RADAR TULUNGAGUNG - Cuaca ekstrem sepekan belakangan membuat tangkapan nelayan pesisir selatan Tulungagung merosot.
Bahkan, jumlah ikan yang berhasil didaratkan nelayan Popoh jauh berkurang dibanding biasanya.
Pagi itu, Sabtu (14/2), langit di pesisir selatan Tulungagung tampak mendung. Angin berembus kencang, ombak menggulung lebih tinggi dari biasanya.
Di area Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Popoh, suasana yang lazimnya riuh oleh teriakan juragan dan buruh angkut mendadak terasa lengang. Beberapa perahu bersandar tanpa banyak muatan.
Ember-ember ikan yang biasanya penuh, kini hanya terisi seperlunya. Padahal, potensi perikanan tangkap laut Tulungagung bukan kaleng-kaleng.
Dengan garis pantai kurang lebih 61 kilometer yang membentang di pesisir selatan, wilayah ini menghadap langsung ke Samudra Hindia yang merupakan jalur migrasi ikanikan bernilai ekonomi tinggi.
Tengiri, tuna, cakalang, layur, tongkol, hingga cumi-cumi menjadi komoditas andalan yang selama ini menopang dapur ribuan keluarga nelayan. Namun, sepekan terakhir cerita itu berubah.
“Sudah satu minggu ini ikan lagi sepi,” ujar Sumijan, 60, nelayan Pantai Popoh, sembari memandangi laut.
Biasanya, kata dia, satu kapal kecil bisa membawa pulang hingga empat ton ikan dalam sehari.
“Paling tinggal sekitar dua kuintal. Bahkan dari biasanya puluhan unit perahu berangkat mencari ikan, hari ini hanya tinggal dua unit kapal yang berangkat,” katanya lirih.
Rudianto, 58, rekan sesama nelayan, mengangguk pelan. Hasil tangkapan memang masih beragam, tetapi jumlahnya jauh dari kata normal.
“Beberapa hari belakangan paling banyak layur. Tadi juga dapat beberapa ikan pari yang cukup besar. Tapi tetap saja tidak seperti biasanya,” ucapnya.
Penurunan hasil tangkap itu otomatis memukul penghasilan. Ikan tangkapan biasanya mereka jual di TPI atau sebagian lagi dikirim untuk memenuhi pesanan restoran di Tulungagung dan kota-kota sekitar.
Namun kini tak lagi melimpah. Aktivitas lelang pun lesu. Menurut para nelayan, cuaca ekstrem menjadi biang keroknya.
Hujan yang turun hampir setiap hari disertai angin kencang membuat mereka tak leluasa melaut. Selain berisiko tinggi, kondisi tersebut juga diyakini memengaruhi pergerakan ikan.
“Mungkin ikan-ikan sembunyi atau bermigrasi ke tempat yang lebih aman, ke laut yang lebih dalam,” ujar Rudianto.
Di tepi dermaga, Sumijan menatap perahu-perahu yang terombang-ambing pelan. Baginya, laut bukan sekadar hamparan air asin.
Di sanalah harapan digantungkan. Ketika ombak tak bersahabat, dapur pun ikut terancam redup.
Mereka hanya bisa berharap cuaca segera membaik agar jaring-jaring kembali berat saat ditarik. Agar TPI kembali riuh. Dan agar Pantai Popoh tak lagi menyuguhkan pemandangan perahu-perahu yang pulang dengan muatan seadanya.
Sebab, bagi nelayan di pesisir selatan Tulungagung, laut yang ramah berarti hidup yang kembali berjalan.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri