TULUNGAGUNG - Candi Dadi Tulungagung menjadi salah satu peninggalan bersejarah era Majapahit yang menyimpan kisah unik sekaligus misterius. Berada di Dusun Mojo, Desa Wajak, Kecamatan Boyolangu, bangunan kuno ini diyakini berasal dari akhir abad ke-14 hingga akhir abad ke-15, masa-masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit.
Candi Dadi Tulungagung disebut sebagai hasil karya masyarakat Majapahit yang menganut agama Hindu-Buddha. Pada periode tersebut, situasi politik di lingkungan kerajaan tengah dilanda gejolak setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk. Pertikaian internal dan perebutan kekuasaan membuat kehidupan sosial dan keagamaan mengalami masa suram. Dalam kondisi itu, pemeluk Hindu-Buddha tetap berupaya menjalankan keyakinannya, termasuk melalui pembangunan tempat suci.
Secara arsitektur, Candi Dadi Tulungagung memiliki bentuk yang cukup unik dibanding candi-candi lain di Jawa Timur. Bangunan ini merupakan candi tunggal tanpa tangga masuk, tanpa arca, serta minim hiasan. Denahnya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 14 meter x 14 meter.
Baca Juga: Smurfing hingga Perusahaan Cangkang, Ini Modus Pencucian Uang yang Sering Terjadi di Indonesia
Struktur Bangunan yang Unik
Candi ini tersusun dari batuan andesit dan terdiri atas bagian batur serta kaki candi. Bagian atas batur membentuk kaki candi berdenah segi delapan. Pada permukaannya terlihat bekas struktur tembok berpenampang bulat yang diduga berfungsi sebagai sumuran.
Keunikan lainnya, tidak ditemukan arca atau relief yang lazim menghiasi bangunan suci pada masa Majapahit. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Candi Dadi Tulungagung memiliki fungsi khusus, kemungkinan sebagai tempat pertapaan atau ritual tertentu.
Dalam kajian sejarah, periode pembangunan candi ini bertepatan dengan masa akhir pemerintahan Hayam Wuruk dan melemahnya pengaruh Kerajaan Majapahit. Ketidakstabilan politik saat itu diyakini berdampak pada perubahan pola pembangunan tempat ibadah.
Legenda Candi Urung dan Kutukan
Di balik bentuknya yang sederhana, Candi Dadi Tulungagung menyimpan legenda yang masih hidup di tengah masyarakat. Konon, asal-usul candi ini berkaitan dengan kisah seorang pangeran yang melamar putri dari Dusun Kedungjalin.
Baca Juga: Apa Itu Money Laundering? Modus, Tahapan, hingga Dampak Pencucian Uang yang Rugikan Ekonomi Dunia
Sang putri bersedia menerima lamaran dengan syarat sang pangeran harus membangun empat candi dalam satu malam. Pangeran pun menyanggupi dan mulai membangun candi dengan bantuan kekuatan gaib.
Namun, ketika tiga candi hampir selesai dan waktu masih tersisa, sang putri yang sebenarnya ingin menolak lamaran itu mencari cara untuk menggagalkan syarat tersebut. Ia meminta warga desa menyembunyikan suara lesung agar suasana menyerupai pagi hari.
Mendengar suasana yang dikira telah fajar, sang pangeran menghentikan pekerjaannya. Padahal, candi keempat belum rampung. Karena tidak selesai, bangunan itu disebut “Candi Urung”. Dalam bahasa Jawa, “urung” berarti belum jadi.
Marah karena merasa ditipu, sang pangeran dikisahkan mengutuk para perempuan di desa tersebut agar sulit mendapatkan jodoh hingga usia tua. Kisah ini berkembang turun-temurun dan menjadi bagian dari folklor masyarakat sekitar.
Nama dan Makna Simbolik
Selain dikenal sebagai Candi Urung, masyarakat juga menyebutnya Candi Dadi atau Lingga Kembali. Penamaan tersebut diyakini berkaitan dengan keberadaan lingga di kawasan itu yang melambangkan kesuburan laki-laki dalam ajaran Hindu.
Konon, dahulu di atas bangunan candi terdapat arca besar yang kini sudah tidak terlihat lagi. Hal ini semakin menambah aura misterius pada situs bersejarah tersebut.
Editor : Dyah Wulandari