RADAR TULUNGAGUNG - Di balik seragam rapi dan senyum yang terpasang di depan murid-murid, ada sesak yang dipendam guru-guru P3K paruh waktu di Tulungagung.
Mereka hanya mendapat gaji minim setiap bulan. Berikut penuturan mereka.
Bagi sebagian orang, surat keputusan (SK) pengangkatan sebagai P3K adalah kabar bahagia.
Namun, bagi sejumlah guru paruh waktu di Tulungagung, momen menerima SK justru menjadi hari yang tak terlupakan karena tangis dan penuh kebingungan. Dalam SK tersebut tertulis nominal gaji Rp 350 ribu per bulan.
Ketika gaji pertama cair, setelah dipotong iuran wajib, yang tersisa di ATM hanya sekitar Rp 300 ribu. Uang itu harus cukup untuk hidup satu bulan.
Dian Setyaningrum, guru di SDN 1 Bulusari, Kecamatan Kedungwaru, merasakan langsung getirnya kenyataan tersebut.
Sebagai orang tua tunggal (single parent), dia menjadi satu-satunya penopang kebutuhan anak-anaknya.
“Dengan Rp 300 ribu, jelas tidak cukup. Untuk makan saja sudah berat, belum kebutuhan sekolah anak,” ujarnya pelan.
Dia mengaku berada di titik terendah ketika harus memprioritaskan kebutuhan anak dan mengesampingkan kebutuhannya sendiri. Bahkan untuk membeli sepatu kerja pun, dia harus menunda.
“Kadang saya mikir, kok begini ya nasibnya. Bahkan sepatu saya untuk mengajar sudah jebol masih saya pakai karena tidak ada uang untuk beli. Tapi kalau di depan anak-anak (murid), saya harus tetap semangat,” katanya sambil meneteskan air mata dan mengangkat sepatu di tangannya.
Bagi Dian, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati. Namun, panggilan itu terasa semakin berat ketika kebutuhan dasar tak terpenuhi.
Cerita serupa datang dari Candra Dian Rahman, guru yang awalnya mengajar di SDN 2 Ringinpitu, namun saat ini mengajar di SDN 3 Rejoagung karena masih menunggu SK perubahan.
Ketidakpastian penempatan membuatnya bingung. Ditambah dengan gaji Rp 300 ribu, dia bingung harus menafkahi keluarganya.
Menurutnya, nominal tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Kami ini hanya ingin gaji yang layak sesuai dengan beban kerja. Jika gaji yang sekarang ini untuk beli bensin pun tidak mampu, apalagi menghidupi keluarga,” ujarnya.
Andik Nurohmad, guru di SDN Batangsaren 1, juga merasakan beban serupa. Dengan gaji Rp 350 ribu sebelum potongan, dia harus menghidupi keluarganya.
“Kalau dihitung-hitung, jelas tidak cukup. Tapi ya tetap dijalani. Anak istri tetap butuh makan,” katanya.
Dia mengaku tak pernah membayangkan setelah resmi menyandang status P3K justru penghasilannya jauh menurun dibanding sebelumnya.
“Semoga segera ada jalan keluar bagi kami para pendidik," ungkapnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri