Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tarawih Perdana Ramadan 1447 Hijriah di Tulungagung, Ratusan Jamaah Muhammadiyah Padati Masjid Al Fattah

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 18 Februari 2026 | 09:21 WIB
Warga Muhammadiyah Tulungagung mulai melaksanakan Tarawih perdana jelang Ramadan 2026 pada Selasa (17/2) malam.(SANDY YUWANA/RADAR TULUNAGGUNG)
Warga Muhammadiyah Tulungagung mulai melaksanakan Tarawih perdana jelang Ramadan 2026 pada Selasa (17/2) malam.(SANDY YUWANA/RADAR TULUNAGGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG – Suasana religius menyelimuti Tulungagung pada Selasa (17/2). Warga Muhammadiyah tampak khusyuk melaksanakan salat tarawih perdana sebagai penanda dimulainya Ramadan 1447 Hijriah.

Di waktu yang hampir bersamaan, umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa juga larut dalam doa-doa sembahyang menyambut Tahun Baru Imlek 2557.

Kedua momentum tersebut berlangsung penuh ketenangan, menghadirkan nuansa spiritual yang kuat sekaligus mencerminkan kehidupan masyarakat Tulungagung yang menjunjung tinggi toleransi dan keharmonisan antarumat beragama.

Warga Muhammadiyah mengawali Ramadan dengan salat tarawih perdana yang digelar di Masjid Al Fattah, Jalan Mayjen Suprapto, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, Selasa (17/2) malam.

Masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan ibadah warga Muhammadiyah di Tulungagung tersebut dipenuhi ratusan jemaah yang datang sejak selepas salat Isya.

Mereka mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.

Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Abu Syaibah Bustomi, yang juga imam tetap Masjid Al Fattah, menyampaikan rasa syukur karena kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan.

Menurutnya, Ramadan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak amal ibadah.

“Malam ini (tadi malam) kita melaksanakan tarawih pertama, dan besok mulai puasa pertama menurut perhitungan hisab yang diyakini Muhammadiyah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi.

Metode tersebut telah digunakan secara konsisten dan memiliki dasar ilmiah yang kuat serta dapat dipertanggungjawabkan secara syariat.

“Kalau gerhana saja bisa dihitung hingga detik untuk seratus tahun ke depan, tentu menentukan awal Ramadan juga bisa dihitung. Ini berdasarkan hisab yang sudah lama menjadi pedoman Muhammadiyah,” jelasnya.

Abu Syaibah juga menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal puasa merupakan hal yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan.

Menurutnya, perbedaan tersebut bukanlah perbedaan akidah, melainkan perbedaan metode dalam menjalankan ibadah.

“Kita tidak saling menyalahkan. Perbedaan ini adalah rahmat. Prinsipnya toleransi dalam beragama, saling menghargai dan menghormati,” tegasnya.

Masjid Al Fattah memiliki kapasitas hingga sekitar 1.300 jamaah jika lantai satu dan dua terisi penuh.

Pada malam pertama tarawih, jumlah jamaah diperkirakan mencapai sekitar 400 orang. Biasanya, jumlah tersebut akan terus bertambah pada malam-malam berikutnya, terutama saat memasuki pertengahan hingga akhir Ramadan.

“Siapa pun umat Islam boleh beribadah di sini. Kami tidak membedakan. Yang penting nyaman dan khusyuk dalam beribadah,” tandasnya. (sri/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#tarawih #ramadan #puasa #muhammadiyah #masjid al fattah