TULUNGAGUNG - Gunung Cilik Tulungagung menyimpan kisah panjang yang melegenda dalam babad daerah. Bukit kecil yang berada di Desa Bolo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung ini dikenal sebagai lokasi pemakaman Tionghoa. Namun di balik itu, Gunung Cilik Tulungagung dipercaya sebagai tempat pertapaan seorang resi wanita sakti yang kisahnya terkait erat dengan legenda Roro Kembangsore.
Dalam buku Tulungagung dalam Rangkaian Obyek Indonesia yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung tahun 2007, disebutkan bahwa di Gunung Cilik Tulungagung pernah bertapa seorang pendeta wanita bernama Resi Winadi. Ia bukan sekadar pertapa, melainkan juga empu pembuat pusaka sakti yang konon mampu merontokkan daun dan menumbangkan pohon beringin.
Tokoh Resi Winadi diyakini merupakan samaran dari Roro Kembangsore, putri cantik dari Kadipaten Betak. Gunung Cilik Tulungagung pun menjadi saksi pelarian, pertapaan, sekaligus akhir perjalanan hidup seorang wanita bangsawan yang didera fitnah dan tragedi cinta.
Baca Juga: OTT Bea Cukai, KPK Tetapkan 6 Tersangka Korupsi Impor dan Sita Rp40,5 Miliar, Bos PT Blu-ray Buron
Fitnah dan Gugurnya Pangeran Majapahit
Roro Kembangsore merupakan putri Pangeran Bedalem. Ia dituduh melakukan perbuatan asusila dengan Pangeran Lembupeteng, putra Raja Majapahit. Tuduhan itu dilontarkan oleh Pangeran Kalang, yang tak lain adalah pamannya sendiri.
Akibat fitnah tersebut, Pangeran Lembupeteng dibunuh oleh ayahnya sendiri. Sementara Roro Kembangsore berhasil meloloskan diri. Peristiwa ini menjadi titik balik hidupnya.
Baca Juga: Sengketa Warisan Sule vs Teddy Pardiana Memanas, Rizky Febian Siap Lapor Polisi Soal Dana Rp5 Miliar
Sebelum tragedi itu, kisah cinta Roro Kembangsore dan Pangeran Lembupeteng digambarkan begitu indah. Pertemuan mereka di taman Kadipaten Betak berujung pada benih asmara. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Skandal yang dihembuskan Pangeran Kalang memicu peperangan sengit antara Pangeran Bedalem dan Lembupeteng.
Dalam pelarian, pasangan muda itu sempat beristirahat di tepi sungai. Di sanalah Pangeran Lembupeteng akhirnya tewas dibunuh. Jenazahnya dibuang ke sungai, meninggalkan luka mendalam bagi Roro Kembangsore.
Pelarian ke Dadapan dan Asal-Usul Gunung Budeg
Roro Kembangsore terus melarikan diri hingga tiba di Desa Dadapan. Di sana ia bertemu Mbok Rondo Dadapan dan putranya, Joko Bodo. Kecantikan Roro membuat Joko Bodo jatuh hati dan berulang kali melamarnya.
Baca Juga: Kasus DJKA KPK: Sudewo Jadi Pintu Masuk, Nasib 18 Anggota DPR hingga Dugaan Budi Karya Disorot
Namun lamaran itu ditolak. Sebagai syarat, Roro meminta Joko Bodo menjalani tapa bisu di sebuah gunung. Saat Mbok Rondo memanggil anaknya yang tak menjawab karena sedang bertapa, ia mengumpat agar anaknya menjadi batu. Seketika petir menyambar dan Joko Bodo berubah menjadi batu.
Dari peristiwa inilah muncul nama Gunung Budeg, yang kini dikenal luas di Tulungagung sebagai gunung api purba di tengah kota. Legenda ini memperlihatkan keterkaitan erat antara Gunung Cilik Tulungagung dan Gunung Budeg dalam satu rangkaian kisah.
Resi Winadi dan Balas Dendam
Setelah peristiwa itu, Roro Kembangsore memilih bertapa di Gunung Cilik Tulungagung dengan menyamar sebagai Resi Winadi. Dalam pertapaannya, ia dikenal sakti dan memiliki pusaka ampuh.
Ketika Adipati Kalang mengetahui keberadaan Resi Winadi, ia tak menyangka bahwa pendeta wanita itu adalah keponakannya sendiri. Rasa takut dan malu membuatnya mencoba melarikan diri.
Dalam kisah babad, Adipati Kalang akhirnya tewas dalam pengejaran pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada. Tragedi ini seolah menjadi klimaks dari dendam dan luka panjang yang dialami Roro Kembangsore.
Roro Kembangsore sendiri disebut memilih bertapa hingga akhir hayatnya. Sosoknya menjadi simbol perempuan yang terluka namun tegar, sekaligus figur yang diselimuti aura mistis dan spiritual.
Baca Juga: KPK Bongkar Safe House Pegawai Bea Cukai, Diduga Simpan Uang dan Logam Mulia Terkait OTT Suap Impor
Warisan Sejarah dan Ziarah
Hingga kini, Gunung Cilik Tulungagung masih sering dikunjungi peziarah. Selain sebagai area pemakaman, tempat ini dipercaya sebagai bekas lokasi pertapaan Roro Kembangsore. Sebagian masyarakat datang untuk berdoa dan mengenang sejarahnya.
Kisah Resi Winadi dan Roro Kembangsore bukan sekadar legenda romantis. Cerita ini menjadi bagian dari identitas budaya Tulungagung yang diwariskan lintas generasi. Dari Gunung Cilik hingga Gunung Budeg, narasi babad tersebut membentuk mozaik sejarah lokal yang kaya akan nilai moral, spiritual, dan perjuangan.
Di tengah perkembangan zaman, Gunung Cilik Tulungagung tetap berdiri sebagai penanda sejarah. Sebuah bukit kecil dengan cerita besar tentang cinta, pengkhianatan, kesaktian, dan takdir yang tak pernah sederhana.
Editor : Dyah Wulandari