RADAR TULUNGAGUNG - Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, lapak kembang setaman menjadi magnet tersendiri bagi warga yang hendak melakukan tradisi ziarah kubur.
Dari tradisi ini, tidak tanggung-tanggung, para penjual kembang setaman mengaku mengalami kenaikan penghasilan hingga 100 persen.
Sejak sepekan terakhir, denyut aktivitas di sekitar area pemakaman di Tulungagung meningkat tajam.
Warga datang berbondong-bondong bersama keluarga menenteng kantong berisi bunga setaman untuk ditaburkan di pusara sanak saudara.
Di balik tradisi Geren yang masih dipegang erat masyarakat Tulungagung, ada berkah yang dirasakan oleh para penjual kembang setaman untuk para peziarah.
Dini, 36, seorang warga Kelurahan Kepatihan, merasakan betul berkah musiman tersebut.
Perempuan yang sudah bertahun-tahun berjualan bunga setaman di depan makam kelurahan setempat itu mengaku penjualannya melonjak drastis ketika menjelang Ramadan seperti ini.
“Naiknya sampai 100 persen. Ini karena tradisi Geren yang dilakukan warga,” ujarnya.
Dalam sehari, Dini bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 500 ribu. Setiap bungkus kembang setaman dia jual seharga Rp 5 ribu.
Isinya campuran kembang kenanga, mawar, dan bunga boreh, lengkap dengan minyak wangi kecil untuk menyempurnakan tradisi tabur bunga.
Menurutnya, momen Geren jelang Ramadan memang selalu menjadi masa panen rejeki.
Banyak warga memilih berziarah sebelum memasuki bulan puasa sebagai tradisi turun-temurun, bentuk penghormatan sekaligus mengirim doa kepada keluarga yang telah berpulang.
Hal serupa juga dirasakan Nurokhim, 42, penjual bunga setaman asal Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu.
Dia menyebut musim Geren selalu membawa berkah tersendiri setiap tahunnya.
“Tahun ini juga naik hampir dua kali lipat dibanding hari biasa,” ungkapnya.
Dia mengatakan, peningkatan pembeli tidak hanya terjadi pada akhir pekan, tetapi hampir setiap hari menjelang Ramadan. Bahkan, sejak pagi hingga sore, peziarah datang silih berganti.
Tradisi Geren bukan sekadar ritual tabur bunga. Bagi masyarakat Tulungagung, ziarah menjelang Ramadan menjadi momentum refleksi, menyambung doa, serta mengingat kembali akar keluarga sebelum memasuki bulan suci.
Di tengah geliat ekonomi kecil yang tumbuh musiman ini, para penjual kembang setaman berharap tradisi tersebut tetap lestari.
Sebab, selain menjaga nilai spiritual, juga menjadi sumber penghidupan yang memberi berkah tersendiri setiap tahunnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri