serbapraktis.
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung, Barlian Anung Prabandono, menyebut generasi muda saat ini lebih tertarik pada konten visual ketimbang bacaan panjang.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada rendahnya minat literasi membaca di kalangan anak muda.
“Anak muda sekarang lebih mudah tertarik pada gambar, video pendek, dan tampilan visual yang cepat ditangkap. Ini menjadi tantangan serius bagi media cetak maupun online berbasis teks,” ujarnya.
Menurut Barlian, media tidak bisa semata-mata menyalahkan perubahan zaman.
Justru, pers perlu merespons fenomena tersebut dengan inovasi yang tetap berpijak pada fungsi edukatif dan informatif.
Salah satunya dengan menyajikan konten yang lebih dekat dengan kebiasaan dan bahasa generasi muda.
“Media bisa membuat sesuatu yang lebih menarik minat anak muda, misalnya dengan menggunakan diksi yang sesuai dengan keseharian mereka. Bahasa yang ringan, lugas, dan langsung ke inti persoalan akan lebih mudah dipahami,” jelasnya.
Meski visual menjadi daya tarik utama, Barlian menegaskan bahwa konten visual tidak boleh berdiri sendiri.
Kreativitas menjadi kunci agar visual mampu mengantarkan pesan sekaligus mendorong minat membaca.
“Visual tetap harus disertai elemen kreatif yang mengajak audiens untuk berhenti sejenak, lalu membaca dan memahami isi pesan. Jangan sampai visual hanya menjadi hiasan tanpa makna,” tambahnya.
Dia menilai, pada momen HPN 2026 ini, pers memiliki peran strategis untuk menjembatani kebutuhan informasi generasi muda tanpa mengorbankan kualitas jurnalistik.
“Pers harus tetap relevan bagi anak muda sekaligus menjadi ruang literasi yang sehat. Tantangannya besar, tetapi peluangnya juga terbuka lebar jika media mau berinovasi,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri