RADAR TULUNGAGUNG – Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung menjadi salah satu destinasi ziarah religi yang terus didatangi peziarah dari berbagai daerah. Lokasinya berada di Dusun Srigading, Desa Bulurejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Setiap tahun, makam ulama ini dikunjungi masyarakat yang ingin berdoa sekaligus mengenal sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Keberadaan Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung tidak hanya menarik warga lokal, tetapi juga musafir dari luar daerah. Peziarah datang untuk bermunajat, mengenang perjuangan dakwah, hingga menelusuri kisah-kisah yang berkembang di tengah masyarakat mengenai tokoh tersebut.
Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung terletak di area yang cukup tenang, berdekatan dengan pemakaman umum dan sebuah langgar kecil. Suasana religius masih terasa kuat, terutama pada hari-hari tertentu ketika jumlah pengunjung meningkat, seperti menjelang bulan Ramadan atau pada akhir pekan.
Jejak Dakwah Ulama Penyebar Islam
Tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut dikenal sebagai Syekh Basyaruddin, seorang ulama yang diyakini memiliki garis keturunan dari tokoh-tokoh agama sebelumnya. Dalam berbagai penuturan masyarakat, beliau disebut berasal dari wilayah Ponorogo sebelum kemudian hijrah ke Tulungagung.
Kedatangannya ke daerah ini bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia mendirikan surau atau langgar kecil yang digunakan sebagai tempat ibadah dan pengajaran agama. Aktivitas tersebut menjadi salah satu awal berkembangnya dakwah Islam di wilayah yang pada masa lampau dikenal dengan sebutan Bumi Ngrowo, nama lama Kabupaten Tulungagung.
Peran Syekh Basyaruddin dalam perkembangan keagamaan di daerah ini cukup besar. Sejumlah cerita menyebutkan bahwa beliau juga menjadi guru bagi beberapa tokoh penting di masa awal pemerintahan daerah, termasuk para pemimpin lokal yang kemudian memegang jabatan penting.
Kisah Mujahadah dan Karomah yang Dikenang
Selain dikenal sebagai pendakwah, Syekh Basyaruddin juga dikenang melalui berbagai kisah spiritual yang diwariskan secara lisan. Salah satu cerita yang sering disampaikan masyarakat adalah kebiasaan beliau melakukan mujahadah atau latihan spiritual di tempat yang tidak biasa.
Dalam kisah tersebut, Syekh Basyaruddin disebut pernah beristirahat di atas batang bambu yang berada di atas aliran sungai. Posisi tersebut membuatnya tidak dapat tidur terlalu lama karena berisiko terjatuh, sehingga diyakini sebagai bentuk pengendalian diri dan kesungguhan dalam beribadah.
Ada pula cerita mengenai karomah yang dikaitkan dengan dirinya. Masyarakat setempat meyakini bahwa beliau memiliki kemampuan spiritual yang membuat pohon kelapa dapat merunduk sehingga buahnya mudah dipetik tanpa harus memanjat. Kisah-kisah semacam ini menjadi bagian dari tradisi tutur yang masih hidup hingga sekarang.
Baca Juga: Kisah Wali Songo dan Perjuangannya: Dakwah Damai yang Mengubah Sejarah Islam di Jawa
Ramai Diziarahi dari Berbagai Daerah
Hingga kini, Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung masih menjadi tujuan ziarah yang cukup ramai. Peziarah tidak hanya berasal dari Tulungagung, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Timur. Sebagian di antaranya datang secara rombongan, sementara lainnya berkunjung secara pribadi untuk berdoa.
Keberadaan makam para tokoh lain di sekitar lokasi juga menambah daya tarik kawasan ini. Beberapa makam berada di bangunan tertutup yang masih dijaga dan dirawat oleh masyarakat setempat. Hal tersebut menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai sejarah yang cukup penting.
Aktivitas ziarah juga berdampak pada kehidupan sosial di sekitar lokasi. Warga setempat kerap menyediakan fasilitas sederhana bagi peziarah, mulai dari tempat istirahat hingga kebutuhan dasar lainnya. Kehadiran pengunjung secara tidak langsung membantu perekonomian masyarakat sekitar.
Potensi Wisata Religi di Tulungagung
Pemerhati budaya menilai bahwa situs-situs religi seperti Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata religi. Selain bernilai spiritual, tempat tersebut juga menyimpan sejarah lokal yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda.
Namun, pengelolaan kawasan ziarah diharapkan tetap memperhatikan aspek pelestarian. Kebersihan, ketertiban, dan penghormatan terhadap nilai-nilai religius menjadi hal yang harus dijaga agar tempat tersebut tetap nyaman bagi peziarah.
Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung bukan hanya sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang ulama, tetapi juga simbol perjalanan panjang dakwah Islam di daerah ini. Kisah perjuangan, tradisi ziarah, serta nilai sejarah yang melekat menjadikan lokasi tersebut tetap hidup dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.
Editor : Davina Ar Raafika