RADAR TULUNGAGUNG – Program Inpres Jalan Daerah (IJD) kembali berlanjut pada tahun ini.
Tulungagung mendapat alokasi anggaran sekitar Rp 18 miliar yang difokuskan untuk penanganan jalur sirip jalur lintas selatan (JLS).
Salah satu akses penting yang selama bertahun-tahun dikeluhkan masyarakat karena kondisinya rusak parah.
Jalur sirip JLS menjadi perhatian serius lantaran berfungsi sebagai penghubung utama menuju kawasan pantai selatan Tulungagung, sekaligus penopang aktivitas ekonomi warga di wilayah pesisir.
Namun di banyak titik, kondisi jalan berlubang, permukaan bergelombang, hingga drainase yang tidak berfungsi, membuat akses tersebut rawan dan tidak nyaman dilalui, terutama saat musim hujan.
Kabid Bina Marga Dinas PUPR Tulungagung, Ahmad Rifai Sodik, mengatakan bahwa penanganan jalur sirip JLS tidak bisa dilakukan setengah-setengah.
Pasalnya, kerusakan yang terjadi bukan hanya pada lapisan permukaan, melainkan juga dipengaruhi kondisi tanah dan sistem drainase yang kurang memadai.
“Penanganan kali ini dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya menutup lubang, tetapi juga memperkuat sisi jalan dan membenahi drainase. Setelah itu, baru dilakukan pengaspalan agar hasilnya bisa lebih awet,” jelasnya.
Dia menambahkan, setelah seluruh tahapan pekerjaan dasar selesai, ruas jalan akan diaspal halus sehingga dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Peningkatan kualitas jalan ini juga diharapkan mampu menekan risiko kecelakaan yang selama ini kerap terjadi akibat kondisi jalan rusak.
“Saat ini masih proses awal hingga nantinya tetap akan diaspal halus,” tambahnya.
Saat ini, proses pengerjaan sudah mulai berjalan di wilayah Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat.
Di lokasi tersebut, aktivitas alat berat dan pekerja tampak menangani kerusakan secara bertahap.
Pekerjaan meliputi penambalan lubang-lubang besar, pembuatan beton pada sisi jalan untuk memperkuat struktur, serta pembangunan saluran drainase guna mengalirkan air agar tidak lagi menggerus badan jalan.
Menurut pria ramah ini, jalur sirip JLS memiliki peran strategis. Tidak hanya sebagai akses harian masyarakat, tetapi juga sebagai penunjang sektor pariwisata pantai selatan yang terus berkembang.
Dengan kondisi jalan yang lebih baik, mobilitas warga, distribusi hasil pertanian dan perikanan, hingga kunjungan wisatawan diharapkan semakin lancar.
“Harapannya, masyarakat bisa merasakan manfaat langsung. Akses menuju pantai selatan jadi lebih mudah, aman, dan nyaman. Ini sekaligus mendukung konektivitas wilayah serta potensi ekonomi daerah,” tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri