RADAR TULUNGAGUNG - Gunung Budeg Tulungagung bukan sekadar bukit batu di tengah kota.
Gunung api purba ini menjadi primadona pecinta alam sekaligus lokasi yang sarat sejarah, legenda, hingga kisah spiritual yang terus hidup di tengah masyarakat.
Tak hanya dikenal sebagai situs geologi purba, Gunung Budeg Tulungagung juga menyimpan cerita rakyat Joko Budeg yang terhubung dengan Babat Tulungagung dan kisah Roro Kembang Sore.
Gunung Api Purba di Tengah Kota
Secara geologis, Gunung Budeg merupakan gunung api purba yang diperkirakan terbentuk sekitar 30 juta tahun lalu.
Menurut penuturan Agus Utomo, relawan sekaligus pelestari Gunung Budeg selama lebih dari 20 tahun, bukit ini berasal dari patahan lempeng di dasar laut selatan Jawa yang kemudian menyembul ke permukaan.
Struktur batuannya berupa breksi piroklastik, campuran material vulkanik yang mengeras.
Letaknya unik karena hanya sekitar 10 menit dari pusat Kota Tulungagung.
Bahkan, jika ditarik garis lurus dari pendopo kabupaten ke arah selatan, Gunung Budeg berada tepat di depannya.
Agus menyebut posisi ini mirip konsep titik imajiner seperti di Keraton Yogyakarta, yang menghubungkan pantai selatan, keraton, dan gunung di utara.
Jejak Peradaban Megalitikum hingga Majapahit
Sejak era megalitikum, kawasan ini diyakini telah menjadi tempat pemujaan.
Di puncaknya terdapat batu yang disebut Watu Joko Budeg, diduga menhir peninggalan nenek moyang.
Pada masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit, Gunung Budeg dikenal sebagai lokasi pertapaan.
Legenda Joko Budeg menceritakan seorang pertapa yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri karena kesalahpahaman.
Cerita ini masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini.
Memasuki masa Mataram Islam abad ke-16, wilayah sekitar gunung juga menjadi lokasi penting.
Di selatan gunung terdapat makam Raden Tumenggung Surontani Kertoyudo yang disebut masih memiliki garis keturunan tokoh pendiri Mataram.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa Gunung Budeg Tulungagung bukan sekadar lokasi alam, tetapi memiliki nilai historis dan spiritual tinggi.
Dari Pos Kolonial hingga Titik Koordinat Agraria
Pada era kolonial Belanda, di puncak timur gunung pernah berdiri gardu dengan cermin besar.
Konon digunakan sebagai penanda bagi pesawat yang melintas sekaligus titik koordinat agraria wilayah Tulungagung.
Kini bangunan tersebut telah hilang, namun jejak sejarahnya masih dikenang warga setempat.
Misteri dan Kisah Spiritual
Sebagian pendaki mengaku mencium aroma bunga atau kemenyan di titik tertentu.
Agus sendiri tidak menyebutnya angker, melainkan wingit atau sakral.
Ia menilai Gunung Budeg merupakan tempat pertapaan, bukan lokasi menyeramkan.
Selama ribuan pendaki naik, ia memastikan belum pernah terjadi insiden fatal.
Namun, ia tetap rutin patroli jika cuaca ekstrem atau muncul tanda-tanda alam yang tidak biasa.
Perjuangan 20 Tahun Menanam Hutan
Kisah paling menyentuh dari Gunung Budeg Tulungagung justru datang dari upaya pelestariannya.
Pada 2003, Agus mulai menanam pohon secara mandiri tanpa dukungan dana besar.
Saat itu kondisi gunung gundul dan rawan longsor.
Bahkan warga sekitar kerap mengungsi saat hujan deras karena takut batu menggelinding ke permukiman.
Selama dua dekade, ia menanam ribuan bibit dengan biaya pribadi.
Kini, tutupan vegetasi mencapai sekitar 90 persen.
Dampaknya terasa langsung.
Aliran air lebih terkendali, risiko longsor menurun, dan irigasi pertanian lebih aman.
Gunung Budeg kini tak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga benteng ekologis yang melindungi Tulungagung dari ancaman bencana.
Simbol Penyangga Tulungagung
Secara geografis, Gunung Budeg disebut sebagai bandulan atau penyeimbang wilayah.
Agus meyakini keberadaan bukit ini berperan meredam dampak getaran gempa dari laut selatan.
Meski belum dibuktikan secara ilmiah menyeluruh, keyakinan ini menjadi bagian dari narasi lokal yang memperkuat ikatan masyarakat dengan alam.
Kini, Gunung Budeg Tulungagung menjadi simbol perpaduan antara sejarah, spiritualitas, dan konservasi lingkungan.
Di balik legenda Joko Budeg dan kisah mistisnya, tersimpan perjuangan nyata menjaga alam demi generasi mendatang.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina