RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Tulungagung menyimpan jejak panjang peradaban yang membentang sejak masa prasejarah hingga era modern.
Baca Juga: Jawa Pos Radar Tulungagung Silaturahmi ke Kapolres Baru, Perkuat Sinergi Bersama Media
Wilayah di selatan Jawa Timur ini bukan sekadar kabupaten agraris, tetapi juga ruang pertemuan berbagai kekuatan budaya, politik, dan spiritual selama lebih dari seribu tahun.
Sejarah Tulungagung menunjukkan bagaimana daerah ini bertransformasi dari hunian manusia purba menjadi wilayah strategis pada masa kerajaan, kolonialisme, hingga Indonesia merdeka.
Jejak Prasejarah dan Awal Peradaban
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa Tulungagung telah dihuni manusia purba yang hidup nomaden dan bergantung pada alam.
Penemuan alat batu seperti kapak genggam dan serpih di gua-gua kawasan pegunungan selatan menguatkan fakta tersebut.
Tradisi megalitikum juga ditemukan dalam bentuk menhir, dolmen, serta sarkofagus di sejumlah desa.
Temuan ini menandakan adanya sistem kepercayaan terhadap roh leluhur dan praktik penguburan yang kompleks jauh sebelum munculnya kerajaan besar di Jawa Timur.
Pengaruh Kerajaan Hindu-Buddha
Memasuki abad ke-8, wilayah ini berada dalam pengaruh Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di Malang.
Meski tidak menjadi pusat pemerintahan, kawasan Tulungagung masuk dalam zona agraris penting di sekitar Sungai Brantas.
Pada abad ke-10, kekuasaan bergeser ke Kerajaan Medang di bawah Mpu Sindok.
Prasasti Lawadan di Boyolangu yang bertahun 921 M menjadi bukti tertulis keberadaan wilayah ini dalam struktur pemerintahan kuno.
Masa kejayaan Kerajaan Kediri semakin memperkuat posisi Tulungagung sebagai lumbung pangan.
Sistem irigasi berkembang, arca Siwa dan Ganesa ditemukan, serta pertapaan menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat.
Ketika Kerajaan Singhasari berkuasa, wilayah ini semakin terintegrasi dalam sistem administrasi yang lebih terpusat.
Sinkretisme Hindu-Buddha berkembang pesat dan tercermin dalam peninggalan arca serta situs pemujaan.
Puncaknya terjadi pada era Kerajaan Majapahit.
Tulungagung berperan sebagai daerah penyangga logistik kerajaan.
Hasil bumi seperti padi dan rempah-rempah didistribusikan ke pusat kekuasaan di Trowulan.
Salah satu peninggalan paling penting adalah Arca Gayatri di Boyolangu.
Arca tersebut diyakini sebagai penghormatan terhadap Sri Rajapatni, ibu Hayam Wuruk.
Hal ini menunjukkan kedudukan spiritual tinggi wilayah Tulungagung pada masa Majapahit.
Islamisasi dan Transformasi Budaya
Memasuki abad ke-15, proses islamisasi berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan dan dakwah budaya.
Wilayah ini kemudian berada di bawah pengaruh Kesultanan Demak dan Kesultanan Pajang.
Masjid-masjid tua berdiri menggantikan peran candi sebagai pusat aktivitas sosial dan spiritual.
Tradisi selametan, tahlilan, dan wayang bernuansa Islam menjadi bentuk sinkretisme budaya yang khas.
Abad ke-17 menandai masuknya Tulungagung ke dalam kekuasaan Kesultanan Mataram.
Struktur pemerintahan kabupaten mulai terbentuk dengan penunjukan adipati sebagai wakil kerajaan.
Nilai tata krama Jawa Islam serta tradisi pesantren mengakar kuat hingga kini.
Era Kolonial dan Perubahan Nama
Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini dikenal dengan nama Ngowo.
Sistem tanam paksa diterapkan, memaksa rakyat menanam komoditas ekspor seperti tebu dan kopi.
Belanda membangun kanal irigasi, jalan raya, dan jembatan guna mendukung distribusi hasil bumi.
Namun di balik pembangunan itu, rakyat mengalami kerja paksa dan tekanan ekonomi.
Tahun 1901 menjadi tonggak penting dalam sejarah Tulungagung.
Nama Ngowo resmi diganti menjadi Tulungagung, yang berarti sumber air besar.
Perubahan ini mencerminkan identitas baru sekaligus reorganisasi administratif kolonial.
Perjuangan Kemerdekaan hingga Era Modern
Saat agresi militer Belanda 1948, wilayah selatan seperti Sendang dan Besuki menjadi basis gerilya pejuang republik.
Medan perbukitan dan hutan mendukung strategi perlawanan rakyat.
Pasca pengakuan kedaulatan 1949, Tulungagung mulai membangun struktur pemerintahan daerah yang lebih mapan.
Pemekaran kecamatan, pembangunan kantor bupati, sekolah rakyat, dan pasar tradisional menjadi fondasi awal kabupaten modern.
Era Orde Baru membawa percepatan pembangunan pertanian.
Tulungagung dikenal sebagai lumbung padi Jawa Timur.
Industri marmer di Campurdarat berkembang hingga tingkat nasional.
Kini, Tulungagung memadukan kemajuan ekonomi dengan pelestarian budaya.
Batik khas daerah, seni reog, serta festival budaya rutin digelar.
Sektor pariwisata, UMKM, dan industri kreatif terus tumbuh seiring digitalisasi ekonomi.
Baca Juga: Dinkes Tulungagung Observasi Dugaan Keracunan MBG di SDN 3 Bungur, Sementara Mengarah ke Lauk Ayam
Sejarah Tulungagung membuktikan bahwa daerah ini bukan hanya saksi perjalanan Nusantara, tetapi juga aktor penting dalam setiap fase perubahan.
Dari gua prasejarah hingga kabupaten modern, identitas Tulungagung tetap berakar kuat pada warisan budaya dan semangat gotong royong masyarakatnya.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina