RADAR TULUNGAGUNG – Babad Tulungagung kembali menjadi perbincangan setelah kisah klasik tentang Roro Kembang Sore dan asal-usul Gunung Budeg diangkat dalam narasi sejarah dan legenda lokal.
Cerita ini bukan sekadar dongeng, tetapi bagian dari khazanah budaya yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjalanan tokoh besar Majapahit, yakni Gajah Mada.
Dalam sejumlah versi tutur masyarakat, Babad Tulungagung disebut-sebut menjadi salah satu latar peristiwa yang mengiringi kiprah awal sang perwira Mada sebelum menyandang gelar Mahapatih di Kerajaan Majapahit.
Meski tidak seluruhnya tercatat dalam prasasti resmi, kisah ini hidup kuat dalam ingatan kolektif warga Tulungagung.
Cinta Terlarang Roro Kembang Sore
Cerita bermula dari sosok Roro Kembang Sore, perempuan cantik yang dalam penyamarannya dikenal sebagai Resi Winandi, seorang pertapa di Gunung Cilik.
Ia merupakan putri bangsawan yang harus menanggung luka batin akibat konflik politik dan dendam keluarga.
Roro Kembang Sore jatuh cinta kepada Pangeran Lembu Peteng, seorang bangsawan Majapahit.
Pertemuan keduanya digambarkan penuh asmara dan harapan untuk hidup bersama di pusat kekuasaan Majapahit.
Namun kisah cinta itu tidak direstui oleh ayah sang putri, Pangeran Berdalem.
Konflik memuncak ketika hubungan keduanya diketahui dan memicu perseteruan berdarah.
Dalam pengejaran yang sengit, Pangeran Lembu Peteng akhirnya tewas di tepi sungai. Peristiwa itu menjadi titik balik kehidupan Roro Kembang Sore.
Baca Juga: Ramalan Shio 2026 Tahun Kuda Api: Tikus hingga Babi Hadapi Transformasi Besar, Siapa Paling Hoki?
Pelarian dan Asal-usul Gunung Budeg
Dilanda duka mendalam, Roro Kembang Sore melarikan diri hingga tiba di Desa Dadapan.
Di sana ia ditampung seorang janda tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo Dadapan. Putra Mbok Rondo, Joko Bodo, terpikat oleh kecantikannya dan berulang kali melamar sang putri.
Namun cinta Joko Bodo tidak berbalas. Dalam salah satu versi legenda, Roro Kembang Sore meminta Joko Bodo bertapa di sebuah gunung sebagai syarat.
Ketika sang ibu memanggilnya dan tak mendapat jawaban, ia mengumpat bahwa anaknya hanya diam seperti batu. Konon, petir menyambar dan Joko Bodo berubah menjadi batu.
Sejak saat itu, gunung tempat pertapaan tersebut dikenal sebagai Gunung Budeg “budeg” dalam bahasa Jawa berarti tuli atau tidak mendengar. Legenda ini menjadi salah satu cerita rakyat paling populer di Tulungagung.
Konspirasi dan Kejatuhan Adipati Kalang
Sementara itu, Resi Winandi—yang tak lain adalah Roro Kembang Sore—diam-diam menyusun kekuatan untuk menuntut keadilan.
Adipati Kalang, tokoh antagonis dalam kisah ini, akhirnya terungkap berkonspirasi dan terlibat dalam konflik yang menewaskan Lembu Peteng.
Dalam klimaks cerita, pasukan yang dipimpin perwira Mada berhasil mengejar dan menumbangkan Adipati Kalang.
Peristiwa ini diyakini sebagai salah satu momentum penting yang mengangkat nama Mada sebelum resmi menyandang jabatan Mahapatih di Majapahit.
Walau unsur dramatisasi tak terhindarkan dalam tradisi babad, kisah ini menunjukkan bagaimana legenda lokal sering dikaitkan dengan tokoh sejarah besar sebagai bagian dari legitimasi budaya.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Hingga kini, Gunung Budeg tetap menjadi simbol perpaduan antara sejarah, mitos, dan identitas lokal Tulungagung.
Banyak peziarah maupun pendaki yang datang bukan hanya untuk menikmati panorama, tetapi juga untuk meresapi nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita tersebut—tentang cinta, pengkhianatan, dan keteguhan hati.
Babad sebagai tradisi penulisan sejarah Jawa memang kerap memadukan fakta dan simbolisme.
Dalam konteks inilah, Babad Tulungagung dipahami bukan semata catatan kronologis, melainkan refleksi nilai sosial masyarakat pada masanya.
Kisah Roro Kembang Sore pun menjadi representasi perempuan yang tegar menghadapi tragedi hidup.
Meski berakhir dengan pertapaan hingga akhir hayatnya, namanya tetap dikenang sebagai bagian dari legenda besar yang membentuk identitas budaya Tulungagung.
Editor : Davina Ar Raafika