TULUNGAGUNG - Mitos Telaga Buret kembali digaungkan di tengah ancaman krisis air akibat rusaknya hutan di selatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Di balik julukan Tulungagung sebagai Kota Marmer, ada cerita tentang bagaimana kearifan lokal dan ritual tradisi dihidupkan lagi demi menjaga sumber mata air yang menghidupi ratusan hektare sawah warga.
Sebagaimana diketahui, Tulungagung dikenal sebagai sentra industri marmer sejak era Hindia Belanda sekitar 1934. Aktivitas tambang batu alam yang berkembang pesat, termasuk industri rumahan, perlahan menggantikan kawasan hutan lebat di wilayah Kecamatan Campurdarat. Dampaknya, debit air di kawasan tersebut menurun drastis.
Padahal, kawasan Telaga Buret menjadi penopang utama irigasi sekitar 700 hektare sawah di empat desa. Saat musim kemarau tiba, warga kerap kewalahan membagi air untuk lahan pertanian. Kekhawatiran makin memuncak ketika terjadi pembalakan liar yang memperparah kerusakan daerah tangkapan air.
Hutan Rusak, Debit Air Menyusut
Kerusakan hutan akibat penambangan dan pembalakan liar berdampak langsung pada berkurangnya sumber air. Warga yang bergantung pada irigasi Telaga Buret mulai merasakan ancaman krisis air bersih dan pertanian.
Kondisi tersebut mendorong seorang aktivis lingkungan, Karsinero, untuk bergerak. Sejak 1998, ia bersama komunitas HAMPA (Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya) melakukan upaya reboisasi di kawasan hutan sekitar telaga. Namun pendekatan yang dipilih tidak semata-mata lewat aksi tanam pohon.
Baca Juga: OTT Bea Cukai, KPK Tetapkan 6 Tersangka Korupsi Impor dan Sita Rp40,5 Miliar, Bos PT Blu-ray Buron
Ia justru menghidupkan kembali mitos Telaga Buret yang sempat memudar tergerus modernisasi.
“Kalau generasi sekarang sudah tidak takut lagi, maka rasa hormat pada alam ikut hilang,” menjadi pemahaman yang mendasari langkah tersebut.
Menguatkan Mitos demi Konservasi
Beragam cara dilakukan untuk menguatkan kesan sakral di kawasan Telaga Buret. Mulai dari ritual membakar dupa atau kemenyan, hingga menabur bunga di pohon-pohon besar sekitar telaga. Tujuannya sederhana: membangun kembali kesadaran kolektif bahwa kawasan itu keramat dan harus dijaga.
Baca Juga: KPK Bongkar Safe House Pegawai Bea Cukai, Diduga Simpan Uang dan Logam Mulia Terkait OTT Suap Impor
Pendekatan berbasis kearifan lokal ini dinilai efektif. Warga yang sebelumnya abai mulai li menghormati kawasan telaga. Aktivitas perusakan hutan berangsur berkurang.
Mitos Telaga Buret sendiri berakar dari kisah seorang punggawa Majapahit bernama Jigan Jaya. Dalam cerita turun-temurun, ia menemukan sumber mata air di kawasan tersebut dan berpesan agar air itu dijaga demi anak cucu kelak.
Pesan tersebut kemudian melahirkan tradisi tahunan “Ulur-Ulur”, sebuah ritual doa bersama sebagai bentuk syukur atas limpahan air. Warga membawa berbagai hasil bumi dan makanan, lalu berdoa memohon keberkahan serta kelestarian sumber air.
Tradisi ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga pengingat bahwa lingkungan bukan warisan leluhur, melainkan titipan untuk generasi mendatang.
Raih Penghargaan Kalpataru
Konsistensi menjaga kelestarian Telaga Buret membuahkan hasil. Pada 2018, Karsinero menerima penghargaan Kalpataru dari pemerintah atas dedikasinya dalam pelestarian lingkungan.
Selain itu, kelompok HAMPA juga dipercaya mengelola lahan hutan seluas 22,8 hektare oleh Perum Perhutani. Mereka tidak hanya melakukan penanaman kembali, tetapi juga advokasi terkait aturan pengelolaan daerah tangkapan air.
Upaya tersebut menjadi bukti bahwa konservasi lingkungan tidak selalu harus mengandalkan pendekatan modern berbasis teknologi. Nilai budaya dan mitos lokal dapat menjadi instrumen sosial yang kuat dalam menjaga keseimbangan alam.
Kini, Telaga Buret tak sekadar menjadi destinasi wisata alam di Tulungagung. Ia menjelma simbol harmonisasi antara manusia dan lingkungan. Di tengah gempuran industri marmer dan ekspansi lahan, kawasan ini tetap bertahan berkat kombinasi reboisasi dan revitalisasi tradisi.
Baca Juga: Kejaksaan Agung Tetapkan 11 Tersangka Rekayasa Ekspor CPO, Libatkan Pejabat Bea Cukai dan Kemenperin
Kisah ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Tanpa hutan dan sumber air yang terjaga, julukan Kota Marmer bisa jadi tak lagi berarti ketika sawah-sawah mengering.
Mitos Telaga Buret membuktikan, kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bisa menjadi benteng nyata melawan krisis ekologis di era modern.
Editor : Dyah Wulandari